Breaking News:

Berita Ngada

Dua Bendahara Desa Lanaimai 1 di Kabupaten Ngada Ditetapkan Sebagai Tersangka

-Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngada akhirnya menetapkan dua bendahara Desa Lanaimai 1 di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten N

Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
 Kasi Intel Kejari Ngada, Gozwatuddien, SH MH. 

Dua Bendahara Desa Lanaimai 1 di Kabupaten Ngada Ditetapkan Sebagai Tersangka

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | BAJAWA-Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngada akhirnya menetapkan dua bendahara Desa Lanaimai 1 di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada sebagai tersangka dalam dugaan kasus penyalahgunaan dana desa dan ADD di desa tersebut.

Kedua bendahara yang ditetapkan sebagai tersangka itu berinisial YZ yang menjabat sebagai bendahara Desa Lanamai 1 tahun anggaran 2017, dan VR yang menjabat sebagai bendahara desa tahun anggaran 2018.

Penetapan tersangka dilakukan setelah Kejari Ngada melakukan penyelidikan terhadap pengelolaan dana desa Lanamai 1 untuk tahun anggaran 2017 dan 2018. Dari hasil penyelidikan, kerugian negara yang ditimbulkan diperkiraan mencapai Rp. 300 juta lebih.

Kasie Intel Kejari Ngada, Gozwa mengatakan hal tersebut kepada Pos Kupang saat ditemui di ruang kerjannya, Jumat 16 Juli 2021.

Baca juga: Sambut Hari Pelanggan Nasional, BPJAMSOSTEK Gelar Lomba Video Pendek Jaminan Perlindunganku

Gozwa mengatakan, dugaan penyalahgunaan dana desa di Desa Lanamai 1 bergulir di Kejari Ngada bermula ketika pihkanya mendapat informasi dari warga setempat.

Atas pengaduan dari warga tersebut, pihaknya langsung turun melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan, penyidik Kejari Ngada menemukan adanya perbuatan melawan hukum dan menetapkan dua tersangka yang berstatus sebagai bendahara di desa tersebut.

"Setelah kami telusuri dan berdasarkan LHP dari inspektorat, maka kami tingkatkan status hukum menjadi penyidikan," ungkapnya.

Gozwa mengatakan, dalam penyidikan kasus korupsi tersebut, pihaknya hampir merampungkan berkas untuk ditingkatkan ke tahap penuntutan, karena nilai kerugian yang diperkirakan mencapai Rp. 300 juta lebih.

Sementara itu, Kasie Pidsus Kejari Ngada, Edi Sulistio Utomo menjelaskan, modus operandi yang dilakukan kedua tersangka dalam dugaan kasus tersebut yakni tidak menyelesaikan pekerjaan fisik sampai dengan seratus persen dan tidak memungut pajak untuk disetorkan kepada negara.

"Contohnya dalam pelaksanaan pengerjaan rabat beton, pekerjaan tersebut tidak dilaksanakan sampai dengan 100 persen, kemudian dalam laporan seolah-olah dibuat 100 persen. Selain itu ada pajak yang tidak dipungut untuk disetorkan kepada negara," jelasnya.

Edi menegaskan, untuk sementara ini, pihaknya baru menetapkan dua bendahara Desa Lanamai 1 sebagai tersangka, sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain dalam dugaan kasus yang sama.

"Jadi tidak menutup kemungkinan dari pengembangan penyidikan kami, akan ada tersangka lain. Kami masih mendalami keterlibatannya (kades, red) dalam kasus ini. Nanti kalau kami temukan dia terlibat, maka akan ditetapkan sebagai tersangka," tegasnya. (mm)

Berita Ngada Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved