Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 27 Maret 2021: TAMENG
"Apabila kita biarkan Dia, semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita"
Renungan Harian Katolik, Sabtu 27 Maret 2021: TAMENG (Yohanes 11:45-56)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Dalam berbagai masyarakat agama, ritus “kurban” mempunyai tempat utama. Dengan ritus itu, masyarakat agama mengadakan persembahan diri kepada Yang Sakral lewat suatu pemberian. Berbagai jenis hewan atau hasil bumi “dikurbankan” atau “dipersembahkan” kepada Yang Sakral demi terbangun atau dipulihkan hubungan yang erat antara mereka dengan Yang Sakral.
Berkenaan dengan kemalangan atau penyakit, diyakini bahwa “yang dikurbankan” itu akan “membawa” pergi berbagai penyakit atau sebab-sebab kemalangan, penderitaan.
Dalam hidup muncul istilah “kambing hitam” (scapegoat). Istilah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan binatang kambing yang bulunya berwarna hitam. Tapi dalam tradisi Ibrani merujuk pada kata azazel yang bermakna ejekan seperti dalam kalimat lekh la azazel yang berarti pergi ke neraka.
Istilah ini terus berkembang seiring dengan karakter dasar manusia yang sering mengekspresikan kemarahan, penghinaan atau saat merendahkan orang lain (kelompok lain) dengan nama-nama hewan.
Antropolog kontroversial, Rene Girard dalam bukunya Deceit, Desire, and The Novel (1961), menerangkan scapegoat theory (teori kambing hitam) yang intinya menyebut manusia memiliki hasrat peniru (mimetic). Apa yang ditirukan lama-lama menjadi saingannya. Hal ini kemudian memicu konflik dan kekerasan.
Kata Girard, manusia telanjur memiliki hasrat kekerasan yang harus tersalurkan. Penyaluran hasrat biasanya ditujukan pada manusia lainnya. Dalam hal ini bisa jadi “kambing hitam” atau orang yang belum tentu bersalah.
Kini istilah "kambing hitam" lebih banyak digunakan sebagai metafora, yang merujuk kepada seseorang yang dipersalahkan untuk suatu kemalangan, biasanya sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari sebab-sebab yang sesungguhnya. Orang yang tak bersalah tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan demi "keamanan dan keselamatan" orang lain.
Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersekongkol untuk melenyapkan Yesus. Tak tanggung-tanggung, mereka memanggil Mahkamah Agama untuk bersidang. Dalil mereka, Yesus telah membuat banyak mukjizat dan itu akan memengaruhi orang banyak. Ia bisa mengumpulkan massa dan memprovokasi untuk memberontak terhadap penjajah Roma. Akibatnya, penjajah Roma akan datang dan menumpas mereka semua.
"Apabila kita biarkan Dia, semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita" (Yoh 11:48).
Sehubungan dengan itu, imam besar Kayafas memberikan usul, "Lebih berguna, jika satu orang mati untuk seluruh bangsa, daripada seluruh bangsa binasa" (Yoh 11:50) dan mereka semua sepakat untuk membunuh Yesus (Yoh 11:53).
Soalnya orang-orang Yahudi percaya bila imam agung meminta nasihat untuk bangsanya, maka Tuhan akan berbicara melalui dia. Perkataan imam besar itu bagai nubuat bahwa "Yesus harus dikurbankan" untuk bangsa itu, bahkan bukan hanya untuk bangsa itu saja, melainkan juga mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai berai (Yoh 11:51-52).
Tidak jarang kita mengurbankan orang lain demi posisi dan kepentingan kita. Lantaran orang lain berkembang dan berprestasi, kita lantas merasa takut tersaingi atau kehilangan pamor. Hal itu mendorong kita untuk menjegal atau menjatuhkannya dengan dalil atau cara apa pun.
Terkadang kita pun menjadikan orang lain sebagai "kambing hitam" karena ketidakjujuran kita atau pun ketidakberanian kita mengakui kesalahan. Kita tak berani bertanggung jawab, lari dari tanggung jawab dan memasang orang sebagai tameng atau dijadikan kambing hitam.