Jumat, 24 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Minggu 23 Mei 2021, Hari Raya Pentakosta: Suara (Roh) Kebenaran

Hari ini umat Kristiani merayakan Pentakosta. Peringatan Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul dua ribu lebih tahun silam.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Minggu 23 Mei 2021, Hari Raya Pentakosta: Suara (Roh) Kebenaran (Yoh 15:26-27; 16: 12-15)

POS-KUPANG.COM - Hari ini umat Kristiani merayakan Pentakosta. Peringatan Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul dua ribu lebih tahun silam.

Secara etimologis, Pentakosta berasal dari Bahasa Yunani yang berarti hari kelima puluh. Pentakosta dirayakan lima puluh hari setelah Yesus bangkit (Paska).

Yesus telah menjanjikan turunnya Roh Kudus kepada para rasul saat perjamuan malam terakhir. Kristus menjanjikan Roh Kudus untuk meneguhkan iman para rasul ditangkap, dianiaya dan disalibkan. Peristiwa tragis ini pasti menakutkan. Maka Roh Kudus menjadi sumber harapan di dalam penderitaan karena mengemban misi Kristus di tengah dunia.

Yesus menyebut Roh Kudus sebagai penolong. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14: 16-17).

Rentang waktu lima puluh hari pasca kebangkitan Tuhan, seluruh Yerusalem diliputi ketakutan mencekam. Berita kebangkitan simpang siur. Para rasul mewartakan kebangkitan Yesus. Tokoh-tokoh agama dan kekuasaan politik menyebar isu bahwa jenazah Yesus dicuri malam-malam oleh para rasul saat penjaga makam tertidur (Mat 28:11-15).

Para rasul dan orang-orang yang percaya kepada Yesus, meski secara diam-diam, larut dalam ketakutan masif. Yesus yang dipercaya sebagai Mesias yang dinantikan untuk mengubah lanskap kekuasaan sosial-politik bangsa Yahudi saja tidak berdaya di hadapan drama pengadilan Pilatus penuh rekayasa dengan sponsor utama tokoh-tokoh agama dan para ahli kitab suci.

Tuhan tampak seperti penjahat jalanan, diseret tangan para serdadu dengan hujaman cemeti berujung duri merobek tubuh-Nya yang kudus, berdarah-darah sepanjang perjalanan salib dari istana Pilatus hingga puncak Kalvari. Fakta derita Tuhan ini begitu mengerikan. Ada bayangan ketakutan yang mendalam bahwa hal ini bisa saja menimpa mereka.

Di antara bayang-bayang ketakutan terhadap kebengisan penganiayan, sepuluh hari sebelumnya Yesus memberikan pesan kepada para rasul pergi ke seluruh dunia mewartakan kebenaran. Bagaimana mau pergi ke seluruh dunia kalau keluar rumah saja takut?

Penulis Kisah Para Rasul menulis bahwa para rasul berkumpul dalam suasana ketakutan. "Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya" (Kis 2: 1-4).

Roh Kudus datang pada saat yang tepat. Ia membongkar selubung ketakutan para rasul. Roh menerbitkan keberanian dan menggerakkan para rasul keluar dari zona ketakutan memasuki ruang sosial pewartaan. Melalui Bahasa yang digerakkan Roh, para rasul memulai ziarah pewartaan ke seluruh dunia.

Babak baru karya keselamatan dimulai. Tentu tetap dalam kesatuan dengan seluruh narasi keselamatan Kristus. Suara Yesus kembali menggema melalui mulut para rasul. Belenggu ketakutan telah dipatahkan. Roh Kudus menjadi daya spiritual yang menyusup masuk ke dalam ruang hidup sosial.

Roh Kudus mengubah para rasul dari posisi sebagai rakyat kecil yang tidak berpendidikan menjadi sosok-sosok pemberani yang bertemu dengan semua orang dari segala bangsa dan mewartakan kebenaran Tuhan dengan keyakinan yang teguh di hadapan orang-orang berpendidikan.

Yesus dalam Injil mengatakan bahwa Roh Kudus akan memimpin semua orang kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Kebenaran itu berasal dari Allah yang memerdekakan manusia dari perbudakan dosa. Kebenaran ini menjadi sebuah kemewahan di zaman ini. Banyak orang takut bersaksi tentang kebenaran.

Situasi ini dialami para rasul selama 50 hari setelah Paska. Artinya, masa ketakutan sudah berlalu. Orang yang menyembunyikan dan memanipulasi kebenaran untuk menyelamatkan diri sesungguhnya masih hidup di zaman para rasul dulu. Maka orang yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan sesungguhnya adalah mayat yang sedang berjalan-jalan di atas dunia ini.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved