Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 13 Februari 2021: Menjadi Manusia Ekaristis
Kisah Yesus memberi makan ribuan orang adalah kisah mukjizat yang sangat terkenal dalam Kitab Suci.
Ada satu hal menarik juga yang bisa menunjukkan kekhasan kisah penggandaan roti versi yang pertama (Yahudi) dan kedua (Non-Yahudi).
Kata “bakul” yang digunakan pada Mrk. 6:4 diterjemahkan dari kata “kofinos”, yakni bakul yang digunakan oleh orang Yahudi untuk membawa makanan mereka. Sedangkan kata Yunani yang dipakai dalam perikop Injil hari ini adalah “sfuris”, yang menunjuk pada bakul yang digunakan oleh orang-orang non-Yahudi.
Selain makna keselamatan universal yang ditawarkan Allah kepada segenap umat manusia, dari kisah Injil ini pula kita dapat menyelami beberapa makna.
Yang pertama, Tuhan Yesus selalu menunjukkan rasa belas kasih yang luar biasa bagi kebutuhan manusia. Dalam Injil, selalu digunakan ungkapan “tergerak hati oleh belas kasihan”.
Ungkapan ini sebenarnya diterjemahkan dari satu kata Yunani, yakni: “splagchnizomai”, yang berarti tergerak oleh “compassio”. “Compassio” bukan hanya sekadar rasa iba atau terharu sesaat.
“Compassio” adalah merasakan penderitaan yang sama. Tuhan Yesus merasakan penderitaan umat manusia. Dan Ia hendak mengangkat penderitaan itu.
Yang kedua, Yesus mengajarkan para murid untuk berbagi dari kekurangan.
Pertanyaan Yesus: “Berapa roti ada padamu?” sebenarnya menunjukkan bahwa para murid harus berinisiatif untuk membantu dengan segala apa yang mereka punya.
Hati mereka harus terbuka untuk menolong orang yang berkesusahan. Tuhan Yesus sendiri yang akan menggandakannya untuk melayani kebutuhan banyak orang. Jangan tunggu sampai berkelimpahan untuk membantu orang yang membutuhkan.
Yang ketiga, Yesus mengucap syukur (eucharisteo) kepada Allah sebelum membagi-bagikan roti kepada semua yang hadir. Segala kekuatan untuk pelayanan berasal dari Allah. Dari tindakan memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada banyak orang, terungkaplah makna penting berbagi dalam hidup. Kelimpahan berkat dari Allah tidak untuk disimpan sendiri, melainkan perlu dibagi-bagikan kepada sesama.
Yang keempat, Yesus mengajarkan pentingnya “mengumpulkan makanan yang tersisa”. Hal ini mungkin terkesan sederhana, tetapi menunjukkan makna yang luar biasa bagi manusia.
Kelimpahan berkat bukan alasan untuk menghambur-hamburkan rahmat Tuhan dan menyia-nyiakannya. Mengumpulkan berarti merawat dan memberdayakan kelebihan untuk kepentingan baik lainnya.
Dari perikop ini kita belajar menjadi manusia Ekaristis. Manusia Ekaristis adalah manusia yang mampu bersyukur kepada Tuhan dalam segala hal dan selalu tergerak hati oleh belas kasihan untuk membagi-bagikan rahmat kepada orang-orang yang membutuhkan.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi suci, kita dipanggil untuk menjadi manusia Ekaristis, yakni menjadi “roti hidup” yang mampu berbagi kepada sesama saudara yang berada di sekitar kita.
Semoga Tuhan memberkati kita sekalian dengan kelimpahan rahmat-Nya. Salvete!*
Simak juga video renungan harian katolik berikut: