Breaking News:

Opini Pos Kupang

Selayang Pandang Tentang Biboki-TTU, Nekaf Mese, Ansaof Mese: Sebuah Tinjauan Sosio-Kultural (1)

Selayang Pandang Tentang Biboki-TTU, Nekaf Mese, Ansaof Mese: Sebuah Tinjauan Sosio-Kultural (1)

Editor: Kanis Jehola
Selayang Pandang Tentang Biboki-TTU, Nekaf Mese, Ansaof Mese: Sebuah Tinjauan Sosio-Kultural (1)
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Selayang Pandang Tentang Biboki-TTU, Nekaf Mese, Ansaof Mese: Sebuah Tinjauan Sosio-Kultural (1)

Oleh : RD. Mikhael Valens Boy, Fakultas Filsafat Unwira, Penfui

POS-KUPANG.COM - Pengenalan akan adat istiadat dan kebudayaan `purba' dari sebuah masyarakat tradisional membantu masyarakat modern menemukan dan mengenal `akar-akar' filosofi hidupnya sendiri. Toh, manusia jaman dahululah yang `melahirkan' manusia jaman sekarang.

Ada banyak pola berpikir dan bertindak manusia modern yang sesungguhnya berakar pada budaya dan peradaban yang telah dihayati oleh leluhur-leluhurnya dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Ada satu fenomen sosial-politik yang cukup menarik dari masyarakat Biboki di Timor Tengah Utara. Dalam setiap Pilkada dimana orangnya dilibatkan, fenomen `nekaf mese, ansaof mese', yaitu fenomen persatuan dan persaudaraan yang iklas serta kebulatan tekad untuk memenangkan orangnya sangat tinggi pada semua lapisan dan strata masyarakat Biboki.

Baca juga: Janji Tinggal Janji Belum Ada Realisasi

Baca juga: BREAKING NEWS: Jatanras Polres Manggarai Ciduk Pencuri Handphone di Mes Masjid Almunin Nanga Paang

Mengapa? Untuk menjawab fenomen ini, izinkan saya melakukan satu tinjauan akan `masa lampau' Biboki yang tetap terpelihara sebagai `api kehidupan' bagi kebanyakan masyarakatnya hingga hari ini. Saya ingin menghadirkan kembali `roh dan jiwa' masyarakat tradisional Biboki, yang menjadi `prinsip dan kekuatan' manusia Biboki jaman sekarang.

Analisis ini juga didasarkan pada Skripsi Sarjana Muda saya di STF/TK Ledalero, Flores (1983) dengan judul: `Sistem Politik Orang Biboki-Timor'. Skripsi saya ini diinspirasikan pula oleh karya H.G. Schulte Nordholt, yang berjudul, `The Political System Of Atoni Of Timor', atau dalam bahasa aslinya, Belanda: `Het Politieke Systeem Van de Atoni Van Timor' (1966).

Biboki, Sebuah Kerajaan 'Bufferzone'

Sebelum ketibaan bangsa Portugis di abad XV dan Belanda di abad XVII di pulau Timor, sudah terdapat satu Kerajaan tradisional di pusaran pulau Timor yang bernama BIBOKI. Kata `Biboki' terkomposisi dari dua kata, yaitu preposisi `Bi' yang berarti `Di', dan kata benda `Boki' artinya `Penyangga', `Penyeimbang'.

Baca juga: Sopir Taksi Online Perempuan Ini Dibunuh, Mayatnya Dibuang ke Jurang, Pelaku Sindikat Curanmor

Baca juga: Hasil EURO 2020 - Belanda vs Ukraina Lambat Panas, Tapi Akhirnya Bikin Sejarah Baru di Piala Eropa

Menurut Schulte Nordholt, Kerajaan Biboki adalah Kerajaan `Bufferzone', yaitu Kerajaan Penyangga, Penyeimbang. Ada beberapa alasan mengapa Kerajaan Biboki dikatakan demikian.

Pertama, secara geografis tanah Biboki bersama dengan tanah Belu sungguh-sungguh terletak pada `pinggang' dari Pulau Timor, yaitu di tengah-tengah pulau Timor.
Kedua, Kerajaan Biboki berada persis pada pusaran dari dua wilayah territorial-kultural yang besar, yaitu Belu-Tetun dan TTU hingga Kupang, yang Dawan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved