Rabu, 8 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Senin 17 Mei 2021: Kekuatan Abadi

Nicky Astria rupanya benar ketika dia bilang bahwa dunia ini panggung sandiwara. Cerita tentang peran yang mesti dimainkan setiap orang selalu berubah

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Senin 17 Mei 2021: Kekuatan Abadi (Yoh 16:29-33)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Nicky Astria rupanya benar ketika dia bilang bahwa dunia ini panggung sandiwara. Cerita tentang peran yang mesti dimainkan setiap orang selalu berubah.

Lanjutnya, “Ada peran wajar dan ada peran pura-pura.” Dua jenis peran ini tidak akan pernah lenyap selama manusia hidup. Generasi lahir, tumbuh, berkembang, dewasa, tua dan mati. Mau hidup di hutan belantara, kota yang sibuk, rumah yang tenang, biara yang kontemplatip sekali pun. Peran wajar dan pura-pura abadi. Tinggal manusia-mengutip Nicky Astria-yang akan “memainkannya.”

Idealnya, tidak ada perpecahan yang bisa memorakporandakan keutuhan hidup.

Manusia yang cerdas dan matang emosi akan menjalaninya dengan sadar. Perlu kepekaan iman yang tinggi untuk melaluinya. Agar tetap sehat (rohani) dan tegar (fisik). Berlaku adagium klasik dalam politik: tidak ada teman yang abadi.  Hanya kepentingan yang abadi.

Kepentingan inilah yang sangat menentukan apakah kita menjadi manusia wajar atau pura-pura. Penilaian atas dua karakter pun problematis. Tidak semudah memuntahkan kata-kata tanpa basis pengalaman konkret. Orang yang bertahun-tahun tinggal dalam “rumah kudus” pun bisa jadi hanya berpura-pura sekadar membalut keberadaannya.

Saat hendak berpisah dengan para rasul, Yesus mengingatkan bahaya perpecahan yang akan menerpa. “Saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu akan dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri” (Yoh 16:32).

Yesus tahu bahwa keterpecahan di antara keduabelasan telah menjadi fakta selama Ia tinggal bersama mereka. Para rasul saling bertengkar siapa terbesar di antara mereka. Bahkan soal duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus.

Ada ambisi personal terkait hasrat kuasa diri. Yesus masih dipandang sebagai tokoh politik. Para rasul seolah hendak mengais serpihan kuasa duniawi dengan mengandalkan relasi dekat dengan Yesus. Ambisi kuasa ini bisa saja menjadi benih perpecahan di antara para rasul ketika hasrat itu tidak ditata dan dikelola dengan berbasis pada misi Yesus.

Yesus mengingatkan para rasul bahwa kekuasaan yang ia retas melalui seluruh hidup-Nya adalah keselamatan semesta. Ia hendak memulihkan kondisi dunia yang dicemari dosa dan kejahatan.

“Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33). Inilah kata-kata Yesus yang meneguhkan perjuangan hidup para rasul. Yesus hendak bilang bahwa malam gelap, simbol dosa, telah berlalu. Dunia ini telah Ia sucikan dengan darah-Nya.

Kita yang berdosa (personal) dan dunia yang kotor tercemar lumpur dosa (sosial) telah dibersihkan-Nya. Dunia ini telah berubah menjadi tempat hidup yang suci. Yesus telah menguduskan kita dan dunia. Ia telah mengutuhkan relasi kita dengan Tuhan dan sesama.

Tapi setan dengan segala daya upaya akan terus berjuang menghadirkan benih perpecahan. Manusia akan terus digoda untuk tidak bersatu. Derita, tantangan dan kesusahan dalam beragam bentuk pasti hadir. Tapi orang yang beriman kepada Yesus akan bertahan.

Relasi utuh antara Yesus dan Bapa-Nya di surga adalah jaminan abadi kita. Relasi antara Yesus dan Bapa-Nya menjadi kekuatan rohani abadi. Amunisi spiritual yang akan terus memandu ziarah iman kita. Hidup kita sampai detik ini adalah sebuah keajaiban dalam tuntunan kasih Tuhan. Tangan itu tak tampak tapi terasa begitu kuat bermain di balik layar hidup kita.

Persatuan mesra dengan Yesus kita tumbuhkan melalui doa, ibadat dan Ekaristi setiap hari. Kadang kita seolah berada di tengah padang gurun gersang. Tanpa air. Tak ada panorama hijau yang menyimbolkan harapan. Kita kehilangan energi untuk melangkahkan kaki.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved