Theo Minta Pembagian Angpao Lewat Transfer Imlek 2021 Doa di Rumah Masing- masing

Theo Widodo minta pembagian angpao lewat transfer Imlek 2021 doa di rumah masing- masing

Editor: Kanis Jehola
pos kupang
Theodorus Widodo atau Theo Widodo adalah Ketua Pengurus Daerah Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ), Indonesia. 

Ketua INTI NTT Theo Widodo minta pembagian angpao lewat transfer Imlek 2021 doa di rumah masing- masing

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Untuk menghindari penularan Covid-19 maka perayaan Imlek 2572 pada Jumat (12/2) tidak dirayakan secara publik.

Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT, Theo Widodo, kepada Pos Kupang, Rabu (10/2/2021) menjelaskan, acara silaturahmi keluarga saat Imlek ditunda sampai situasi aman terkendali.

Untuk itu lanjut Theo, maka warga masyarakat yang hendak menyampaikan ucapan bisa menggunakan semua perangkat komunikasi, baik lewat telepon, media cetak, elektronik maupun medsos.

Penyidikan Kasus GOR Wolobobo Berlanjut, Kejari Ngada Masih Tunggu Perhitungan Kerugian Negara

"Selain ucapan selamat perlu saling mengingatkan untuk taati protokol kesehatan," sambung Theo.

Terkait dengan pemberian Angpao yang merupakan bagian dari tradisi Imlek lanjut Theo, maka hal itu bisa tetap diberikan menggunakan teknologi internet banking tanpa perlu tatap muka.

Ini Imbauan Menko PMK untuk Masyarakat yang Rayakan Imlek

Dijelaskan, Imlek merupakan bagian dari budaya dan agama Khonghucu, ritus dalam bentuk doa kepada leluhur, dewa dan lainnya masih dimungkinkan tapi wajib dilakukan tertutup dan diikuti hanya oleh seisi rumah saja.

"Semua keluarga berdoa hanya dalam rumah masing masing. Yang tinggal tidak serumah tidak perlu bergabung," tuturnya.

Ia mengatakan, ujud sembahyang di malam Imlek kali ini khusus ditujukan kepada leluhur dan para dewa terutama Dewa Langit (Yu Huang) mohon ampun atas segala kesalahan yang dibuat di tahun -tahun yang telah lewat, terutama tahun Tikus Logam 2020 sebagai tahun bencana non alam pandemi Covid-19.

"Permohonan ampun ini seraya juga mohon perlindungan untuk tahun Kerbau Logam 2021 yang akan datang. Semoga Tian Yang Maha Kuasa menghalau bencana ini agar segera berlalu," ujarnya.

Ia juga mengimbau agar bantuan sosial kemanusian juga diberikan tanpa tatap muka tetap wajib dilakukan dengan menjaga protokol kesehatan dengan menerapkan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

Penyerahan bantuan tambahnya, diberikan hanya kalau situasi sudah memungkinkan dan penting sekali untuk tidak menimbulkan kerumunan.

"Bantuan sosial kemanusiaan tanpa tatap muka ini sekali lagi tetap perlu dilakukan sebagai laku tobat. Tanpa laku tobat semua permohonan akan sia-sia belaka. Ingat, nasib Indonesia tercinta ini ada di tangan kita semua sebagai anak bangsa tidak peduli dari manapun asal usulnya. Perlihatkan patriotismemu selagi masih ada waktu. Tunjukkan solidaritas pada sesama, niscaya bersama kita pasti bisa kalahkan virus jahat ini," tutupnya.

Terkait seruan pemerintah dalam bentuk wakaf uang, ia menyebut saat ini sangat tepat. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk aksi nyata warga negara yang cinta tanah air.

"Kita tidak akan jatuh miskin hanya karena mewakafkan sedikit saja dari berkat yang kita terima setiap hari," katanya.

Sebelumnya, Menteri Agama RI Gus Yaqut juga telah memberikan imbauan kepada warga yang merayakan Imlek.

"Pada dasarnya Pemerintah mahfum, Imlek bagi umat Konghucu bukan sebagai perayaan pergantian tahun semata tetapi lebih dari itu peringatan keagamaan yang mestinya harus diperingati," ujar Gus Yaqut.

Pemerintah, kata dia, memahami bahwa umat Konghucu tentu sangat bergembira dan telah mempersiapkan persembahan kepada Tian sebagai ungkapan rasa syukur untuk segala keberkahan dan mohon keberkahan lebih untuk tahun selanjutnya.

Tetapi, karena situasinya sekarang berbeda, maka umat Konghucu juga diminta harus mawas diri.

Perayaan Imlek kata dia, bisa dirayakan dengan sangat sederhana karena pada prinsipnya perayaan Imlek adalah ungkapan syukur kepada Tuhan.

"Silaturahmi bisa dijaga dengan cara cara yang saling menjaga satu sama lain dan misalnya bisa dilakukan secara virtual saja," demikian Gus Takut.

Dikawal Aparat Keamanan

Pos Kupang pada Rabu (10/2) mendatangi Kelenteng atau tempat beribadah etnis Tionghoa di Kelurahan LLBK, Kota Kupang. Terlihat anak-anak Robby Lay sedang membersihkan tempat persembayangan tersebut.

Memang situasi di Kelenteng tampak sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sedang membersihkan ruangan dalam rangka merayakan Imlek tahun ini. Keluarga Lay di Kota Kupang akan melakukan perayaan Imlek sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.

Saat ditemui di lokasi, Yuni Lay pemilik rumah tersebut mengatakan tahun ini hanya satu keluarga saja yang akan merayakan Imlek di Kelenteng, persoalan ini karena mentaati prokes Covid-19 oleh pemerintah.

"Merayakan Imlek (tahun baru Cina) di Kelenteng hanya satu keluarga Lay saja dari semua keluarga Lay di Kota Kupang," kata Yuni Lay

Dikatakan Yuni, tahun ini perayaan Imlek atau tahun baru Cina berbeda dengan sebelumnya karena bertepatan dengan situasi pandemi Covid-19 ini.

"Sebelum pandemi Covid-19, biasanya untuk merayakan Imlek di Kelenteng sini hampir enam atau tujuh keluarga Lay di Kota Kupang. Namun karena pandemi Covid-19 dan mentaati prokes Covid-19, maka kami hanya ijinkan satu keluarga saja yang merayakannya di Kelenteng yaitu keluarga Bapak Robby Lay," kata Yuni

Yuni mengakui, dari pihak keamanan sudah mengunjungi pihaknya supaya memberikan imbauan tentang prokes Covid-19. Sehingga dalam perayaan Imlek nanti akan dikawal pihak keamanan. Kegiatan ibadah atau sembayang pada perayaan Imlek akan dilakukan pada pukul 11.00 Wita.

Nahdiyin Beri Ucapan

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Ende, Usman Abdul Hamid mengucapkan selamat merayakan Imlek bagi warga etnis Thianghoa.

Usman juga mengajak warga NU atau Nahdliyin untuk menghormati sekaligus memberi ucapan selamat Imlek. Namun, mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir ucapan selamat bisa melalui handphone atau media sosial sehingga meminimalisir interaksi secara langsung.

Usman mengatakan, momen perayaan Imlek merupakan kesempatan untuk semakin mempererat tali persaudaraan, dan rasa kebangsaan. Makna Imlek melintasi batas-batas etnis dan agama karena telah menjadi bagian dari interaksi antar-budaya.

"Pada prinsipnya kita sangat menghormati. Saya sebagai pribadi dan Nahdliyin saya berharap mari kita terus perkuat tali persaudaraan, pupuk terus rasa kebangsaan," ungkapnya.

Badan Pelaksana Majelis Sinode (BMPS) Gereja Kristen Sumba (GKS) mengharapkan perayaan Tahun Baru Imlek Tahun 2021 di Sumba berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Ketua Umum BPMS GKS, Pdt. Alfred Dj. Samani,S.Th. M. Si dan keluarga besar Sinode GKS menyampaikan selamat Hari Raya Imlek bagi saudara -saudara yang merayakannya.

"Yang pertama, tentunya kami menyampaikan selamat Tahun Baru Imlek tahun 2021 kepada saudara-saudara kita yang merayakannya di NTT dan terkhususnya di Sumba," kata Pdt. Alfred.

Dikatakan, pelaksanaan Hari Raya Imlek tahun ini masih dalam suasana Pandemi Covid-19, oleh karena itu, dalam merayakannya diharapkan tetap memperhatikan prokes.

"Kita di Sumba saat ini masih terdapat kasus Covid-19. Karena itu, saya harapkan bagi saudara-saudara kita yang akan merayakan Hari Raya Imlek, supaya tetap memperhatikan dan menerapkan prokes yang ketat," kata Pdt. Alfred.

Dijelaskan, pendisiplinan terhadap prokes tersebut, demi menjaga kesehatan dan keselamatan bersama. Juga untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

Sementara Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Atambua, Romo Inosensius Nahak Berek, Pr mengungkapkan, perayaan Imlek tahun ini dimaknai sebagai momen mempererat persaudaraan satu sama lain. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, kita mesti perdalam solidaritas antar sesama.

"Dengan merayakan Imlek tahun ini, mari kita mempererat persaudaraan satu sama lain. Membangun komunikasi cinta demi meningkatkan persahabatan sejati. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, kita perdalam solidaritas antar sesama", ungkap Romo Ino, Rabu (10/2).

Menurut Romo Ino, Imlek tahun ini dirayakan dalam pandemi Covid-19, tentu suasana perayaannya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti berkumpul dengan keluarga besar. Namun kondisi itu tidak mengurangi makna utama Imlek sebagai tahun baru, harapan baru dan keberuntungan baru.

Di pandemi Covid-19 ini, umat tetap memaknai Imlek sesuai kondisi saat ini untuk saling berbagi kasih, saling mengingatkan terutama dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga.

"Kita saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan agar kesejahteraan dalam hidup bersama bisa terjalin tanpa batas waktu", tutur Romo Ino.

Romo Ino mengucapakan selamat bagi saudara-saudari yang merayakan Imlek dalam wilayah Keuskupan Atambua. (yen/hh/kk/cr5/yel/jen)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved