Breaking News:

WVI dan PKTA NTT Ingin Anak Yang Diduga Pelaku Pembunuhan di TTS Terpenuhi Hak-Haknya

WVI dan PKTA NTT Ingin Anak Yang Diduga Pelaku Pembunuhan Terpenuhi Hak-Haknya dan proses hukum berperspektif anak

WVI dan PKTA NTT Ingin Anak Yang Diduga Pelaku Pembunuhan di TTS Terpenuhi Hak-Haknya
bobo.grid.id
ILUSTRASI Hak-hak anak, WVI dan PKTA NTT Ingin Anak Yang Diduga Pelaku Pembunuhan di TTS Terpenuhi Hak-Haknya

WVI dan PKTA NTT Ingin Anak Yang Diduga Pelaku Pembunuhan Terpenuhi Hak-Haknya dan proses hukum berperspektif anak

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pastikan Anak Berhadapan dengan Hukum Aman dan Terpenuhi Hak-haknya

Beberapa waktu lalu, ada berita mengejutkan dimana seorang anak perempuan usia 16 thn asal Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur dijadikan tersangka karena membunuh orang yang akan memerkosanya.

Wahana Visi Indonesia bersama Aliansi Penghapusan Kekerasan NTT sebagai lembaga fokus pada anak mendorong dan menyuarakan perlu adanya proses hukum yang lebih berperspektif anak dan mendorong keterpaduan layanan bagi pemenuhan hak anak.

“Pada kasus ini, walaupun sudah ditetapkan sebagai tersangka, anak merupakan korban karena ia dalam
situasi yang tertekan sehingga melakukan pembelaan diri. Tentu ia sudah mengalami trauma lewat kejadian
upaya pemerkosaan, dan penetapan status tersangka menambah traumanya. Untuk itu kita perlu
memastikan layanan dan bantuan hukum yang berpihak pada anak, maupun memberikan dukungan dan
layanan psikologis. Dan ditengah maraknya pemberitaan yang menyudutkan korban, anak dan keluarganya
perlu dipastikan keamanannya dari serangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab maupun dalam
pemberitaan yang tidak ramah anak,” kata General Manager WVI Zonal NTT Eben Ezer Sembiring melalui siaran pers yang diterima POS-KUPANG, Sabtu 20 Februari 2021 dari Media Relation Executive Amanda Putri Nugrahanti

WVI bersama Aliansi PKTA telah berdiskusi dan merumuskan bentuk dukungan pada anak.

Tim akan memastikan korban mendapat layanan yang tepat dan membangun kronologi berdasarkan perspektif anak.

Kemudian, tim ini akan melakukan analisa hukum untuk membangun dasar pembelaan bagi korban.

“Kami berharap dapat bertemu secepatnya dengan anak ini agar dapat memberikan pendampingan baik
litigasi maupun nonlitigasi untuk membantu pemulihannya,” ujar Libby Sinlaeloe dari Aliansi PKTA.

Anak, sebagaimana orang dewasa berhak untuk membela dirinya ketika ada orang lain yang mengancam
keselamatannya.

Halaman
12
Penulis: Hermina Pello
Editor: Hermina Pello
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved