Tuan Guru Bajang

Tiba-tiba Sebut ''Jual Beli Agama' di Indonesia, Ada Apa dengan Tuan Guru Bajang TGB?

Tiba-tiba Sebut ''Jual Beli Agama' di Indonesia, Ada Apa dengan Tuan Guru Bajang TGB?

Editor: maria anitoda
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Tiba-tiba Sebut ''Jual Beli Agama' di Indonesia, Ada Apa dengan Tuan Guru Bajang TGB? 

POS-KUPANG.COM -- Tiba-tiba Sebut ''Jual Beli Agama' di Indonesia, Ada Apa dengan Tuan Guru Bajang TGB?

Tuan Guru Bajang atau Muhammad Zainul Majid mengungkapkan sebuah fenomena yang muncul di Indonesia.

Fenomena yang terjadi di Indonesia, yakni 'jual beli agama' ternyata sudah terjadi sejak abad ke-12 atau 900 tahun yang lalu.

Baca juga: Bacalah Surat Yasin 1-83 Ayat Juzz ke 22-23 Lengkap Surah Yaasin Bahasa Latin, Arab dan Indonesia

Baca juga: Begini Sejarah Integrasi Timor Timur ke Indonesia Hingga Menjadi Negara Timor Leste, Berliku-liku

Baca juga: Terlihat Akur, Tak Disangka Aurel & Atta Halilintar Sempat Putus, Putri Anang: Sebulan Nggak Ngomong

Baca juga: Bacaan Surat Yasin, Mengapa Surat Yasin Begitu Mulia? Ustadz Abdul Somad Beri Penjelasan Lengkap

Saat itu filsuf muslim dan ulama besar Ibnu Rusyd pun sudah mengingatkan keras bahaya dari kebodohan yang bisa berdampak adanya jual beli agama tersebut.

Lewat akun Instagramnya @tuangurubajang pada Selasa (6/8/2019), Gubernur Nusa Tenggara Barat 2008-2013, 2013-2018 ini membagikan capture What’s App dari seorang sahabatnya Ustaz Ade Muzaini.

Di situ Ustaz Ade Muzani membagikan 3 pernyataan Ibnu Rusyd atau dikenal juga sebagai Averroes yang sangat terkenal pada zamannya.

Kutipan pernyataan Ibnu Rusyd terkait jual beli agama dan kebodohan adalah sebagai berikut:

“Memperdagangkan agama adalah bisnis yang laku keras di dalam masyarakat yang diselimuti kebodohan.”

“Musuh terbesar Islam adalah si dungu yang suka mengkafirkan orang lain.”

“Jika engkau ingin menguasai orang bodoh maka bungkuslah setiap kebatilan dengan packaging agama.”

Tuan Guru Bajang atau TGB Zainul Majdi memperkenalkan sedikit soal Ibnu Rusyd.

“Ibnu Rusyd atau dikenal oleh masyarakat Barat dengan Averroes, adalah intelektual ensiklopedis," katanya.

TGB menambahkan, "Menguasai beragam ilmu : filsafat, teologi, kedokteran, linguistik, astronomi, fisika, hukum Islam.”

Ia juga mengaku tidak habis fikir bahwa pemikiran Ibnu Rusyd yang sudah diungkapkan pada abad ke 12 di Spanyol itu ternyata relevan di Indonesia di abad ke-21 saat ini atau tahun 2019 ini atau 900 tahun kemudian.

“Ibnu Rusyd hidup di Spanyol pada abad ke 12. Kita hidup di Indonesia pada abad ke 21. Sembilan abad jaraknya, tapi ujaran Beliau tetap relevan. Untuk menjadi pengingat dan pembangun kesadaran,” paparnya.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved