Breaking News:

Saatnya DI Kodi di Sumba Barat Daya Menjadi Hamparan Sawah

TAHUN 2013 Ditjen SDA Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II ( BWS NT II) NTT membangun Bendung Daerah Irigasi Kodi

DOKUMEN PPK IRIGASI DAN RAWA III BWS NT II NTT
Bendung Kodi 

POS-KUPANG.COM - TAHUN 2013 Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II ( BWS NT II) NTT membangun Bendung Daerah Irigasi Kodi ( DI Kodi) di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Pembangunan Bendung DI Kodi itu sebagai respon pemerintah pusat dalam hal ini Ditjen SDA Kementerian PUPR atas permintaan Pemerintah Daerah SBD saat itu untuk memenuhi kebutuhan  air lahan pertanian di daerah Kodi. Sebab selama itu, para petani di daerah Kodi yang 85 persen menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian mengandalkan produksi padi dari hasil penggarapan lahan kering dan sawah tadah hujan.  

Sebenarnya bukan karena di Kodi tidak ada air sama sekali. Di wilayah Kodi ada  sumber air yang cukup potensial, yaitu  Sungai Kodi. Sungai ini memiliki ketersediaan air yang cukup besar. Kebutuhan debit air untuk DI Kodi sebesar 3,44 M3/detik. Menurut masyarakat setempat, air di sungai tersebut tidak pernah kekeringan sepanjang tahun.

Baca juga: Nakes Puskesmas Oepoi Lakukan Swab, Ernest : Menekan Angka Covid Jangan Egois 

Namun, air dari Sungai Kodi tersebut tidak bisa digunakan oleh masyarakat setempat untuk kebutuhan irigasi, karena kondisi topografis di wilayah itu berbukit-bukit. Dengan pembangunan Bendung DI Kodi diharapkan dapat mengatasi masalah kekurangan air dalam mengelola lahan tidur menjadi  lahan pertanian yang beririgasi.

Bangunan sadap DI Kodi
Bangunan sadap DI Kodi (DOKUMEN PPK IRIGASI DAN RAWA III BWS NT II NTT)

Kasatker PJPA NT II, Hendra Kurniawan, ST, MT melalui PPK Irigasi dan Rawa III, Bonefasius Jas, SST, Jumat (20/11/2020), menjelaskan, secara keseluruhan infrastruktur yang sudah dibangun pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian PUPR di DI Kodi sudah cukup memadai. Air juga sudah mengalir dan sudah bisa digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan irigasi. Yang menjadi persoalan saat ini ialah pemanfaatan hasil pembangunan infrastruktur irigasi masyarakat belum menunjukan  kegiatan pencetakan sawah. Mestinya kemajuan pembangunan infrastruktur irigasi yang ada di DI Kodi diikuti dengan pencetakan sawah sehingga DI Kodi segera berubah menjadi hamparan sawah.

Perlu Digerakkan

Pembangunan infrastruktur apapun yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat.  Pembangunan infrastruktur jaringan irigasi di DI Kodi untuk menyalurkan air irigasi.

Saluran irigasi DI Kodi
Saluran irigasi DI Kodi (DOKUMEN PPK IRIGASI DAN RAWA III BWS NT II NTT)

Untuk pencetakan sawah di DI Kodi, menurut Bonefasius Jas, secara teknis menjadi kewenangan Dinas Pertanian. Sudah ada respon dari Dinas Pertanian Provinsi NTT yaitu  sudah membuat disain pencetakan sawah. Tapi mungkin belum ada anggaran sehingga belum ada tindak lanjut hasil disain tersebut,” jelas Bonefasius.

Baca juga: Mobil Bekas Murah Untuk Keluarga, Deretan Mobil Seri MPV Dibawah Rp 100an Juta Pada November 2020

Diharapkan agar Pemerintah Daerah dapat memberikan motivasi bagi masyarakat untuk dapat dengan kemampuanya serta bimbingan teknis bisa merubah pola pertanian lahan kering menjadi sitem pertanian lahan basah atau sawah.

Selain menggerakkan masyarakat, Kepala wilayah juga secara intensif atau terus menerus melakukan koordinasi dengan instansi teknis terkait dalam hal ini Dinas Pertanian mohon bantuan untuk segera merealisasikan program pencetakan sawah. Dengan koordinasi yang lancar  program pencetakan sawah akan segera direalisasikan.

Bendung DI Kodi dibangun sejak tahun 2013 dan pembangunan jaringan irigasi dilakukan secara bertahap mulai tahun 2014. 

Buka lahan di DI Kodi
Buka lahan di DI Kodi (DOKUMEN PPK IRIGASI DAN RAWA III BWS NT II NTT)

Sampai dengan tahun 2018 panjang saluran yang sudah dibangun 13,50 kilometer (km). Ditambah dengan saluran yang dibangun tahun 2020 sepanjang 4 km sehingga total panjang saluran saat ini menjadi 17,50 km.

Bangunan bagi sadap yang sudah dibangun sampai dengan tahun 2018 ada 11 buah. Ditambah 4 buah yang dibangun tahun 2020 sehingga jumlahnya menjadi 15 buah.

Luas lahan baku DI Kodi 3.000 Ha. Sampai dengan tahun 2018 outcome  1.236 Ha ditambah tahun 2020 outcome 709 Ha sehingga total outcome saat ini menjadi 1.945 Ha. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kanis Jehola)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved