Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Rabu 2 Juni 2021: SESAT PIKIR

Berikut, kisah fiktif ciptaan orang-orang Saduki. Ada seorang janda yang dikawini oleh delapan saudara almarhum suaminya, sesuai dengan peraturan Musa

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Rabu 2 Juni 2021: SESAT PIKIR (Markus 12:18-27)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - "Ada baiknya kalau kita menghentikan semua perdebatan. Sebuah pepatah terkenal dari Timur mengatakan: "Dia yang tahu, tidak berbicara; dia yang berbicara, tidak tahu". Boleh jadi kedengarannya sangat mendalam, sampai Anda menyadari bahwa siapa pun yang mengatakan itu, dia tidak tahu". Demikian Ajahn Brahm bicara tentang ilmu hening.

Berikut, kisah fiktif ciptaan orang-orang Saduki. Ada seorang janda yang dikawini oleh delapan saudara almarhum suaminya, sesuai dengan peraturan Musa. Tetapi tidak seorang pun dari mereka berhasil dalam tugasnya. Perempuan itu tetap tidak memperoleh keturunan.

Dengan cerita fiktif ini, mereka, orang-orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan, lalu bertanya untuk menguji dan ingin menjerat Yesus, "Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia" (Mrk 12:23).

Yesus menanggapi delegasi Saduki itu dengan nada amat keras, "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah" (Mrk 12:24). Yesus berkata demikian, bukan karena kelompok itu menghadapkan kepada-Nya sebuah kisah fiktif, lucu, dan tidak masuk akal, melainkan karena mereka "sesat pikir" akibat tidak mengerti Kitab Suci dan tidak mengerti kuasa Allah. Di manakah letak "sesat pikir" orang-orang Saduki?

Dalam kitab Ulangan memang termuat suatu peraturan yang dituliskan Musa untuk segenap bangsa Yahudi. Bahwa kalau orang-orang yang bersaudara tinggal bersama, lalu salah seorang dari mereka mati tanpa meninggalkan anak laki-laki, maka jandanya tak boleh kawin dengan orang lain di luar keluarga mendiang suaminya. Saudara almarhum wajib kawin dengan janda itu. Anak laki-laki sulung mereka harus dianggap anak saudara yang mati itu, supaya ia mempunyai keturunan di antara bangsa Israel (bdk. Ul 25:5-6).

Tapi peraturan itu tak ada kaitannya dengan kebangkitan. Peraturan Musa itu menggariskan tentang pentingnya nama keluarga dan nama itu harus langgeng dengan hadirnya keturunan. Nama tertentu jangan hilang begitu saja. Demi mempertahankan nama yang nampaknya dapat menghilang, salah seorang anggota keluarga harus berkorban.

'Sesat pikir' lantaran mengaitkan peraturan Musa dengan kebangkitan, berlanjut dengan 'sesat pikir' tentang kuasa Allah.

Orang-orang Saduki berkeyakinan bahwa tidak ada kebangkitan. Dengan matinya manusia, berakhir pula hidup manusia. Itu berarti, dengan sendirinya Allah pun tidak ada urusan lagi dengan yang mati itu.

Kalau begitu, untuk apa Allah menciptakan manusia? Untuk mematikannya kelak? Bukankah karena kuasa Allah yang penuh kasih, maka Ia tetap memelihara setiap manusia, termasuk semua orang yang sudah mati secara fisik? Allah malah mengaruniakan hidup yang jauh lebih sempurna kepada mereka. "Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup" (Mrk 12:27a). Bukankah Allah menciptakan manusia agar terwujud suatu persekutuan kasih abadi antara Dia dengan manusia?

Kisah tentang "sesat pikir"-nya orang Saduki yang dinarasikan kembali oleh penginjil Markus untuk kita zaman now, sungguh relevan dengan kenyataan konkret yang kita hadapi.

Setiap tanggal 1 Juni kita peringati hari lahirnya Pancasila. Sila pertama berbunyi, "Ketuhanan Yang Maha Esa". Dikatakan Allah itu esa. Kita menguraikannya dalam butir-butir sila pertama. Malah kita buat kajian filosofis tentangnya. Tapi hakikat keesaan Allah itu tetaplah misteri bagi kita. Kita tak mungkin bisa menerangkan apa arti keesaan Allah itu. Apalagi, Allah itu sesungguhnya bukan esa, melainkan Maha Esa. Dapatkah kita bisa menerobos masuk ke dalam kemahaesaan Allah?

Selain itu, kita mengalami nyata bahwa ada orang yang dengan pongahnya berkata bahwa kita orang Kristen tidak mungkin masuk surga. Juga ada orang yang seakan menggugat kita bahwa Allah tidak mungkin satu dan sekaligus berpribadi tiga. Masa Allah ber-anak, ber-putera?

Berhadapan dengan kenyataan macam begini, kita tak perlu goyah. "Sesat pikir"-nya mereka terjadi karena tak dilandasi kesadaran akan kemahabesaran Allah. Allah sungguh lain dari manusia. Allah tak bisa digarap tuntas oleh otak dan akal manusia yang sempit dan terbatas. Kalau Allah bisa dimengerti dan diterangkan seluruhnya, maka Ia tentu bukan Allah lagi.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved