Tekan Stunting di Malaka, 10 Desa Kembangkan Program Sandes
program Sandes ini baru dilaksanakan pada tahun 2020 lalu dimana disetiap desa ada TFL bidang pemberdayaan dan Teknik.
Penulis: Edy Hayong | Editor: Rosalina Woso

Tekan Stunting di Malaka, 10 Desa Kembangkan Program Sandes
POS-KUPANG.COM I BETUN---Stunting saat ini menjadi persoalan serius di Kabupaten Malaka. Untuk menekan permasalahan ini, pemerintah pusat melalui dana APBN melaksanakan Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya (Sandes) yang dimulai tahun 2020.
Program ini dikembangkan di Desa Lamea dan Seserai Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka dengan nilai bantuan tiap desa Rp 350 juta. Dana ini dikirim ke rekening Kelompok Swadaya Masyarakat yang dibentuk di desa dengan pengurus terdiri dari Ketua, Bendahara, Sekretaris dan Seksi-seksi.
Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Pemberdayaan di Kabupaten Malaka, Rani Alves, S.Sos menyampaikan ini kepada Wartawan di Betun, Jumat (5/2).
Dijelaskan Rani, program Sandes ini baru dilaksanakan pada tahun 2020 lalu dimana disetiap desa ada TFL bidang pemberdayaan dan Teknik.
Dikatakan bahwa ada 10 desa di Malaka yang menerima bantuan ini yakni, Desa Lamea, Seserai, Weoe, Biris, Rabasa, Forekmodok, Dirma, Alas, Tafuli dan Muke.
Khusus di Desa Lamea dan Seserai yang menjadi desa dampingannya, tutur Rani, ada 29 penerima manfaat.
Rani menjelaskan bahwa Program Sandes Padat Karya merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat marginal/miskin yang produktif berdasarkan pemanfaatan sumber daya alam, tenaga kerja dan teknologi lokal dalam rangka mengurangi kemiskinan, meningkatan pendapatan dan menurunkan angka stunting
Maksud penyelenggaraan Program Sandes Padat Karya ini, lanjut Rani, penciptaan lapangan kerja melalui kegiatan pembangunan secara swakelola dan padat karya. Juga memupuk rasa kebersamaan, gotong royong dan partisipasi masyarakat desa.
Juga meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberdayaan masyarakat desa, Mewujudkan peningkatan akses masyarakat miskin, perempuan, anak dan kelompok marginal kepada pelayanan dasar, dengan berbasis pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Lebih dari itu, menekan jumlah pengangguran, setengah pengangguran dan masyarakat miskin, Membangkitkan kegiatan sosial dan ekonomi di desa dan meningkatkan akses sanitasi.
"Tujuan program Sandes adalah meningkatkan perluasan akses sanitasi dengan menyediakan prasarana dan sarana sanitasi yang berkualitas, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas sumber daya air dan lingkungan. Juga meningkatkan pemahaman tentang sanitasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi masyarakat," kata Rani.
• Polres Kupang Berempati dengan Warga Pulau Kera, Ini yang Diberikan
• NIAT Sholat Subuh Penyelamat Umat dari Api Neraka, Begini Bacaan & Panduan Mengerjakannya
• Bupati Anton Hadjon Terima Kunjungan Kerja DPRD Sikka
• Simon Riwu Kaho : Kepsek Yang Langgar Prokes Covid-19 Harus di Sanksi
• Wakil Gubernur, Josef A. Nae Soi : NTT Akan Dapat 2 PCR Mobile dari Kementerian Kesehatan
Ditanya soal sasaran, mantan aktivis ini menjelaskan, Desa yang memiliki angka gizi buruk (stunting) tinggi, Desa yang memiliki angka BABS tinggi, Desa yang mayoritas penduduknya MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah), termasuk Desa tertinggal dan desa berkembang.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Edy Hayong)