Breaking News:

Berita NTT Terkini

Langkah Kejati Menahan Anton Ali Dinilai Sebuah Kekeliruan Besar dalam Penegakan Hukum

mengapresiasi putusan  majelis hakim Tipikor Kupang yang menerima eksepsi tim pengacara dari advokad senior, Anton Ali dari tuduhan merekayasa keteran

Editor: Ferry Ndoen
Dok. Pribadi/
Pengacara Petrus Bala Pattyona, SH. MH.  

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Langkah Kejaksaan Tinggi (Kejati)  NTT menangkap 2 (dua) saksi dan pengacara senior Anton Ali dan ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi dengan tuduhan menghambat  menghalangi, mempersulit pengungkapan tindak pidana korupsi adalah suatu kekeliruan besar yang tidak  dapat ditolerir dalam penegakan hukum.

Ungkapan ini disampaikan, pengacara  nasional, Petrus Bala Pattyona, SH. MH menanggapi pembebasan advokat Anton Ali dalam sidang Sela pada Selasa (16/3/2021) di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang.

Dirinya juga mengapresiasi putusan  majelis hakim Tipikor Kupang yang menerima eksepsi tim pengacara dari advokad senior, Anton Ali dari tuduhan merekayasa keterangan dalam kesaksian persidangan pra peradilan kasus tanah Labuan Bajo, Manggarai Barat dengan terdakwa mantan bupati Agus Ch Dula.

Dalam persidangan praperadilan tersebut, dua saksi yang dihadirkan oleh pengacara Anton Ali, dianulir pihak Kejati NTT yang menduga kedua saksi telah memberikan keterangan palsu alias tidak sesuai dengan BAP. Nahasnya, Kejati NTT kemudian menetapkan kedua saksi dan advokat Anton Ali sebagi tersangka dalam pemberian keterangan palsu.

Baca juga: Calon Pemain Baru Persebaya ini Ternyata Eks Bali United, Pernah Main di Liga Malaysia ? Simak Info

"Berbicara mengenai Keterangan palsu saksi dalam persidangan itu ranahnya majelis hakim yang harus dengan tegas menetapkan dalam persidangan,  sebagaimana diatur dalam Pasal 174 KUHAP,  bukan versi  Kejaksaan selaku Penyidik dengan membandingkan keterangan saksi dalam BAP pemeriksaan di penyidikan dengan keterangan di depan hakim" urai Bala Pattyona.

Dijelaskannya, jika keterangan saksi-saksi dinilai berbeda dengan yang disampaikan dalam BAP, majelis hakim mengingatkan saksi tentang ancaman keterangan palsu sebagaimana diatur dalam pasal 420 KUHP. Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan melaksanakan Penetapan tersebut berupa penyidikan dan penahanan dalam tindak pidana umum tentang Keterangan palsu dalam sidang.

Ia menerangkan, seseorang dianggap menghalangi pengungkapan, atau mempersulit proses penegakan hukum dalam tindak pidana korupsi harus ditandai dengan perbuatan materil dan fakta-fakta hukum.

"Keterangan saksi di persidangan yang dianggap berbeda dengan Keterangan dalam BAP tidak serta merta dinilai sebagai menghalangi pengungkapan tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Padal 22 UU Tipikor" terangnya. 

Pattyona juga mengkritisi Kejati NTT, yang menelusuri lebih detail semua pihak yang tekait dengan kasus tanah di Labuhan Bajo, Manggarai Barat, namun kasus lainnya seperti poryek mangkrak Awalolong di Lembata yang telah sebulan diumumkan oleh penyidik Polda NTT dan berkasnya telah dinyatakan lengkap.

"Sudah P21, tetapi mengapa aparat Kejaksaan Tinggi NTT belum bergerak menerima berkas perkara,  berikut Tersangka dan barang bukti untuk selanjutnya ditahan ditahan dan dilimpahkan ke Pengadilan?
Kenapa untuk kasus Awalolong sepertinya tak bertaring? Ada apa?" Tanya Pattyona.

Ia pun mengingatkan agar Kejati NTT agar tidak mengabaikan hukum acara. Dan dalam kasus Anton Ali, menjadi  pelajaran berharga untuk menegakan hukum berdasarkan semua prosedur hukum acara.

Diketahui, Anton Ali dibebaskan majelis hakim Tipikor Kupang usai majelis menyatakan tuntuan terhadap Anton Ali tidak sesuai dengan perintah atau penetapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri kelas 1A Kupang.
(Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi)

Baca juga: Bali United Evaluasi Kekalahan vs Timnas Indonesia, Ini Strategi Bali United vs Persib BandungNanti

Baca juga: Kapolres Belu Himbau Masyarakat Tidak Konvoi. Polres Kerahkan Kekuatan 472 Personel

Baca juga: Persebaya Surabaya Matangkan Taktikal Jelang Piala Menpora 2021, Waktu Makin Mepet, Bajul Ijo

Pengacara Petrus Bala Pattyona, SH. MH. 
Pengacara Petrus Bala Pattyona, SH. MH.  (Dok. Pribadi/)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved