Selasa, 14 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Selasa 10 November 2020: Spiritualitas Hamba

Dengan belajar membangun spiritualitas hamba dari kisah Injil hari ini, kita dibantu untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi Tuhan dan sesama.

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
Fr. Hironimus Taolin 

Renungan Harian Katolik, Selasa 10 November 2020: Spiritualitas Hamba

Renungan Atas Perikop Injil Lukas 17:7-10

Oleh: Fr. Hironimus Taolin
Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang

POS-KUPANG.COM - "Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan" (Lukas 17:10).

Homo Homini Lupus yang berarti manusia adalah serigala terhadap sesamanya, merupakan sebuah ungkapan yang dinyatakan oleh Thomas Hobbes dalam bukunya yang berjudul Leviathan. Ungkapan ini merupakan kritikan terhadap orang yang demi popularitas diri, demi kenaikan jabatan, pangkat atau karier, orang tidak segan-segan “makan” temannya sendiri. Orang dengan mudahnya memfitnah sesama, saling menjatuhkan, menjilat atasan atau mencari muka dan dengan ini orang menjadi serigala bagi sesamanya.

Terhadap ungkapan di atas, kita perlu menegaskan bahwa manusia bukanlah serigala, sehingga menjadi sedemikian keji terhadap sesamanya (homo brutalis). Sesama manusia perlu dilihat sebagai kawan (socius).

Dalam kebersamaan manusia dipanggil untuk menjadi keselamatan bagi sesamanya (homo homini salus). Oleh karena itu untuk menjadi keselamatan terhadap sesama, kita perlu belajar dari kisah hamba dala Injil hari ini agar kita pun memiliki spiritualitas hamba yang membantu kita untuk dapat menjadi berkat bagi sesama, bukannya menjadi serigala bagi sesama.

Sang hamba yang dikisahkan dalam Injil hari ini adalah seorang yang memiliki kesibukan dari pagi sampai malam untuk mengerjakan pekerjaan dari tuannya, mulai dari membajak, menggembalakan ternak, serta menyiapkan makanan bagi tuannya. Kesibukannya ini membuatnya hampir tidak ada waktu baginya untuk bersantai-santai dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Semua yang dilakukan adalah untuk melayani tuannya.

Dari hal ini kita diajak untuk melihat dan merefleksikan diri kita sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, apakah apa yang kita lakukan setiap hari, seluruh kegiatan dan pekerjaan kita, kita lakukan dalam kesadaran iman atau tidak. Artinya bahwa kita perlu melibatkan Tuhan dalam keseluruhan pekerjaan dan kegiatan kita. Dengan demikian maka kegiatan dan pekerjaan kita menjadi lebih bermakna bagi kita.

Selanjutnya, teks Injil menunjukkan bahwa hamba tersebut selalu berusaha memprioritaskan urusan tuannya terlebih dahulu, sebelum ia melakukan urusannya. Ia harus melayani tuannya untuk makan, baru setelah itu ia sendiri boleh makan.

Dari sini, kita belajar untuk menempatkan kehendak dan urusan Tuhan, sebagai yang utama dan terutama dalam rutinitas hidup kita.yaitu dengan memberikan dan mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, bahkan harta kita untuk kepentingan melayani Tuhan atau menjalankan kehendak Tuhan.

Teks Injil juga menampilkan posisi hamba tersebut yang hanya melakukan apa yang disuruh atau dimaui oleh Tuannya. Dia tidak membantah atau melawan tuannya, karena ia tahu bahwa tuannya memiliki otoritas atasnya.  Ini yang dinamakan penyerahan diri secara mutlak.

Tuhan bisa memakai kita atau tidak tergantung dari seberapa besar penyerahan diri kita dan kemauan kita untuk mentaati Dia. Semakin kita taat dan berserah, maka semakin mudah bagi Tuhan untuk memakai kita di waktu-waktu hidup kita. Melayani Tuhan bukan hanya sepenuh waktu, tetapi juga harus sepenuh hati.

Ketika hamba itu telah melayani tuannya, ia tidak mengharapkan terima kasih dari tuannya. Ia melayani karena memang itulah panggilan hidupnya. Ia tidak peduli dengan yang namanya pujian, tepuk tangan, ataupun ucapan terima kasih.

Dari sini kita belajar untuk dalam melakukan pekerjaan kita atau melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup kita, kita lakukan dengan semangat berkurban dan kerendahan hati bahwa kita melakukannya karena memang kita harus melakukannya bukan kita melakukannya untuk mendapat pujian atau sanjungan. Di sini intensi dan motif kita dalam melakukan sesuatu hal perlu dimurnikan.

Hal lain yang dapat kita pelajari dari kisah sang hamba hari ini adalah dimana hamba itu hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia melayani karena tuannya memberikan tanggung jawab kepadanya. Maka ia lakukan itu dengan segenap hati, bukan karena paksaan atau karena gajian.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved