KABAR SEDIH dari Gus Miftah, Ustadz Yusuf Mansur Harus Dirujuk ke Rumah Sakit, Kondisi Memburuk?
Kabar Sedih Disampaikan Gus Miftah, Ustadz Yusuf Mansur Harus Dirujuk ke Rumah Sakit, Kondisi Memburuk?
Penulis: Bebet I Hidayat | Editor: Bebet I Hidayat
Kabar Sedih Disampaikan Gus Miftah, Ustadz Yusuf Mansur Harus Dirujuk ke Rumah Sakit, kondisi memburuk?
POS-KUPANG.COM - Kabar Sedih disampaikan Gus Miftah pimpinan Ponpes Ora Aji, Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.
Sahabat Deddy Corbuzier ini mengabarkan kondisi terkini koleganya yakni Ustadz Yusuf Mansur.
Melalui unggahan akun instagramnya, Gus Miftah mengabarkan kondisi terkini dari Ustadz Yusuf Mansur yang dikabarkan terpapar Covid-19.
Setelah menjalani isolasi mandiri, ternyata Ustadz Yusuf Mansur harus dirujuk ke Rumah Sakit.
Ustadz Yusuf Mansur dirujuk ke RSPAD pada Sabtu (12/12/2020) sore.
Baca juga: Pendaftaran Tamtama TNI AU Masih Dibuka, Rekrutmen Minimal Ijazah SMP Hingga 31 Desember 2020
Setelah sebelumnya Ustadz Yusuf Mansur mengeluhkan tidak bisa tidur.
Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan kondisi Ustadz Yusuf Mansur yang sempat memburuk dan harus dirawat di Rumah Sakit.
Berikut isi unggahan Gus Miftah di akun instagramnya:
Mohon doa terbaik untuk Ustadz @yusufmansurnew hari ini beliau di rujuk Ke Rumah sakit
Segera sehat guru ku...... we love youuuu
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
"Ya Allah Rabb manusia, dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan dari kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit." (HR. Bukhari)
Positif Corona, Netizen Ramai-ramai Mendoakan
Kabar buruk datang daridai kondang, Ustaz Yusuf Mansur.
Sang Ustaz dikabarkan positif terjangkit virus corona atau covid-19
Kabar tersebut diketahui Instagram milikya pada Kamis 10 Desember 2020.
Sang Ustadz juga memperlihatkan hasil laporan medis di postingannya.
Dia kemudian meminta doa kepada netizen agar bisa sehat seperti sedia kala.
"alhamdulillaah. segala puji bagi Allah. saya dan fadhil, sementara positif Covid. bismillaah. minta didoakan ya. juga buat yang lain. saya yg baris kedua bawah. mksh atas segala doanya. insyaaAllah nanti Allah kembalikan lagi immun dan kesehatannya, dan kemudian swab lagi, negatif. aaamiin," tulisnya
Postingan tersebut seketika banjir komentar dan like.
Baca juga: Apakah Asli Gissel Anatassya?Tak Bantah Soal Video, Sebut Keluarga Menguatkan, Senasib dengan Ariel?
Mereka mendoakan kesembuhan sang ustadz.
derrysulaiman: Alfatihah... doakan kami tadz... doa org sakit makbul.
ipphoright: Sehat kembali, Ustadz. 100% sehatnya. Kita mah melihat Ustadz selalu ceria dan optimis. Insya Allah ini pertanda imun-nya kuat. Apalagi banyak yang mendoakan. Cepat sehatnya... Bismillah
indriastuti41: Safakallah pak ustadz
salamahmamaecha: Saat ini saya juga positif ustadz, mohon doanya juga
Sering Mengantuk, Bicara Kacau Kadang Tak Nyambung,Awas Delirium Gejala Baru Pasien Covid-19
Kamu sering mengantuk, bicara kacau kadang tak nyambung? Awas, bisa saja kamu terkena delirium, Gejaka Baru Pasien Covid-19
Delirium dilaporkan menjadi gejala baru covid-19 yang diamati dari pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi virus Corona.
Apa itu delirum gejala baru yang dialami pasien covid-19? simak ulasannya.
Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr Rubiana Nurhayati, Sp.S. mengatakan delirium adalah keadaan di mana kesadaran seseorang menjadi terganggu.
"Keadaan ini disebabkan karena hypoxia atau kekurangan oksigen di otak. Kondisi ini sering terjadi pada pasien covid-19, di mana saturasi oksigen menurun," kata dr Rubi saat dihubungi Kompas.com, Kamis (10/12/2020).
Dr Rubi mengungkapkan bahwa delirium sering terjadi pada penyakit-penyakit yang menganggu fungsi otak.
Namun, bisa juga terjadi pada pasien dengan kelainan metabolik, seperti hipoglikemia, hiponatremia dan lain sebagainya.
"Biasanya, gejalanya mudah mengatuk, bicara kacau, kadang tidak nyambung, kesadaran terganggu," jelas dia.
Lantas, apa itu delirium dan bagaimana ini menjadi gejala baru covid-19?
Dilansir dari Stat News, dalam sebuah studi menemukan bahwa delirium mungkin menjadi gejala peringatan dini infeksi virus SARS-CoV-2 pada orang dewasa yang lebih tua.
Lebih dari seperempat pasien yang lebih tua dalam penelitian itu tiba di IGD rumah sakit dengan mengigau dan 37 persen dari pasien ini tidak memiliki tanda covid-19 yang khas, seperti demam atau sesak napas.
Baca juga: Adegan Ranjang Al & Andin Bikin Baper,Nino Gagal Ceraikan Elsa,Saksikan Ikatan Cinta RCTI Malam Ini
Delirium adalah tanda umum dari setiap infeksi pada orang tua yang sistem kekebalannya merespons penyakit yang diakibatkan oleh virus atau bakteri secara berbeda, dibandingkan pada orang dewasa yang lebih muda.
Gejala delirium yang umum yakni kebingungan, kurang fokus, disorientasi dan perubahan kognitif lainnya.
Pasien yang dirawat di rumah sakit karena covid-19, jika mereka membutuhkan ventilator, adalah yang rentan terhadap delirium.
Dengan mengidentifikasi delirium sebagai gejala covid-19 pada pasien sebelum dirawat, dinilai penting untuk melindungi orang lain dari infeksi.
Selain itu, penting juga untuk mengambil tindakan perawatan yang tepat, sebab secara umum, pasien dengan delirium cenderung lebih menunjukkan sakit yang parah dibandingkan pasien lainnya.
""Delirium adalah baromater yang bagus," kata Wes Ely, seorang ahli paru dan dokter perawatan kritis di Vanderbilt University, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Menurut Ely, informasi ini perlu disampaikan kepada masyarakat awam dan tenaga medis.
Dalam studi yang diterbitkan di JAMA Network Open, para peneliti menganalisis catatan medis dari 817 pasien di tujuh rumah sakit di lima negara bagian yang mengalami lonjakan pasien covid-19 pertama kali pada Maret 2020 lalu.
Rata-rata pasien berusia 77 tahun dan 65 tahun, kesemuanya dinyatakan positif terinfeksi virus SARS-CoV-2
Positif covid-19 tanpa demam hanya delirium
Dari analisis tersebut, lebih dari seperempat, 28 persen didiagnosis mengigau, gejala umum keenam setelah demam, sesak napas, oksigen rendah, batuk dan lesu.
Akan tetapi, sepertiga pasien dengan delirium tidak menunjukkan gejala covid-19 yang lebih khas, hanya delirium yang menjadi gejala covid-19 mereka.
"Salah satu pesan utama kami, terutama saat ini, adalah benar-benar mencoba menyaring semua orang, terutama orang dewasa yang lebih tua,” kata Benjamin Helfand, rekan penulis studi di University of Massachusetts Medical School."
Helfand mengatakan orang yang datang dengan gejala atipikal atau tidak biasa ini harus diskrining dan diuji atau dites covid-19.
Dalam studi tersebut, pasien dengan delirium cenderung berusia di atas 75 tahun, baik tinggal di panti jompo atau fasilitas tempat tinggal bantuan.
Atau di antara mereka pernah mengkonsumsi obat psikoaktif di masa lalu, memiliki penyakit parkinson dan memiliki masalah penglihatan atau pendengaran.
Seringkali, saat datang di IGD, kurang dari setengah pasien diskrining dan didiagnosis menggunakan Mteode Penilaian Kebingungan.
Alat ini dikembangkan oleh Vanderbilt's Ely dan Sharon Inouye dari Harvard Medical School, yang juga menjadi salah satu penulis studi ini.
Baca juga: TERBARU Kode Redeem ML Mobile Legends 13 Desember 2020, Resmi Moonton ML Server Indonesia
Ely mengungkapkan apabila lebih banyak pasien yang didiagnosis dengan beberapa versi alat deteksi delirium, mungkin akan lebih banyak kasus covid-19 yang dapat terdeteksi.
"Jika Anda tidak menggunakan alat delirium, Anda kehilangan sekitar 75 persen dari (pasien covid-19 dengan gejala) delirium. Tidak diragukan lagi bahwa angka yang mereka berikan lebih rendah dari angka delirium yang sebenarnya. Ini akan lebih besar dari itu," kata Ely.
Kendati demikian, para peneliti mengakui keterbatasan tersebut, sebab sebagian besar IGD rumah sakit tidak secara rutin menyaring pasien dengan delirium sebagai gejala baru covid-19.
Penulis studi berharap studi delirium gejala covid-19 ini dapat membantu tanda mengigau yang ditemukan pada pasien covid-19 dapat diketahui dan diobati lebih awal.
"Menambahkan delirium sebagai gejala umum covid-19 akan mencegah kasus-kasus penting terlewatkan dan memungkinkan identifikasi dan manajemen lebih awal dari pasien yang rentan berisiko tinggi untuk hasil yang buruk," tulis peneliti.(*)
Baca juga: Sebanyak 24 Pasien Covid-19 di Belu - NTT Sembuh, Simak Penjelasannya INFO