Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara: Kulit Hitam Rambut Makin Gondrong

Muhammad Maahir Abdullah (25) menceritakan, berbagai kegiatan telah dilakukan selama Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara

Editor: Kanis Jehola
TRIBUNNEWS.COM/LUCIUS GENIK
Muhammad Maahir Abdullah (25).Maahir, sapaan akrabnya, seorang diri bersepeda melintasi 34 provinsi di seluruh Indonesia selama 975 hari. 

POS-KUPANG.COM - Muhammad Maahir Abdullah (25) menceritakan, berbagai kegiatan telah dilakukan selama Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara.

Mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia, diving di berbagai pantai, membuat taman baca dan perpustakaan, serta silaturahmi ke organisasi-organisasi atau komunitas-komunitas di berbagai wilayah Tanah Air.

Maahir mengatakan, bersepeda sekaligus pararel pantang pulang rumah sampai perjalanan berakhir belum pernah dilakukan oleh siapapun. "Ini untuk yang pertama," ucap Maahir singkat kepada Tribun, Selasa (10/11/2020).

Baca juga: HKN, Bupati Ende Kampanye Makan Buah, dr. Muna Fatma Beberkan Progres Pembangunan Kesehatan

Maahir menceritakan, dua tahun perjalanan menjelajah Indonesia menggunakan sepeda ia tulis dalam sebuah catatan pribadi. Catatan pribadi itu nantinya akan dijadikan buku yang diharapkan bisa menjadi kajian literatur untuk mereka yang mau menjelajah seperti dirinya.

Sebenarnya output dari Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara ini adalah sebuah buku perjalanan. Sementara ini Maahir menyebut catatan pribadi perjalanannya sebagai Ekspentara, kependekan dari Ekspedisi Penjelajahan Nusantara.

Baca juga: Oktavianus Landi: Terima Kasih Radio Max FM Waingapu

"Sehingga ketika ada pesepeda lain datang ke Indonesia, mereka tahu literatur-nya. Ini nanti menjadi panduan. Kalau mereka suka gunung, misal bule datang ke Indonesia mau tour bersepeda," katanya.

Maahir menceritakan, perubahan fisik secara signifikan ia alami selama dua tahun Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara. Mulai dari warna kulit yang menghitam, hingga rambut yang menjadi gondrong lantaran tidak pernah dipangkas.

"Kedua rambut, saya tidak mencukur rambut saya selama dua tahun perjalanan. Dari pertama berangkat itu rambut pendek, biasa normal. Tidak panjang, tidak pendek-pendek banget. Setelah dua perjalanan jadi gini (gondrong)," kata Maahir.

Berat badan Maahir juga naik turun selama perjalanan. Bila kondisi fisiknya lagi drop, tidak punya uang untuk makan, maka berat badannya akan turun drastis.

Maahir mengungkapkan, selama perjalanan dirinya juga kekurangan asupan protein. Kebanyakan Maahir hanya makan nasi telur atau bahkan nasi sama kuah sayur plus kerupuk, atau setidaknya bisa makan.

"Saya kekurangan protein, maka karena jarang mendapatkan protein gampang lemes, berat badan juga menyusut, apalagi kalau lagi drop, berat badan menyusut," kata Maahir.

Walau berat badan naik turun terus, Maahir punya satu prinsip. Berat badannya tidak boleh kurang dari 50 kilogram. "Tapi saya punya SOP bahwa saya tidak boleh turun dari 50 kg," ujar Maahir.

Namun demikian, berat badan Maahir pernah 40 kg. Saat itu dirinya terkena penyakit Malaria. Pengalaman itu dialami Mahiir saat berada di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

"Saya ada kambuhan, sekarang misal saya capek atau lelah, saya tidak bisa jaga fisik saya drop. Kalau saya drop bisa bangkit lagi malaria saya," kata Maahir.

Lama di Papua

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved