Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 20 Februari 2021: Jatuh Cinta pada Panggilan Pertama
Demikianh pengalaman yang hidup dalam keseharian kita. Hari ini kita mendengar kisah Injil tentang panggilan Yesus kepada Lewi, seorang pemungut cukai
Lewi dipanggil di tempat kerjanya (rumah cukai). Panggilan Tuhan ternyata hadir dalam keseharian hidup manusia. Sebuah bentuk mistik keseharian. Dengan kata lain, Allah itu adalah Allah yang akrab dan mengenal keseharian hidup kita.
Cara Lewi menjawab panggilan Yesus menunjukkan pertobatan, yakni: pertama, ada perubahan posisi dari “duduk” (kathemai) menuju “berdiri” (anistemi).
Duduk melambangkan status quo, zona nyaman yang menjebak diri sendiri. Duduk menunjukkan posisi seseorang. Ketika Lewi berdiri, ia melepaskan diri dari kemelekatan posisinya.
Berdiri melambangkan kesiapsediaan untuk mengikuti. Lewi bersedia untuk melepaskan zona nyaman hidupnya yang terjebak luka dosa dan menjadi murid Kristus. Kata “berdiri” (anistemi) berarti pula bangkit dari mati. Ada hidup baru dalam Kristus. Esse novum in Christo.
Kedua, Lewi melepaskan “segala sesuatu” (katalipon panta) untuk mengikuti Yesus. Bayangkan! Seseorang yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai pemungut cukai, di mana logika untung-rugi sudah menguasai kesadarannya, akhirnya mampu menjatuhkan diri dalam panggilan Yesus yang tak pasti.
Belum tentu, dengan melepaskan segala harta dan posisi yang ia miliki, ia akan memperoleh keuntungan material yang lebih besar. Inilah iman. Sebuah lompatan menuju ketidakpastian. Iman melampaui logika kalkulasi untung rugi manusiawi.
Tobat Lewi Si Pemungut Cukai berdimensi sosial. Setelah memutuskan untuk mengikuti Yesus (menjadi murid Yesus), Lewi mengadakan perjamuan besar bersama Yesus dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang lain juga turut hadir. Artinya, dengan mengikuti Yesus, ia tidak mengekslusifkan dirinya. Pertobatan selalu merangkum sukacita bersama.
Dan lucunya, kelompok orang yang sok religius memilih berada di luar lingkaran kebahagiaan bersama Tuhan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat “bersungut-sungut”. Mereka tidak turut serta dalam kebahagiaan bersama Tuhan karena mata mereka dikepung kegelapan iri hati dan dengki.
Dari pesan Injil hari ini, kita belajar bahwa panggilan pertobatan itu muncul dalam rutinitas dan keseharian kita. Jangan menunda untuk bertobat! Kita tidak akan pernah bisa sampai tujuan tanpa dimulai dengan langkah pertama.
Selain itu, kesibukan harian terkadang menenggelamkan kesadaran kita untuk mendengar panggilan Tuhan. Perlu tenang dan kesiapan diri. Untuk itu, momen Prapaskah adalah momen tenang untuk mendengarkan panggilan Yesus.
Tobat berdimensi sosial. Orang yang setelah bertobat hanya urus diri karena takut terkontaminasi dengan dosa, bukanlah orang yang bertobat secara sungguh.
Kita juga belajar untuk tidak menjadi “tukang gosip” seperti para Farisi. Dalam banyak hal, orang sulit untuk bangkit dari keterpurukan hidup, karena mulut kita yang suka menghakimi.
Tuhan memberkati kita sekalian. Salvete!
Simak juga video renungan harian katolik berikut: