Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Jumat 11 Juni 2021, Pesta Hati Yesus Yang Mahakudus: Pembawa Rahmat

Sabat di ambang pintu. Tinggal sesaat lagi sebelum matahari terbenam. Taurat mengharuskan pengambilan mayat dari salib pada hari kematian

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Jumat 11 Juni 2021, Pesta Hati Yesus Yang Mahakudus: Pembawa Rahmat (Yoh 19: 31-37)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Sabat di ambang pintu. Tinggal sesaat lagi sebelum matahari terbenam. Taurat mengharuskan pengambilan mayat dari salib pada hari kematian (Ul. 21:22, 23). Mengabaikan hukum ini pada hari Paskah, identik dengan pelanggaran amat berat pada hari Sabat.

Pematahan tulang para penyamun bertujuan mempercepat kematian. Prajurit melihat bahwa kematian telah merampas kesenangan mereka untuk mematahkan kaki Yesus. Maka mereka menusuk lambung Sang Juruselamat. Mengalirlah darah dan air. Hal ini sangat masuk akal jika terjadi tidak lama sesudah kematian.

Yohanes menganggap peristiwa ini sangat penting sehingga mencatatnya dengan serius. Kematian Juruselamat berarti aliran yang memberi hidup: darah membersihkan dosa dan air melambangkan kehidupan yang baru di dalam Roh (1Yoh 5:6-8).

Darah merupakan elemen tubuh yang sangat penting. Tradisi Yahudi meyakini, darah adalah “nyawa segala makhluk” (Im 17: 14). Umat Israel kuno mengalami sendiri bahwa darah merupakan tanda keselamatan dari Allah (Kel 12: 7). Darah menjadi tanda kesetiaan Allah pada janji-Nya untuk menyelamatkan umat Israel (Kel 24: 6-8).

Bagi orang Kristen, penghormatan kepada Darah Kristus berakar pada diri Yesus. Dalam Perjamuan Akhir, Ia menyerahkan diri bagi para murid dalam wujud piala Darah-Nya. Perjanjian yang membawa keselamatan. “Terimalah dan minumlah. Inilah Piala Darah-Ku, Darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampuan dosa.”

Brant Pitre menulis dalam Jesus and the Last Supper bahwa dalam Perjamuan Akhir, Yesus mengidentikkan anggur dengan Darah-Nya, yaitu sebagai darah perjanjian (Mat 26: 27-28; Mrk 14: 23-24; Luk 22: 20; 1Kor 11: 25). Yesus sendiri menjadi kepenuhan makna simbol darah dalam Perjanjian Lama.

Darah Yesus adalah meterai janji Allah untuk menyelamatkan manusia. Yesus berbicara tentang Darah Perjanjian dalam suasana perjamuan. Hal ini mengingatkan kita akan darah hewan kurban yang dipersembahkan oleh Musa, yang memuncak pada perjamuan bersama para tua-tua Israel (Kel 24: 11).

Dulu Musa mengambil darah hewan kurban, menumpahkannya pada mezbah serta dipercikkan kepada orang Israel, sebagai ungkapan penetapan perjanjian (Kel 24: 6). Kini Yesus menumpahkan Darah-Nya sebagai wujud totalitas kasih Allah.

Penyerahan diri Yesus dalam Perjamuan Akhir itu memuncak pada pemberian diri-Nya di salib. Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa (Yoh 19: 30).

Dalam Injil Yohanes dilukiskan bahwa setelah Yesus mati, seorang prajurit menikam lambung-Nya dengan tombak, dan “segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh 19: 34). Menyerahkan nyawa berarti menyerahkan Roh yaitu seluruh diri dan hidup. Setelah menyelesaikan perutusan-Nya di dunia, Yesus tidak mengklaim itu sebagai keberhasilan-Nya. Lambung-Nya tertusuk, mengalirkan darah dan air.

Itulah tanda totalitas persembahan diri-Nya kepada Bapa demi keselamatan manusia. Hati Yesus yang lemah lembut mengalirkan kehidupan kekal bagi manusia (Mat 11: 29).

Penginjil Yohanes menekankan bahwa dari lambung Yesus yang mati di salib mengalir keluar sumber kehidupan: air dan darah (Yoh 19:34-36). Adegan ini menegaskan bahwa Yesus mati sungguh sebagai manusia. Namun maut bukan akhir dari segalanya. Kematian-Nya merupakan persembahan yang hidup bagi para pengikut-Nya.

Kematian Yesus tampak sebagai sebuah paradoks, sebab oleh kematian-Nya mengalirlah kehidupan baru, bahkan yang kekal. Kematian Yesus merupakan ungkapan kemenangan hidup atas maut. Darah Yesus adalah harga keselamatan kita (Ef 1: 7); sebuah tebusan yang murni, karena mengalir dari Anak Domba yang tak bernoda (1 Ptr 1: 18-19); totalitas kasih laksana kurban yang harum bagi Allah (Ef 5: 2).

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved