Pandu Digital SMA Negeri Weluli Literasi Digital di Perbatasan Negeri

peserta didik yang masih belum memiliki alat - alat komunikasi dan mereka juga kebanyakan belum tahu tentang aplikasi zoom

Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Kegiatan Pandu Digital SMA Negeri Weluli 

Sebagai Sekolah yang berada di daerah perbatasan, Suri mengatakan, kendalanya adalah fasilitas karena ada peserta yang sama sekali tidak memiliki gadget.

"Selain itu soal Covid ini saja sih yang membatasi.
Untuk semangat, mereka semangat," tukasnya.

Tidak tanggung - tanggung, Suri bahkan mengorbankan pulsa datanya untuk dipakai para peserta jika sedang ada kelas Pandu Digital.

"Untuk jaringan internet, saya biasa pakai tethering dari HP saya. Setiap kali pembelajaran itu saya tidak paksakan mereka beli kuota jadi tethering saja dari saya," ungkapnya.

Baginya hal ini bukan masalah karena dia menyadari semua dimulai dari keterbatasan.

Meski jauh di perbatasan, kelas Pandu Digital ini diisi oleh pemateri - pemateri dari luar daerah yang berkompeten dibidangnya masing - masing.

"Di kelas ini kita juga ada pemateri dari luar, teman - teman pegiat literasi Kabupaten Bekasi, relawan TIK Kabupaten Bekasi, relawan TIK Kota Tasikmalaya, ada relawan TIK Provinsi Lampung yang jadi pemateri lewat zoom untuk adik - adik," ungkap Suri.

Para pemateri tersebut, lanjutnya, ada yang mengajar khusus tentang internet sehat, ada yang khusus tentang literasi, ada yang tentang sosial media, ada juga yang khusus tentang fotografi dan videografi.

"Jadi clue - clue untuk prakteknya saya dampingi, sementara untuk penguatan kapasitas itu dari teman - teman relawan TIK," ujar Suri.

Dia mengungkapkan, awal mula kegiatan ini adalah karena anak - anak kesulitan untuk Belajar Dari Rumah (BDR).

"Untuk setting Zoom saja tidak bisa jadi permintaan pertama Kepala Sekolah itu untuk melatih mereka memakai aplikasi. Jadi pertemuan pertama itu mereka sudah saya latih sehingga mereka sudah bisa. Jadi, ketika ada pertemuan di masing - masing kelas itu mereka yang jadi moderator di zoom meeting," ujarnya.

Kepala SMAN Weluli, Maria Fatima Berek mengatakan, proses pembelajaran digital ini berawal dari postingan - postingan di media tentang kegiatan pembelajaran selama masa pandemi.

"Kita hanya membaca lewat media tentang pembelajaran digital dan saya berpikir kenapa di sekolah saya belum," ungkapnya.

Dikatakan Fat, dia sudah diajak Suri sejak setahun lalu untuk memulai kegiatan pembelajaran digital namun akhirnya baru bisa terealisasi ditahun ini.

Fat melanjutkan, ini merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang nantinya akan menjadi kegiatan permanen di SMAN Weluli.

"Setekah saya mengikuti beberapa minggu terakhir ini, walaupun hujan, angin dan keterbatasan yang mereka miliki tetapi saya melihat ada aura positif, mereka punya kemauan yang sangat tinggi," tuturnya.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved