Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Senin 15 Februari 2021: RAHMAT DIAM
Orang-orang Farisi mendatangi Yesus dan meminta dari-Nya suatu tanda dari surga bahwa Ia Mesias, Putera Allah. Yesus tidak menanggapi mereka.
Renungan Harian Katolik, Senin 15 Februari 2021: RAHMAT DIAM (Markus 8:11-13)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Orang-orang Farisi mendatangi Yesus dan meminta dari-Nya suatu tanda dari surga bahwa Ia Mesias, Putera Allah. Yesus tidak menanggapi mereka.
Penginjil Markus menulis reaksi Yesus begini, "Mengeluhlah Ia dalam hati-Nya". Kemudian Ia hanya berkata, "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda" (Mrk 8:11-12).
Muncul pertanyaan, mengapa Yesus tidak mau memberikan tanda? Bukankah Yesus pasti akan bisa menunjukkan tanda sebagaimana yang mereka minta? Bukankah dengan memberikan tanda, Ia bisa membungkam mereka yang terkenal licik dan ingin mencobai untuk menjatuhkan-Nya?
Belum lama ini dunia perpolitikan kita dihebohkan dengan konferensi pers dari Ketua Umum Parta Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ia secara terbuka bilang ada pihak yang ingin melakukan kudeta untuk merebut posisi ketua umum darinya.
Ia menuding beberapa orang anggota, mantan anggota, kader partainya. Ia pun terang-terangan menyebut nama Moeldoko, Kepala Staf Presiden.
Maka ia menulis surat minta klarifikasi kepada Presiden Jokowi. Tapi Presiden Jokowi diam seribu bahasa. Hanya melalui Mensesneg Pratikno dikatakan, surat tak akan dijawab karena itu urusan intern partai.
Bukan dalam hanya kasus ini Presiden Jokowi bungkam, diam, tak menggubris isu, tudingan, pancingan, permainan, langkah lawan politik.
Memang tak seharusnya semua pertanyaan, tudingan atau apa pun harus ditanggapi. Selain hanya untuk membuat heboh dan meluas persoalan. Pun tanggapan, klarifikasi, penjelasan yang diberikan belum tentu diterima dan membuat tenang.
Jawaban atau penjelasan apa pun yang diberikan, tak akan memuaskan hati orang yang licik yang penuh dengan dengki. Hati dengki tetap saja haus untuk mencobai, mengerjain dan menjatuhkan orang lain. Ada kalanya waktu yang akan menjawab. Kadang kala diam itu emas.
Penginjil Markus menulis dengan sangat jelas bahwa saat orang-orang Farisi meminta tanda, mereka sedang bersoal jawab dengan Yesus dan permintaan itu untuk mencobai-Nya (Mrk 8:11). Kata "mencobai" bermakna jelas, yakni bertujuan agar Yesus bisa dikalahkan yang memalukan dalam bersoal jawab. Dengan itu rusaklah reputasi Yesus di mata orang banyak.
Kita ingat sebelumnya di gurun Yesus pernah dicobai iblis, "Jadikanlah batu ini roti! ... Jatuhkanlah diri-Mu dari bubungan Bait Allah!" (bdk. Mat 4:1-11). Tetapi saat itu Yesus tak meladeni iblis. Malah Ia justru mengusir iblis.
Terhadap orang-orang Farisi pun Yesus melakukan hal yang sama. Mengapa? Sebab Ia tak mau terjebak ke dalam permainan licik para lawan pencobanya. Ia sangat tahu bahwa tanda ajaib dan dahsyat apa pun, mukjizat besar dan sehebat apa pun, tak akan pernah memuaskan dan meyakinkan mereka untuk mengakui-Nya. Maka, "Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang" (Mrk 8:13).
Kisah ini memberi amanat sukacita kepada kita bahwa kita memang telah dan tetap percaya pada Yesus. Kita pun terlampau sering merasa senang dan bersyukur karena mengalami berbagai tanda dan mukjizat baik kecil maupun besar yang dilakukan Tuhan bagi kita.