Public Service Pos Kupang

Peternak Babi di Mabar Resah

Kami peternak babi di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) merasa resah, karena Virus African Swine Fever ( ASF)

Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA/Facebook Imelda Sau
Ternak babi milik Imelda Sau yang mati secara tiba-tiba. 

POS-KUPANG.COM - Selamat pagi Pos Kupang. Kami peternak babi di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) merasa resah, karena Virus African Swine Fever ( ASF) atau kasus demam babi Afrika telah mewabah di daerah kami. Berdasarkan pemberitaan sudah lebih dari 600 ekor babi mati karena wabah tersebut.

Ternak babi yang kami pelihara memang belum terserang ASF, tapi kami sangat khawatir jika terkena wabah yang belum ada obatnya tersebut. Terlebih, babi yang terserang ASF pasti akan mati.

Hal itu tentu sangat berpengaruh dan merugikan secara ekonomi. Apalagi, babi memiliki nilai ekonomis tinggi dan sebagai penyangga ekonomi keluarga mayoritas masyarakat NTT untuk dijual saat ada kebutuhan.

Baca juga: Angin Segar Guru Honorer

Kami berharap dinas terkait dapat merespon dengan cepat agar penularan ASF dapat diminimalisir dan kami juga ingin meminta penjelasan dari pemerintah terkait apa yang harus kami lakukan agar ternak babi kami tidak terkena ASF.

Warga Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Mabar
Yohanes Lewar

Tanggapan

Segera Melapor Jika ada Babi Mati

Kami imbau peternak babi untuk tidak usah panik karena virusnya ini tidak menular melalui udara, tapi dia hanya tertular jika ada kontaminasi dengan babi sakit (terserang ASF), daging olahan babi sakit, pakan dan juga orang.

Baca juga: Jumlah Pelaku Perjalanan di Sumba Timur Mencapai 22.182 Orang

Lalu lintas orang pun kami terus pantau, karena ada trend pembeli entah dari Manggarai dan daerah lainnya berkeliling untuk mencari babi yang sakit untuk dibeli karena biasanya akan dijual dengan harga yang sangat murah.

Hal ini perlu dikhawatirkan, karena bisa saja para pencari babi yang sakit yang berkeliling dari kandang ke kandang dapat membawa serta ASF ke kandang atau ternak babi yang sehat.

Jika mereka datang, harus sediakan tempat cuci tangan dan kaki, gunakan desinfektan dan berikan sendal atau sepatu yang khusus disediakan di kandang, baru boleh ke kandang.

Selain memastikan pakan ternak aman, para peternak juga jangan mencuci kandang atau memberi air kepada ternak dari air yang tidak diketahui sumbernya, misalnya dari selokan atau air kali.

Sebab bisa saja ada oknum yang membuang bangkai babi di kali, sehingga air yang ada berpotensi menularkan ASF. Paling penting, limbah olahan dari babi jangan diberikan kepada babi, karena juga berpotensi menularkan ASF.

Wabah ini memang diakui seperti 'kebakaran' yang dapat menyebar dengan cepat jika tidak ditanggapi secara serius. Jangan tunggu 10 ekor babi mati baru melaporkannya ke petugas.

Kalau dilaporkan lebih awal, petugas akan segera melakukan investigasi dan ternak tersebut dapat dikuburkan, sehingga wabahnya tidak menyebar. (ii)

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Mabar
drh. Theresia P. Asmon.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved