Reshuffle Kabinet

Menteri Kesehatan Baru Budi Gunadi Sadikin Bukan Dokter, IDI Tidak Keberatan, Yang Penting Ini

Pengangkatan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan (Menkes) baru menggantikan Terawan Agus Putranto memantik komentar.

Editor: Agustinus Sape
KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA
Budi Gunadi Sadikin 

Presiden Jokowi baru saja melakukan reshuffle kabinet.  Salah satu yang kena reshuffle adala Terawan Agus Putranto.

Terawan baru saja dicopot dari jabatannya.

Ya pencopotan Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan RI Joko Widodo dinilai oleh pengamat sebagai sesuatu yang wajar.

Hal ini mengingat sejumlah kontroversi Terawan selama Pandemi Virus Corona melanda Indonesia.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi me-reshuffle empat nama Menteri di Kabinet Indonesia Maju, dan satu di antara menteri yang dicopot ialah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Kemudian, posisi Menteri Kesehatan digantikan oleh Budi Gunadi Sadikin.

"Budi Gunadi Sadikin, Dirut Bank Mandiri kemudian menjadi Dirut PT Asahan Alumuniium dan Wakil Menteri BUMN."

"Dan Sekarang kita berikan tanggung jawab untuk memimpin Kementerian Kesehatan," kata Presiden Jokowi di Istana Negara, Selasa (22/12/2020).

Diketahui, penggantian Menteri Kesehatan memang santer terdengar sejak isu reshuffle atau perombakan Kabinet Jokowi-Mak'ruf mencuat.

Berbagai pengamat menilai, sosok Terawan Agus Putranto memang layak untuk digantikan.

Hal itu lantaran kinerjanya sebagai Menteri Kesehatan yang sangat vital di masa pandemi Covid-19 ini, tidak memuaskan.

Terlebih, sosoknya kerap kali menuai kontroversi terkait desas-desus penanganan pandemi Covid-19.

Terawan pun dinilai sangat jarang tampil di hadapan publik untuk menjelaskan penanganan pandemi Covid-19.

Bahkan, jurnalis sekaligus presenter Najwa Shihab sampai mewawancarai bangku kosong untuk menyindir Terawan.

Sebab, sosoknya tidak pernah mau untuk hadir saat diundang ke acara Mata Najwa.

Padahal menurut Najwa, kehadiran Terawan sangat diperlukan untuk menjelaskan kepada publik terkait situasi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Sementara, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai wajar jika Terawan sulit muncul ke publik.

Sebab, sejak awal pandemi Covid-19, Terawan sering membuat pernyataan yang memicu kontroversi.

Seperti saat Terawan menyebut, orang Indonesia tidak akan tertular Covid-19.

"Sampai sekian lama ya Menkes tidak muncul, sebab komentarnya tidak friendly dan tidak memberi kejelasan kepada masyarakat," tutur Agus, dikutip dari Kompas.com.

Pernyatan-pernyataannya yang menuai kontroversi terjadi pada Februari-Maret lalu, saat awal pandemi menimpa Indonesia.

Hingga akhirnya, setelah pernyataannya menjadi kontroversi, Terawan mulai jarang tampil di hadapan publik.

Berikut tiga pernyataan Menkes Terawan yang menuai kontroversi saat awal pandemi Covid-19:

1. Bersyukur Covid-19 tak terdeteksi dan kekuatan doa

Pernyataan bersyukur Covid-19 tidak terdeteksi ini disampaikan Terawan pada 11 Februari lalu, saat virus corona belum terdeteksi di Indonesia.

Terawan mengaku heran dengan wartawan yang terus-terusan mempertanyakan keberadaan virus corona di Indonesia.

Ia memastikan pemerintah terus berusaha melakukan tes untuk mendeteksi Covid-19.

Terawan pun meminta masyarakat bersyukur karena virus corona belum terdeteksi di Indonesia.

"Kalau tidak (ada temuan virus corona) ya justru disyukuri, bukan dipertanyakan."

"Itu yang saya tak habis mengerti, kita justru harus bersyukur Yang Maha Kuasa masih memberkahi kita," kata dia.

Ketika itu sejumlah pakar dan epidemiolog sudah mempertanyakan kemungkinan Covid-19 masuk ke Indonesia, namun tidak terdeteksi oleh pemerintah.

2. Misinformasi soal pasien 1 dan 2

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia.

Menkes Terawan turut mendampingi Presiden Jokowi saat menyampaikan pengumuman.

Terawan menyebut kedua pasien adalah ibu dan putrinya yang tinggal di Depok, Jawa Barat.

Keduanya tertular dari warga Jepang domisili Malaysia yang sempat datang ke Indonesia dan berkunjung ke rumah mereka di Depok.

"Ini kan teman dekatnya, datangnya ke rumah dong. Di sini, di daerah Depok (rumahnya)," kata Terawan.

Terawan juga menyebut, warga Jepang itu baru terdeteksi positif corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia, setelah itu, Kemenkes melakukan penelusuran kontak.

Namun belakangan terungkap ada perbedaan informasi yang disampaikan Menkes dengan pengakuan kedua pasien positif Covid-19.

Pasien 2 menegaskan anaknya tak kenal dengan WN Jepang, hal ini berbeda dengan keterangan Menkes yang menyebut WN Jepang itu berkunjung ke rumah pasien di Depok.

"Anak saya tidak kenal," kata pasien 2.

Pasien 2 mengatakan, anaknya menjadi host dalam sebuah acara yang diselenggarakan di daerah Kemang.

Kebetulan, saat itu ada seorang perempuan WN Jepang di acara tersebut.

Pasien 2 juga menegaskan, ia dan anaknya lah yang berobat ke RS dan meminta untuk dilakukan tes Covid-19.

Permintaan ini diajukan setelah mereka mendapat kabar bahwa WN Jepang yang hadir di acara dansa dinyatakan positif corona.

Jadi, bukan hasil penelusuran kontak seperti yang disampaikan Terawan.

"Atas inisiatif saya, kami minta kepada dokter untuk dilakukan tes virus corona saja. Terus terang kami khawatir terhadap diri kami," kata pasien kasus 2.

3. Penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya

Terawan sempat mengaku heran dengan hebohnya respons publik pasca-pengumuman kasus pertama Covid-19 di Indonesia.

Terawan mengatakan, publik mestinya tidak perlu khawatir karena penyakit flu yang biasa menjangkiti warga Indonesia justru mempunyai angka kematian lebih tinggi daripada virus Corona.

"Padahal kita punya flu yang biasa terjadi pada kita, batuk pilek itu angka kematiannya lebih tinggi dari yang ini corona tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa," kata Terawan di Kantor Kemenkes, Senin (2/3/2020).

Terawan menuturkan, respons publik atas virus corona ini disebabkan oleh cara pandang publik dalam melibat virus tersebut.

"Saya sebagai Menteri Kesehatan ya saya hanya mengimbau mau dibikin horor, heboh, atau tidak, itu tergantung kita semualah, tergantung sudut pandang kita," ujar Terawan.

Terawan juga menyatakan, Covid-19 merupakan penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.

Hal ini dikatakan Menkes terkait tiga pasien positif Covid-19 di Indonesia yang telah dinyatakan sembuh.

"Dan saya merasa sangat berbahagia. Bahwa teorinya benar bahwa memang ini adalah self limiting disease yang akan sembuh sendiri."

"Penyakit yang akan sembuh sendiri," kata Terawan saat jumpa pers di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2020).  (Tribunnews.com/Maliana, Kompas.com/Ihsanuddin)

Artikel ini sudah tayang di https://bangka.tribunnews.com/amp/2020/12/22/menkes-terawan-dinilai-wajar-dicopot-karena-jarang-tampil-saat-pandemi-dan-sederet-kontroversi-ini?page=all

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Profil Budi Gunadi Sadikin, Jebolan Fisika Nuklir, Bankir, Lalu Menkes", Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/12/23/071810026/profil-budi-gunadi-sadikin-jebolan-fisika-nuklir-bankir-lalu-menkes?page=all#page2.

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved