Konflik Laut China Selatan Makin Panas, Presiden China Xi Jinping Semakin Tegas dan Percaya Diri
Konflik Laut China Selatan Semakin Memanas, Paksaan China diperpanjang hingga blokade ekonomi besar-besaran di Taiwan, Washington mungkin akan campur

Konflik Laut China Selatan Semakin Memanas, paksaan China diperpanjang hingga blokade ekonomi besar-besaran di Taiwan, Washington mungkin akan campur tangan
POS-KUPANG.COM - Konflik di Laut China Selatan rupanya tida terpengaruh dengan pergantian tahun hingga pergantian Presiden Amerika Serikat (AS)
Sebab, faktanya konflik di perairan termahal di dunia tetap memanas.
Malahan memasuki awal tahun 2021, konflik sampai dititik 'siap berperang'.
Ini karena ketegangan antara kedua negara adidaya, AS dan China, telah meningkat selama sebulan terakhir.
Pada bulan Januari, jet militer milik Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) melakukan serangan rudal simulasi terhadap kapal induk Amerika, USS Theodore Roosevelt.
Alasannya kapal induk AS itu berpatroli di perairan dekat Taiwan.
Lebih lanjut, Kementerian Pertahanan China mengeluarkan pernyataan tanpa kompromi pada Kamis lalu yang memperingatkan Taipei bahwa "kemerdekaan berarti perang".
Menulis di Financial Times, Diana Choyleva, kepala ekonom di Enodo Economics, mengatakan bahwa tim risetnya percaya bahwa peluang untuk menghindari konflik di Taiwan telah turun secara dramatis.
Dia berpendapat bahwa Presiden China Xi Jinping semakin tegas dan percaya diri.
Dia melihatnya sebagai takdirnya untuk membawa Taiwan kembali ke pangkuan China.
Tentang pertanyaan apakah AS dan China pada akhirnya akan berperang memperebutkan negara pulau itu, dia menulis.
"Pejabat AS telah lama mengadopsi 'ambiguitas strategis' ketika ditanya apakah mereka akan datang untuk menyelamatkan Taiwan jika terjadi aksi militer China," seperti dilansir dari express.co.uk pada Senin (8/2/2021).
"Jika paksaan China diperpanjang hingga blokade ekonomi besar-besaran di Taiwan, Washington mungkin akan campur tangan."
"Selain taruhan ekonomi, jika disisihkan, AS bisa kehilangan status sebagai kekuatan utama Asia-Pasifik."