Breaking News:

Salam Pos Kupang

Pengolahan Sampah Medis

PANDEMI Covid-19 juga berdampak pada meningkatnya sampah medis /limbah medis rumah sakit di Kota Kupang

Pengolahan Sampah Medis
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PANDEMI Covid-19 juga berdampak pada meningkatnya sampah medis /limbah medis rumah sakit di Kota Kupang, seiring dengan bertambahnya pasien.

Upaya penanganan oleh pihak rumah sakit terkendala insinerator atau mesin pembakar sampah medis rusak. Meski berbahaya, sampah/limbah medis pun dibiarkan menumpuk hingga menggunung.

Ketua Komisi II DPRD Provinsi NTT, Kasimirus Kolo mengungkapkan, sebanyak 40 ton sampah medis di Kota Kupang belum dimusnahkan. Ia menyebut sampah medis di RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang sekitar 15 ton hingga 20 ton. Sementara itu, total sampah medis rumah sakit lainnya mencapai 30 ton.

 Al dan Andin Mesra, Tatapan Arya Saloka ke Amanda Manopo Disorot! Alur Ikatan Cinta 8 Februari 2021

"Kalau tidak dilakukan penanganan melalui pembakaran dengan mesin maka akan sangat berbahaya," kata Kasimirus.

Direktur Rumah Sakit St Carolus Borromeus Belo, dr Herly Soedarmadji mengakui penanganan sampah medis kendala. Sejak Januari 2021 insinerator rusak sehingga pihaknya kewalahan membakar sampah medis.

Meski Pernah  Disebut Lonte,Nikita Mirzani Turut Berduka Meninggalnya Ustaz Maaher, Nyai Ucap ini 

Kondisi yang sama dialami Rumah Sakit Tentara (RST) Wirasakti Kupang. Sudah hampir sebulan sampah medis tidak bisa diangkut untuk dibakar karena alat yang dimiliki PT Semen Kupang dan RS St Carolus Borromeus Belu rusak.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, sekitar 9 ton sampah medis yang berasal dari RSUD SoE menumpuk di TPA Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan sejak Januari 2021. Sampah medis tersebut seharusnya sudah dikirim ke Kupang untuk dimusnahkan. Namun urung dilakukan menyusul terjadi pemutusan kerjasama dengan pihak PT Semen Kupang.

Sampah medis merupakan persoalan klasik. Sudah terjadi dari waktu ke waktu namun belum terselesaikan dengan baik. Manajemen rumah sakit terkesan tidak memprioritaskan penanganan sampah medis sehingga terkesan persoalan ini berlarut- larut. Jika ada perhatian pun tidak sepenuh hati.

Padahal kita tahu bersama bahwa sampah medis sangat berbahaya bagi masyarakat dan lingkungan. Membuang sampah medis sembarang pun bisa memicu persoalan baru.

Salah satu cara mengatasi sampah medis adalah memusnahkan dengan menggunakan insinerator (alat pembakar sampah medis). Sayangnya insinerator yang dimiliki rumah sakit dalam kondisi rusak.

Hal ini mestinya tidak terjadi jika direncanakan dengan baik. Apabila terjadi kerusakan maka segera diperbaiki agar kembali berfungsi. Pembiaran insinerator rusak dalam waktu lama merupakan bentuk kesengajaan. Sikap seperti ini harusnya ditegur dan ditindak.

Kita bersyukur karena Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan membangun tiga unit pusat pengolahan sampah medis, dilengkapi insinerator. Satu unit di Kelurahan Manulai, Kabupaten Kupang untuk mengcover penanganan sampah medis Kota Kupang dan daratan Pulau Timor.

Pusat pengolahan sampah juga dibangun di di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat untuk memusnahkan sampah medis yang berasal dari rumah sakit di wilayah Pulau Flores dan Lembata

Pusat pengolahan sampah ketiga ada di Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah melayani sampah medis di seluruh Pulau Sumba. Kita berharap kehadiran pusat pengolahan sampah dengan kemampuan pembakaran sebanyak 1,4 ton dalam sehari itu dapat mengatasi masalah sampah medis selama ini.

Di sisi lain, kita juga harus mengingatkan agar operasional pusat pengolahan sampah senantiasa diperhatikan. Jangan panas-panas tahi ayam. Pengoperasiannya hanya saat- saat awal, selanjutnya tidak berfungsi. Pengawasan hendaknya diterapkan sehingga pengoperasiannya terkontrol. Jika ada kerusakan elemen mesin segera diperbaiki, jangan dibiarkan berlarut-larut. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved