Kamis, 14 Mei 2026

Cegah ASF, Pemkab Sikka Tutup Sementara Pasar Hewan

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si secara resmi menutup sementara semua Pasar Hewan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ( NTT)

Tayang:
Penulis: Aris Ninu | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ARIS NINU
Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si 

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si secara resmi menutup sementara semua Pasar Hewan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Keputusan ini diambil menyusul meningķatnya kasus kematian babi secara mendadak pada bulan Januari 2021 ini.

Menurut Bupati Sikka yang disapa Robi Idong, kasus kematian babi mendadak di Kabupaten Sikka disebabkan oleh penyakit African Swine Fever ( ASF).

Baca juga: Hebat, Sebulan Dibuka Penghasilan Tasi Oetuke Mencapai  Rp 15 Juta

Karena itu, Pemkab Sikka sudah berkoordinasi dengan para pengurus pasar untuk melarang sementara warga berjualan babi di pasar. Hal ini guna menekan penyebaran virus ASF.

"Pasar ternak babi yang ada di wilayah Sikka ini kita tutup sementara. Surat instruksinya  sudah keluar dan kita sudah kirim ke setiap kecamatan, kelurahan hingga di tingkat desa," papar Bupati Roby kepada POS-KUPANG.COM di Maumere, Selasa (26/1/2021) pagi.

Baca juga: Pekan Ini PTT Bisa Kembali Bekerja 

Bupati Roby menjelaskan, meningkatnya kasus ASF di Sikka disinyalir akibat perdagangan babi antarkabupaten. Yang mana, terdapat indikasi masuknya babi dari wilayah Nagekeo, Ende dan Flores Timur ke Kabupaten Sikka.

Selain menutup sementara pasar hewan, warga juga dilarang untuk memindahkan atau memobilisasi ternak babi antardesa atau antar kecamatan.

"Daging babi atau produk olahan lainnya juga tidak boleh beredar sembarang. Kalau memang ada kebutuhan mendesak seperti kedukaan harus seizin dinas pertanian Kabupaten Sikka," kata Bupati Roby.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha merincikan, pada Januari 2021 sudah terdapat 500 kasus kematian babi secara mendadak.

"Data yang ada pada kami kasus kematian babi di Kabupaten Sikka terus meningkatkan. Sampai saat ini sudah ada 500 babi yang mati. Itu yang terdata di kami belum lagi babi yang mati lalu tidak dilaporkan ke kami," kata Mauritz.

Mauritz mengatakan, pihaknya terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada peternak babi agar menjaga kebersihan kandang dan kualitas pakan.

"Pakan yang baik itu harus dimasak sehingga virus mati. Yang Penting  sekarang adalah jangan dulu bawa babi dari luar daerah," papar Mauritz.

Ia menjelaskan, sampai sekarang vaksinnya belum ada.

"Maka itu langkah kami berikan edukasi kepada warga. Langkah edukasi diharapkan bisa membuat peternak sadar. Namun terpenting kalau ada pemotongan babi lapor ke dinas agar diperiksa kesehatan babinya," imbuh Mauritz. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved