Ramadan 2021

Mutiara Ramadan: Menyikapi Musibah dengan Ketakwaan

KITA masih menghadapi musibah wabah corona di bulan suci Ramadan. Kita juga baru saja mengalami musibah banjir, tanah longsor

Editor: Kanis Jehola
Mutiara Ramadan: Menyikapi Musibah dengan Ketakwaan
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Syarifuddin Darajad, Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Kupang

POS-KUPANG.COM - KITA masih menghadapi musibah wabah corona di bulan suci Ramadan. Kita juga baru saja mengalami musibah banjir, tanah longsor dan musibah Siklon Tropis Seroja, dimana kata musibah ini sudah tidak asing bagi kaum muslimin.

Kata musibah berasal dari kata Asaba yang disebutkan sebanyak 77 kali, dan khusus kata musibah disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 10 kali ((Rusli 2012). Dalam Islam musibah bisa saja terjadi pada siapapun dari mahkluk Allah baik secara individu maupun kelompok sosial dimanapun mereka berada di muka bumi, karena itu sebagai orang yang beriman kita harus meyakini bahwa musibah yang kita alami ini adalah salah satu bentuk dari ujian Allah kepada kita.

Kita tidak akan mungkin dapat lari dari musibah, karena musibah merupakan bagian dari cobaan Allah SWT kepada umat manusia. Allah SWT Menjelaskan dalam firmannya bahwa":

Baca juga: Air di Tolilet Kantor Bupati Ngada Tidak Lancar

Baca juga: Dilema Momentum Pertumbuhan Ekonomi

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar(155), (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun (156), (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". 157 Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (157)," (Albaqarah 155-157).

Sedangkan disisi lain Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS As Syura:30).

Makna ayat-ayat Al-Qur'an di atas bila dikaitkan dengan kondisi sosial yang dialami oleh manusia, maka perlu diyakini bahwa musibah yang dialami manusia merupakan kehendak Allah SWT, namun disisi lain musibah juga bisa terjadi karena ulah dari tangan-tangan manusia itu sendiri.

Fenomena kematian manusia merupakan musibah yang datang kepada manusia karena kehendak Allah SWT. Namun gempa bumi, tanah longsor, banjir dan wabah penyakit bisa saja datang dari Allah akibat dari perilaku manusia dalam memanfaatkan Alam diluar batas ketentuan Analisah Dampak Lingkungan (Amdal) dari pemerintah, jawaban terhadap bentuk musibah di atas dijelaskan dalam Firman Allah selanjutnya bahwa: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (QS, Annisa 79).

Baca juga: Mengantisipasi Kembalinya Para Pemudik

Baca juga: Kode Redeem ML Hari Ini 10 Mei 2021, Segera Klaim Kode Redeem Mobile Legends Terbaru

Bahkan Allah SWT memberikan teguran secara tegas dalam Al-Qur'an bahwa: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Al A'raf 96).

Musibah-musibah datang silih berganti menimpa manusia, namun iktiar untuk dapat keluar dari musibahpun terus kita lakukan, baik secara individu, kelompok maupun datangnya pemerintah. Bantuan-bantuan sosial, ekonomi, dan kesehatan pun terus mengalir sebagai perwujudan dari salasatu ikhtiar dalam beribadah.

Disamping itu pembatasan jarak sosial pun terus dilakukan oleh pemerintah untuk memutuskan matarantai wabah virus Corona terhadap kesehatan masyarakat. Dalam pandang Islam hal ini memberikan dampak yang baik terhadap nilai ibadah, sebagaimana Hadist nabi Muhammad SAW bahwa: "Jika kamu mendengar wabah disatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya, tapi jika terjadi wabah ditempat kamu berada maka jangan kamu tinggalkan tepat itu. (HR. Bukhari).

Musibah sangat dekat dengan manusia, kapanpun dan dimanapun lambat atau cepat akan terjadi pada manusia dan alam seisinya. Sebagai orang yang bijaksana kita harus menyikapi musibah ini dengan keimanan dan ketakwaan, bahwa manusia itu datangnya dari Allah, dan pasti akan kembali kepada Allah sesuai yang ditentukan berdasarkan kadar masing-masing.

Bahkan Allah SWT memberikan ketegasan dalam Firmannya bahwa: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.At Taghabun: 11).

Secara kodrati semua manusia pasti ingin keluar dari lingkaran musibah. Dalam pandangan Islam upaya manusia untuk keluar dari lingkaran musibah adalah ibadah. Namun upaya tersebut tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, tapi perlu dilakukan secara berkelompok, yang disandarkan pada rasa senasip dan sepenanggungan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved