Puskesmas Alak Bangun Kerja Sama dengan La Moringa Tekan Angka Stunting
gebrakan yang dibangun La Moringa dalam memantik minat ibu-ibu berkunjung ke Posyandu merupakan solusi yang luar biasa untuk mengatasi persoalan
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Rosalina Woso
Puskesmas Alak Bangun Kerja Sama dengan La Moringa Tekan Angka Stunting
POS-KUPANG.COM | KUPANG-- Kepala Puskesmas Alak, dr. Panondang Panjaitan berencana membangun kerja sama dengan, pemerintah wilayah setempat dan La Moringa untuk menekan angka stunting di Kecamatan Alak.
Pasalnya, gebrakan yang dibangun La Moringa dalam memantik minat ibu-ibu berkunjung ke Posyandu merupakan solusi yang luar biasa untuk mengatasi persoalan tersebut.
"Tidak hanya itu, kita juga akan memberikan melakukan kerja sama lintas sektor dengan pemerintah Kecamatan Alak untuk mensosialisasikan dan membangun kesadaran masyarakat menanam kelor," ujarnya kepada POS-KUPANG.COM, Senin, 09/11/2020.
Kerja sama lintas sektor menanam kelor tersebut, tutur dr. Panondang, akan direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, kerja sama ini dilaksanakan dengan membuat penyajian bahan makanan yang menarik agar napsu makan anak-anak meningkat.
Ia menjelaskan bahwa, kehadiran La Moringa pada hari ini untuk memberikan edukasi kepada ibu-ibu adalah langkah yang sangat baik.
Puskesmas Alak, lanjut dr. Panondang, sejauh ini selalu memberikan edukasi kepada ibu-ibu dan memberikan makanan tambahan berupa biskuit dari kementrian kesehatan dan roti dengan bahan dasar kelor yang diberikan CSR La Moringa.
Pada kesempatan yang sama Dokter Umum, PTT Puskesmas Alak, dr. Adilhara Alcitamesa Akal mengatakan, ada beberapa kendala yang dihadapi saat ini dalam menekan tingginya angka stunting di wilayah Puskesmas Alak.
"Masyarakat harus tahu apa itu stunting," tukasnya.
Kendala paling urgen mengenai tingginya angka stunting adalah bagaimana mengelolah pola makan anak dan lain-lain.
Dikatakan dr. Lala, sumber daya di NTT yang dijadikan sebagai sumber asupan nutrisi bagi anak-anak sangat memadai. Tetapi pengolahan managemen keuangan dan makanan belum diatur secara baik.
Di samping itu, kebiasaan masyarakat memperhatikan menu makanan yang tepat bagi anak-anak belum dijaga dengan baik.
Baca juga: Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 5 Hal 1 2 3 4 5 6 7 Buku Tematik Pemb 1 Subtema 1 Jenis Makanan Hewan
Baca juga: Polisi Cek Kesiapan Jelang Simulasi Protokol Kesehatan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan
Baca juga: DPMD Ende Gelar Rakor, Semoga Penyaluran Dana Desa Tidak Terlambat Lagi
"Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa, seribu hari pertama itu adalah golden period bagi anak-anak," tutup dr. Lala. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon)