Masyarakat Harus Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah

Rasa cinta, bangga, dan paham rupiah harus ditanamkan dalam diri setiap masyarakat.

Penulis: F Mariana Nuka | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/INTAN NUKA
Ngobrol Asyik Pos Kupang tentang Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, Selasa 27 April 2021 

Masyarakat Harus Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah

POS-KUPANG.COM | KUPANG --  Uang rupiah tak sekadar sebagai alat pembayaran yang sah. Kehadiran uang rupiah merupakan simbol kedaulatan negara dan keberagaman bangsa. Oleh karena itu, uang rupiah harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Rasa cinta, bangga, dan paham rupiah harus ditanamkan dalam diri setiap masyarakat.

Dalam Ngobrol Asyik Pos Kupang, Selasa 27 April 2021, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Daniel Agus Prasetyo menjelaskan bahwa Cinta Rupiah bisa dimulai dari mengenal, merawat, dan menjaga uang rupiah. Semuany itu bisa dimulai dari ciri-ciri keaslian uang rupiah. 

Staf Pengelolaan Uang Rupiah BI NTT, Hatsarmawit Hadjo menyambung, mengenali uang rupiah bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu dan tanpa alat bantu. Mengenal rupiah dengan alat bantu bisa dilakukan menggunakan lampu ultraviolet dan kaca pembesar yang sering dipakai oleh pihak perbankan dan toko-toko. Namun, masyarakat yang tidak memiliki alat bantu juga bisa mengenal uang rupiah dengan metode 3 D.

Baca juga: Rangkaian Kegiatan Bank Indonesia, dari Fasilitasi Vaksin hingga Gerakan Peduli Bencana Seroja

Secara gamblang, pria yang akrab disapa Ama Hadjo itu menjelaskan, 3 D berarti Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Pertama, harus dilihat gambar dan warna uang.

Serangkaian kegiatan telah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (KPw BI NTT) pada Jumat 23 April 2021. Kegiatan diawali dengan Vaksinasi Covid-19 bagi Perbankan, dan masyarakat yang difasilitasi oleh KPw BI NTT, dilanjutkan penyerahan banruan bencana alam di Tuapukan dan Naibonat.
Serangkaian kegiatan telah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (KPw BI NTT) pada Jumat 23 April 2021. Kegiatan diawali dengan Vaksinasi Covid-19 bagi Perbankan, dan masyarakat yang difasilitasi oleh KPw BI NTT, dilanjutkan penyerahan banruan bencana alam di Tuapukan dan Naibonat. (POS KUPANG.COM/ISTIMEWA)

"Meski sudah termakan usia, uang rupiah kita ini tidak akan buram. Kalau kena deterjen pun, selama uang itu asli, tapi sudah lusuh, tetap warnanya kelihatan jelas. Gambarnya juga cetakannya lebih jelas," ujar Ama. Ada juga tanda yang harus dilihat yakni Optical Variable Ink atau tinta berubah warna sesuai sudut pandang.

Berikutnya, Diraba yang dimaksud adalah uang akan terasa kasar pada bagian-bagian tertentu, yakni pada gambar pahlawan, tulisan nominal rupiah, angka nominal, dan gambar garuda. Bagian yang kasar merupakan hasil cetakan kasar.

"Bagian depan dan belakang itu simetris sekali sehingga ketika naik ke mesin cetak, ada dua bagian depan dan belakang itu masuknya bersamaan. Master cetakan sudah didesain agar dia timbul pada bagian tertentu," tambahnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat menyerahkan secara simbolis bantuan kemanusiaan sebesar Rp600 juta kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di ruang kerja Gubernur, Senin (19/4) pagi.
 
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat menyerahkan secara simbolis bantuan kemanusiaan sebesar Rp600 juta kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di ruang kerja Gubernur, Senin (19/4) pagi.   (POS-KUPANG.COM / ISTIMEWA / )

Baca juga: Bank Indonesia Seleksi Beasiswa Bagi Mahasiwa Unipa Indonesia, Rektor Sampaikan Terima Kasih

Sementara itu, cara terakhir untuk mengenal keaslian uang rupiah adalah menerawang, yang mana jika diarahkan ke cahaya, ada bagian tertentu yang akan menunjukkan gambar pahlawan.

Selain mengenal, ada pula cara untuk merawat uang, yakni 5 J atau disebut 5 Jangan, yakni Jangan Dilipat, Jangan Disteples, Jangan Dibasahi, Jangan Dicoret, dan Jangan Diremas.

Sebagai informasi, uang rupiah dicetak oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia atau Perum Peruri. Bahan uang yang digunakan dominan adalah kertas kapas. Bahan untuk pecahan-pecahan besar masih diimpor dari luar negeri, sedangkan pecahan kecil sudah dipasok dari dalam negeri sendiri.

Setelah Cinta Rupiah, Daniel mengajak masyarakat untuk Bangga Rupiah. Mengapa? Karena rupiah merupakan alat pembayaran yang sah. Selain itu, rupiah juga merupakan simbol kedaulatan negara dan pemersatu bangsa. Ada UU No 7 tahun 2011 yang mengharuskan seluruh warga Indonesia wajib bertransaksi dengan rupiah di Indonesia. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Artawan foto bersama warga Oebobo Marselina Loak dan Lurah Oebobo John Purba usai menyerahkan bantuan pada Selasa 6 April sore.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Artawan foto bersama warga Oebobo Marselina Loak dan Lurah Oebobo John Purba usai menyerahkan bantuan pada Selasa 6 April sore. (POS-KUPANG.COM/RYAN NONG)

Baca juga: Gebrakan Terbaru Dari Maybank Indonesia Lewat Program My Happy & Lucky Bank

Agar seluruh masyarakat Indonesia bisa tetap bertransaksi dengan menggunakan uang rupiah, BI pun menjangkau semua daerah termasuk daerah 3 T dengan menggunakan Kas Keliling dan Kas Titipan. Daniel menyebut, suplai uang rupiah diberikan dalam kualitas yang baik dengan pecahan yang cukup. NTT sendiri memiliki sembilan lokasi Kas Titipan yang berada di Atambua, Alor, Lembata, Maumere, Ende, Ruteng, Labuan Bajo, Waingapu, dan Waikabubak. BRI dan Bank NTT masih menjadi penanggungjawab Kas Titipan ini di daerah.

Selanjutnya, Daniel menyampaikan bahwa Paham Rupiah adalah kemampuan masyarakat untuk tahu sejauh mana peran rupiah dalam perekonomian. Jika mencetak uang melebihi kapasitas ekonomi, maka tentu saja akan berakibat pada tingginya inflasi dan ekonomi menjadi tidak stabil.

"Kita harus paham bagaimana cara membelanjakan uang ini; apakah lebih banyak barang impor atau lokal. Itu bisa pengaruhi ekonomi," salah satu contoh yang diberikan Daniel.

Serangkaian kegiatan telah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (KPw BI NTT) pada Jumat 23 April 2021. Kegiatan diawali dengan Vaksinasi Covid-19 bagi Perbankan, dan masyarakat yang difasilitasi oleh KPw BI NTT, dilanjutkan penyerahan banruan bencana alam di Tuapukan dan Naibonat.
Serangkaian kegiatan telah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (KPw BI NTT) pada Jumat 23 April 2021. Kegiatan diawali dengan Vaksinasi Covid-19 bagi Perbankan, dan masyarakat yang difasilitasi oleh KPw BI NTT, dilanjutkan penyerahan banruan bencana alam di Tuapukan dan Naibonat. (POS KUPANG.COM/ISTIMEWA)

Baca juga: Bank Indonesia Bantu Korban Siklon Seroja di Kota Kupang 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved