Breaking News:

Berita NTT Terkini

Fenomena Ikan Hiu Mirip Manusia di Rote Ndao NTT Simak Penjelasan Peneliti Ikan dari IPB

Fenomena ikan hiu mirip manusia di Rote Ndao NTT simak penjelasan peneliti ikan dari IPB

istimewa
Abdulah, nelayan asal Rote Ndao sedang menunjukan ikan mirip manusia 

Fenomena ikan hiu mirip manusia di Rote Ndao NTT simak penjelasan peneliti ikan dari IPB

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Fenomena Ikan Hiu Mirip Manusia di Rote Ndao NTT Simak Penjelasan Peneliti Ikan dari IPB.

Masyarakat Rote Ndao dihebohkan dengan penemuan seekor ikan yang mirip dengan wajah manusia, pada Minggu (21/2/2021) di kampung Nelayan, Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao

Ikan unik itu ditemukan oleh seorang nelayan, Abdullah Fero (48) saat ia melaut di perairan Papela tepatnya di Butupulu, Sebelah Timur Pos Angkat Laut (Posal) Papela.

Kunker Presiden Jokowi ke Sumba Tengah Dan Maumere, NTT, Ini Kata Mantan Wabup Sumba Barat

Ikan hiu sepanjang sekitar 1,50 meter dibawa ke darat dan ketika dibelah terdapat tiga janin di dalamnya. Dari ketiga janin hiu tersebut salah satunya berwujud menyerupai manusia.

Janin ikan yang kemudian membuat riuh pemberitaan ini diawetkan dalam wadah kaca berisikan cairan alkohol. Petugas BKSDA NTT lalu melakukan pengukuran terhadap awetan janin hiu dengan hasil panjang 20 cm dan berat 300 gram.

Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Dijemput Secara Adat di Wae Reno

Untuk lebih memastikan, BBKSDA NTT berkoordinasi dengan Dosen dan Peneliti Ikan/ Ichthyologist Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Intitut Pertanian Bogor (IPB), Charles P.H. Simanjuntak, Ph.D.

Setelah membaca dan memperhatikan hasil pengumpulan informasi oleh petugas BKSDA NTT, disimpulkan bahwa, spesies janin hiu adalah carcharinus melanopterus atau blacktip reef shark. Spesies ini termasuk kategori rentan dalam daftar merah IUCN.

Menurut dia, bayi hiu yang diawetkan masih dalam kondisi janin atau fetus dan berasal dari dalam tubuh induknya (belum dilahirkan). Selain itu, bagian lubang/bulatan adalah organ mata namun posisinya belum berada pada bagian lateral (sisi tubuh) melainkan ventral (depan). 

Informasi ini sekaligus mematahkan dugaan bahwa kedua lubang adalah hidung. Mata yang tidak bermigrasi saat pembentukan embrio, yaitu berada pada bagian ventral, mengindikasikan adanya cacat bawaan atau congenital abnormalities/ the birth deformity.

"Penyebabnya ada beberapa faktor baik karena genetik maupun lingkungan," ujar Charles sesuai rilis yang diterima Pos Kupang, Minggu (28/2/2021).

Kepala BBKSDA NTT, Timbul Batubara,  mengatakan walaupun hiu belum termasuk dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK Nomor 106 tahun 2018, namun keberadaannya penting di perairan laut.

Posisi hiu dalam rantai makanan adalah sebagai top predator berfungsi untuk mengendalikan jenis-jenis yang dimangsanya. Penurunan populasi hiu dikhawatirkan akan meningkatkan jenis ikan seperti kakap, tuna, dan kerapu yang walaupun menggiurkan dari sisi ekonomi namun destruktif bagi ekosistem lautan yakni habisnya spesies-spesies di level bawah piramida makanan.

Ia menghimbau masyarakat untuk membatasi konsumsi sirip hiu. Ia juga meminta nelayan untuk menghentikan eksploitasi ikan hiu, supaya sumberdaya perairan dapat terus dimanfaatkan secara lestari. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda) 

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved