Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Senin 21 Desember 2020: Membawa Yesus

Setelah mendapati dirinya mengandung oleh kuasa Roh Kudus, Maria lalu bergegas berangkat menemui saudarinya Elisabet

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Senin 21 Desember 2020: Membawa Yesus (Lukas 1:39-45)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Maria mengunjungi Elisabet. Demikian kisah Lukas untuk kita. Bahwa setelah mendapati dirinya mengandung oleh kuasa Roh Kudus dan Elisabet sanaknya pun telah lebih dulu mengandung, sesuai kabar dari Malaikat, Maria lalu bergegas berangkat menemui saudarinya Elisabet.

Maria yang tinggal di wilayah selatan mau berjalan kaki, mendaki, menempuh perjalanan panjang untuk mengunjungi Elisabet yang tinggal di wilayah utara. Pertanyaan kecil muncul dalam benak saat merenungkan kisah penting ini: apa sih yang mendorong Maria sehingga mau melakukan itu?

Teringat jawaban yang dulu pernah muncul saat acara sharing Kitab Suci dengan metode 'Tujuh Langkah' bersama teman-teman. Ada yang bilang, "Kabar Gembira dari Malaikat itulah yang mendorongnya".

Argumennya dari pengalaman konkret harian. Kabar gembira apa pun selalu membuncah dalam hati dan mendorong orang untuk berbagi cerita itu kepada orang lain.

Seorang anak yang mendapati namanya termasuk dalam daftar penerima beasiswa dari Ford Foundation, APTIK, atau institusi apa pun, kayaknya tak bisa membendung rasa gembira dan hasrat hatinya untuk menyampaikannya kepada eyang atau opungnya nun jauh di pelosok yang telah dimintai doanya.

Ada juga yang katakan, "Ah ... sebagai adik tentu Maria ingin membantu cecenya yang lagi hamil. Apalagi Elisabet khan mengandung pada usia 'nenek-nenek". Ini alasan logis dan sangat manusiawi.

Soalnya, berapa sih usia ideal untuk hamil bagi seorang wanita? Tentu Elisabet jauh dari ideal, bahkan tergolong berisiko karena usianya lebih dari 70 tahun.

Tapi ada alasan yang sungguh mencengangkan. "Maria berangkat pergi karena Yesus telah dikandung dalam 'rahimnya". Setelah menerima kabar Malaikat, Maria lalu mengandung Yesus. Dan, Maria terdorong membawa Yesus kepada Elisabet.

Atau lebih tepat, Yesus mendorong Maria untuk berangkat pergi kepada Elisabet, untuk bertemu Yohanes dan berbagi sukacita dengan Elisabet.

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan bersemayam dalam Tabut Perjanjian. Tabut itu diusung oleh bangsa Israel dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi dalam Perjanjian Baru rupanya Tuhan lebih senang tinggal dalam Tabut Perjanjian yang hidup, yaitu manusia dan itu dimulai dengan Maria. Maria, seorang perawan, telah menjadi Tabut Perjanjian yang baru.

Tabut memang lambang, simbol kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, yang menyertai, membimbing dan melindungi bangsa Israel. Raja Daud dahulu pernah menari kegembiraan di depan Tabut dengan seruan kemenangan.

Dan, Maria, rahimnya, hatinya, telah dijadikan Tabut oleh Tuhan. Seruan kegembiraan Daud hampir secara harafiah diulangi oleh Elisabet di depan Maria, Tabut Perjanjian Baru!

"Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan" (Luk 1:44).

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved