Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Senin 7 Desember 2020, Pesta Santo Ambrosius: Pengampunan yang Utama
Kita perlu mendatangi-Nya dan berharap penuh doa, semoga Yesus pun berkata begini, "Hai saudara, dosamu sudah diampuni"
Renungan Harian Katolik, Senin 7 Desember 2020, Pesta Santo Ambrosius: Pengampunan yang Utama ( Lukas 5:17-26)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Satu hal agak aneh dalam kisah penyembuhan seorang lumpuh yang digotong oleh beberapa orang baik dan menurunkannya dari atap rumah. Kepada orang lumpuh, Yesus bukannya berkata, "Bangunlah ... berjalanlah" atau "Bangkitlah ... lumpuhmu sudah dibetulin", melainkan Ia justru berucap, "Hai saudara, dosamu sudah diampuni" (Luk 5:20). Membingungkan! Mengapa Yesus berkata begitu?
Sepintas bisa dimengerti kenapa para ahli Taurat mempersoalkan hal aneh yang diperlihatkan oleh Yesus itu. Orang sakit, lumpuh, tak bisa berjalan, kenapa yang diomongin dan diurusin soal dosa? Lagian, para ahli Taurat itu berkedudukan dan punya peran sebagai pelindung dan penjaga ajaran yang benar.
Menurut ajaran tradisional Yahudi, sakit memang terkait juga dengan dosa. Dosa hanya dapat diampuni oleh Allah. Atau, tepatnya oleh imam, yang melalui doa dan persembahan memohon pengampunan dosa manusia.
Nah ... di mata mereka, Yesus bukanlah imam dan bukan pula Allah. Jadi, dengan berkata, "Dosamu sudah diampuni", Yesus tentu meng-kudeta para imam. Ia "merebut" wewenang para imam.
Dan, lebih jauh lagi, Ia telah menghujat Allah. Ini tergolong dosa sangat berat. "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" (Luk 5:21).
Tapi orang dibuat terperangah dengan ucapan tangkisan Yesus kepada para ahli Taurat. "Manakah lebih mudah, mengatakan, 'dosamu sudah diampuni' atau mengatakan, 'Bangunlah dan berjalanlah?" (Luk 5:23).
Seakan Yesus berucap begini, "Eee ... kalian kira berucap, 'dosamu sudah diampuni" emangnya lebih gampang? Enak aja! Hei bro ... kalian justru keliru. Menyembuhkan tubuh, raga, fisik itu jauh lebih mudah ketimbang mengobati batin, menyembuhkan jiwa. Dosa tuh penyakit yang paling gawat. Akar dari segala penyakit".
Dari pengalaman, cukup sering terjadi kejadian seperti ini. Tiap kali mengeluh sakit di lambung dan ulu hati, dokter yang didatangi selalu berucap, "Ingat ... jangan terlambat makan dan atur pola makan pun makanan yang dimakan.
Selain itu, ini yang penting, 'jangan stress!" Pikiran yang terbebani dan hati tak tenang memang jadi akar penyebab sakit maag dan konon juga banyak penyakit lain.
Pembimbing rohani cukup sering beri nasihat: Jiwa yang "sakit" atau ketidakberesan hidup rohani sering kali mengganggu kesehatan jasmani.
Tidaklah heran, Yesus mulai penyembuhan orang lumpuh itu dari usaha membereskan keadaan jiwanya. "Hai saudara, dosamu sudah diampuni" (Luk 5:20). Percuma orang "beres" secara lahiriah, tapi hati belumlah bersih.
KITA?
Mungkin ada anggota keluarga kita, tetangga, kenalan yang sakit dan menderita. Atau, yang "lumpuh" oleh beban hidup atau apa pun. Kita perlu membawanya kepada Yesus.
Tapi fokus kita bukan hanya berharap agar dia disembuhkan sakit fisiknya, melainkan terlebih dosa-dosanya. Itu yang paling utama dan penting.