Ratu Azia Borromeu Gelar Upacara Peringatan Hari Integrasi di Kabupaten Belu
ia kurang mendapat perhatikan dari pemerintah Indonesia sehingga terpaksa ia tinggal di tenda darurat.
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Rosalina Woso
Ratu Azia Borromeu Gelar Upacara Peringatan Hari Integrasi di Kabupaten Belu
Laporan Reporter POS KUPANG. COM, Teni Jenahas
POS KUPANG. COM, ATAMBUA--Ratu Azia Borromeu, anak dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo berencana menggelar upacara peringatan Hari Integrasi setiap tanggal 17 setiap tahunnya.
Upacara sederhana akan dilaksanakan di tempat tinggalnya di Maktaen, Desa Rimbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Sabtu 17 Juli 2021.
Kepada Pos Kupang. Com, Kamis 15 Juli 2021, Ratu Azia Borromeu mengungkapkan, sebagai penerus
Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo, dirinya bersama rakyat kerajaan Alas tak akan melupakan sejarah.
Ia selalu memperingati kembali sejarah perjuangan dari para tokoh integrasi.
Dalam rangka itu, Azia Borromeu yang dikenal sebagai Ratu Alas ini mengundang sejumlah pejabat baik di Kabupaten Belu maupun di tingkat pusat.
Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Belu Bertambah
"Saya tahu sekarang sedang darurat PPKM tapi undangan tetap saya keluarkan karena sudah dicetak lama. Walaupun tidak ada upacara bendera karena covid, tapi rakyat kerjaan Alas yang ada di tenda darurat Ratu Azia tetap berdoa dan mengenang hari besar sejarah integrasi", jelas Ratu Alas.
Kata dia, undangan juga diberikan kepada Bupati Belu dan sudah diterima walaupun ia sempat kesal karena tidak bisa bertemu dengan Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin.
Ia mengharapkan, walaupun tidak bertemu tapi Bupati bisa menghargai undangannya.
"Saya menghormati dan menghargai maka saya undang Bupati. Jika karena alasan PPKM tidak bisa hadir yah tidak apa-apa. Saya sebagai penerus raja Alas tetap mengenang 17 Juli sebagai hari Integrasi dan sebagai anak saya mengenang juga 17 Juli adalah hari meninggalnya mama saya", ucap Ratu Alas.
Lebih lanjut, Ratu Alas mengaku, selama 22 tahun, ia kurang mendapat perhatikan dari pemerintah Indonesia sehingga terpaksa ia tinggal di tenda darurat.
Baca juga: Doa dan Niat Berkurban Bisa Diucapkan Sebelum Penyembelihan Hewan Kurban
Bila dilihat dari sejarah yang juga diakui negara Indonesia, peran orang tuanya sangat besar dan berpengaruh bagi negera Indonesia.
Karena ayahnya adalah pejuang integrasi dan tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo yang membawahi 13 kabupaten.
Sudah banyak kali ia berjuang agar bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah Indonesia namun sampai saat ini belum terwujud.
Dengan semangat nasionalisme, Ratu Alas rela tinggal di tenda darurat dan terus berjuang dengan caranya sendiri termasuk memperingati hari sejarah Integrasi yang mungkin bagi kalangan banyak orang sudah dilupakan.
Ia berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan perhatiaan kepada dirinya sebagai pewaris raja Alexandrino Borromeu. (*).
Berita Kabupaten Belu Terkini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ratu-azia-borromeu.jpg)