Belum Juga Di-ACC Jadi Anggota ASEAN, Timor Leste Ngotot Ingin Gabung Organisasi yang Lebih Besar

Namun, hingga saat ini Timor Leste belum menjadi anggota Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN.

Editor: Bebet I Hidayat
Serambi Indonesia
Belum Juga Di-ACC Jadi Anggota ASEAN, Timor Leste Ngotot Ingin Gabung Organisasi yang Lebih Besar 

POS-KUPANG.COM - Hasil referendum Timor Timur pada tahun 1999 silam, wilayah yang dulunya dikenal sebagai Provinsi ke-27 Indonesia tersebut, kini telah menjadi negara merdeka dengan nama Repulika Demokratika Timor Leste.

Dengan demikian, sejak 21 tahun silam, daerah itu bukan lagi menjadi provinsi ke-27 Indonesia.

Sejak saat itu Timor Timur secara resmi menjadi Timor Leste, negara tetangga Indonesia, yang bersebelahan dengan wilayah Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur).

Kini Timor Leste layaknya tetangga Indonesia lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan lainnya yang berada di wilayah Asia Tenggara.

Baca juga: TAK DISANGKA, Dulu Jadi Pembantu Rumah Tangga atau ART, Kini Bergelimang Harta, Kaya Raya & Terkenal

Namun, hingga saat ini Timor Leste belum menjadi anggota Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN.

Sementara itu, Timor Leste yang masih menjadi negara termiskin di Asia Tenggara juga di dunia, justru tengah berupaya bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Menurut The Jakarta Post dikutip dari Pos Kupang, Timor Leste memulai pembicaraan resmi untuk bergabung dengan WTO pada Jumat (3/10/2020).

Selain dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan perekonomiannya, ternyata tujuan Timor Leste bergabung dengan WTO juga sebagai batu loncatan untuk aksesi ke ASEAN.

Timor Leste sendiri telah mengajukan permohonan resmi untuk bergabung dengan ASEAN sejak 2011 silam, namun masih ditolak.

Menteri Koordinator Perekonomian Timor Leste, Joaquim Amaral mengatakan, Timor Leste bergabung dengan WTO akan "mempercepat pertumbuhan dan diversifikasi ekonomi".

"Itu juga akan menjadi batu loncatan untuk aksesi ( Timor Leste ) ke ASEAN," katanya.

Sejumlah tiang listrik dan kantor pos polisi Timor Leste (seng merah) yang dibangun oleh pemerintah Timor Leste, masuk 300 meter di dalah wilayah sengketa antara Indonesia dan Timor Leste, Selasa (16/9/2014)
Sejumlah tiang listrik dan kantor pos polisi Timor Leste (seng merah) yang dibangun oleh pemerintah Timor Leste, masuk 300 meter di dalah wilayah sengketa antara Indonesia dan Timor Leste, Selasa (16/9/2014) (Kompas.com)

Amaral mengatakan negaranya "berkomitmen penuh untuk melaksanakan reformasi struktural, legislatif dan kebijakan" untuk memenuhi aturan WTO.

Prosedur aksesi WTO biasanya berlangsung beberapa tahun mengingat kompleksitas perdagangan modern dan kebutuhan akan konsensus di antara anggota, dikutip Pos Kupang.

Disebut bahwa pertemuan berikutnya untuk kasus Timor bisa dilakukan awal tahun depan.

Alasan Mengapa Permohonan Timor Leste Bergabung dengan ASEAN Ditolak

Sebenarnya Timor Leste telah memenuhi persyaratan dasar aksesi ke ASEAN, lalu mengapa permohonannya masih belum membuahkan hasil yang diinginkan?

Ambisi Timor Leste sendiri untuk bergabung dengan ASEAN cukup tinggi, namun banyak alasan mengapa negara tersebut tak kunjung di aksesi.

Selama bertahun-tahun perjuangan negara kecil itu menjadi perhatian utama komunitas internasional.

Timor Leste mati-matian bergabung anggota ASEAN, untuk mencari perlindungan perbatasan dari invasi dan kekuatan yang lebih kuat.

Negara kecil ini memiliki kendalan sumber daya manusia, dan keuangan, oleh sebab itu bergabung dengan ASEAN adalah pilihan terbaik bagi Timor Leste.

Secara ekonomi PDB Timor Leste sekitar 1.442 miliar dollar AS, jauh lebih rendah daripada Singapura, Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Sekitar 90 persen di antaranya pendapatan Timor Leste berasal dari minyak dan gas nasional, yang diprediksi akan kering tahun 2022.

Baca juga: Dulu Benci Setengah Mati ke Indonesia Kini Mantan Petinggi Timor Leste Malah Puji Setinggi Langit

Oleh sebab itu negara itu menyadari pentingnya disversifikasi ekonomi, membuka perbatasannya untuk pariwisata, infrastruktur dan lainnya.

Negara kecil itu memiliki keterbatasan ekonomi yang tidak terdisversifikasi, dan ketergantungan pada impor secara luas.

Bergabung dengan ASEAN, artinya akses ke pasar bebas dan pergerakan bebas di Asia Tenggara, ini dipandang menguntungkan karena bisa mendorong industri Timor Leste.

Akan tetapi, keterbatasan sumber daya merupakan masalah utama Timor Leste menjadi Anggota ASEAN.

Singapura, yang secara ekonomi merupakan anggota terkuat ASEAN, juga merupakan negara kecil.

Kebijakan luar negerinya secara komitmen Singapura bertujuan untuk membantu negara-negara kecil lainnya.

Namun, rupanya Singapura khawatir bahwa keanggotaan Timor Leste akan menjadi beban keuangan bagi negara itu, meskipun PDB -nya meningkat setiap tahun sejak kemerdekaannya.

Karena komitmen ASEAN mengamanatkan membantu negara-negara anggota secara ekonomi dan teknis untuk pembangunan mereka.

Masalah lain yang sering diidentifikasi adalah kurangnya infrastruktur dan sumber daya di dalam negeri.

Ini dapat dikaitkan dengan sejarah Timor Leste yang bermasalah. Setelah milisi dan pasukan keamanan Indonesia menarik diri dari negara pada akhir September 1999.

Infrastruktur negara dihancurkan dan lembaga pemerintah dan pemerintahan berhenti berfungsi.

BBM yang dikemas dalam jeriken yang berhasil digagalkan sebelum diselundupkan ke Timor Leste, Sabtu (27/5/2017) sore.
BBM yang dikemas dalam jeriken yang berhasil digagalkan sebelum diselundupkan ke Timor Leste, Sabtu (27/5/2017) sore. (POS KUPANG/EDY BAU)

Dengan bantuan bantuan dari negara-negara seperti Australia, Portugal, Jepang dan Cina, negara ini perlahan-lahan membangun infrastruktur fisik dan administratifnya.

Ia juga menghidupkan kembali hubungannya dengan Portugal. Banyak elit lokal yang merupakan bagian dari proses pembangunan negara dididik atau hidup di pengasingan di Portugal.

Keberpihakan Timor Leste ke negara-negara Lusophone seperti itu telah menuai kritik dari anggota ASEAN di masa lalu.

Para sarjana hubungan internasional mencatat pentingnya penyelarasan negara-negara kecil dengan negara-negara besar (dalam hubungan internasional dan bukan berdasarkan ukuran geografis) untuk keberadaan mereka.

Dalam kasus saat Timor Leste yang baru berusia 15 tahun, pengesahan dari negara-negara yang lebih kuat sangat penting untuk kedaulatan dan keberadaan internasionalnya.

Keterlibatan dengan Australia atau Portugal dalam hal bantuan dan bantuan teknis memberikan kesempatan yang sangat penting bagi diplomasi Timor Leste.

Namun akibatnya, negara ini menemui jalan buntu dengan tetangga terdekatnya.

Dulu Sebut Indonesia Penjahat Kemanusiaan

Dulu, ketika masih menjadi Propinsi ke-27 Indonesia dengan nama Timor Timur atau Timtim, sebagian besar rakyat Timor Leste menyebut Indonesia sebagai penjajah paling kejam di tanah leluhur mereka, selama puluhan tahun lamanya.

Timor Timur resmi memisahkan diri dari Indonesia sejak 20 Mei 2002 atau pasca-refrendum.

Artinya, negara berdaulat yang bertetangga dengan Provinsi NTT ini sudah berusia 18 tahun.

Negara kecil yang berada di ujung Pulau Timor ini dulu menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saat masih bergabung dengan Indonesia, wilayah negara ini bernama Timor Timur dan menjadi provinsi ke-27.

Pada 30 Agustus 1999, hampir 80 persen rakyat Timor Timur memilih berpisah dari Indonesia.

Referendum yang didukung PBB itu mengakhiri konflik berdarah sekaligus mengakhiri kependudukan mereka sebagai Warga Negara Indonesia.

Pembangunan jalan di Timor Leste.
Pembangunan jalan di Timor Leste. ((ABC News.AU/Michael Barnett))

Memberikan jalan bagi rakyat Timor Leste untuk meraih kemerdekaan.

Namun, setelah puluhan tahun menganggap Indonesia sebagai penjajah kejam dan pembantai, ada satu dan lain hal yang membuat Timor Leste memuji Indonesia.

Melansir Arab News (25 Mei 2018), mantan Perdana Menteri Timor Leste Mari Alkatiri mengatakan bahwa setelah hampir dua dekade berpisah dari Indonesia, hubungan negara dengan tetangganya terus menguat meskipun ada beberapa masalah yang belum terselesaikan.

Alkatiri menjabat sebagai perdana menteri pertama Timor Leste dari 2002 hingga 2006.

Alkatiri mengatakan bahwa Indonesia "adalah pendukung terbesar kami."

Dalam wawancara eksklusif dengan Arab News di sebuah hotel dekat markas besar partai Fretilin pada tahun 2018 lalu, Alkatiri, sekretaris jenderal Fretilin, menggambarkan hubungan Timor Timur dengan mantan penjajahnya sebagai "luar biasa, sangat baik."

“Kami masih memiliki beberapa masalah yang tertunda, seperti perbatasan laut dan darat di Oecussi,” katanya.

Pernyataannya merujuk pada eksklave pesisir Timor Timur yang dikelilingi oleh provinsi Nusa Tenggara Timur di Indonesia, yang terletak di bagian barat Pulau Timor.

Timor Leste terletak di bagian timur pulau itu.

Oecussi adalah zona administratif khusus dan telah ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus dengan Alkatiri sebagai presidennya.

Alkatiri mengatakan kedua negara perlu segera menyelesaikan masalah perbatasan karena akan sulit untuk menetapkan perbatasan laut di Laut Sawu tanpa batas darat yang ditandai dengan jelas.
“Tetapi niat baik dari kedua pemerintah ada di sana,” katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintahan Timor Leste secara berturut-turut akan terus memperkuat hubungan antara kedua negara.

Victor Bungtilu Laiskodat (kini Gubernur NTT) dan Presiden Mari Alkatiri minum wine bersama di Pantai Makasar, Distrik Oecuse, Senin(10/11/2018) silam. (POS-KUPANG.COM/TOMMYMBENU NULANGI)
Alkatiri menyebut Indonesia sebagai "pendukung terbesar" Timor Leste dalam upayanya menjadi anggota ke-11 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Indonesia adalah salah satu negara pendiri ASEAN ketika didirikan pada tahun 1967, dan dianggap sebagai pemimpin de facto.

Indonesia mendukung tawaran ASEAN untuk Timor Leste ketika Timor Leste secara resmi mengajukan permohonannya pada tahun 2011 selama Indonesia menjadi pemimpin ASEAN.

Singapura, ketua saat itu, enggan untuk menyambut Timor Leste ke dalam blok itu.

Tetapi, Singapura mengatakan mengharapkan Timor Leste memenuhi persyaratan untuk mengizinkannya menjadi anggota.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan setelah menjadi tuan rumah KTT para pemimpin ASEAN pada bulan April 2018 bahwa topik tersebut telah dibahas selama forum.

Tetapi "tidak ada diskusi yang diperpanjang tentang masalah tersebut dalam pertemuan ini."

Alkatiri mengatakan bahwa keanggotaan ASEAN adalah "mimpi yang sangat panjang".

Sejauh tahun itu, Timor Leste telah memenuhi dua persyaratan untuk menjadi anggota ASEAN: Negara tersebut terletak di Asia Tenggara dan memiliki kedutaan besar di 10 negara anggota.

“Ini salah satu dari sedikit hal yang menjadi konsensus antara pimpinan Timor Leste, meski ada perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, Xanana Gusmao mengatakan Timor Leste sedang melakukan yang terbaik untuk menjadi anggota ASEAN.

"Kami memahami beberapa negara (anggota) berpikir kami belum siap, tetapi cepat atau lambat, kami akan menjadi anggota," kata Gusmao kepada Arab News dalam wawancara di markas besar partainya Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor (CNRT).

Alkatiri mengatakan, kebutuhan paling mendesak bagi Timor Leste adalah investasi pemerintah dalam infrastruktur publik, seperti pendidikan dan kesehatan, dan pengeluaran untuk kebutuhan hidup dasar, seperti perumahan masyarakat dan air bersih.

Untuk diketahui, hampir setengah dari 1,2 juta penduduk Timor Leste masih hidup dalam kemiskinan,

“Ini adalah negara berusia 16 tahun. Kita masih perlu membangun bangsa; Kita perlu perkuat pondasi bangsa, kelembagaan, pondasi politik, semua orang perlu ikut berusaha,” ujarnya.

Tak Akan Lupa Jasa Soeharto

Penyerbuan dan pendudukan Timor Leste dilakukan tahun 1975 saat Indonesia masih dipimpin Presiden Soeharto

Tidak saja menginvasi, pemerintahan era Seoharto juga membangu  negara itu agar tidak tertinggal dari provinsi lain di Indoneisa setelah wilayah itu menjadi provinsi termuda dengan nama Timor Timur

Indonesia bukan satu-satunya negara yang pernah menduduki Timor Leste.

Sebelum Indonesia menginvasi Timor Leste di tahun 1975, Portugal lebih dulu menjajah wilayah tersebut bahkan selama ratusan tahun.

Meski begitu, kenangan kelam rakyat Timor Leste terkait invasi Indonesia dan tahun-tahun setelahnya mungkin tidak pernah akan hilang.

Di mata Timor Leste , Indonesia tetap merupakan negara yang memberikan kesengsaraan pada mereka.

Selama 24 tahun pendudukan Timor Leste oleh Indonesia diyakini ribuan orang menjadi korbannya.

Konflik, kelaparan, hingga penyakit merupakan hal yang disebut melatarbelakangi keinginan Timor Leste untuk melepaskan diri dari Indonesia.

Invasi Timor Leste oleh Indonesia sendiri terjadi di masa pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Salah satu sudut Kota Dili,Timor Lestedengan latar belakang laut lepas dan patung Cristo Rei atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Kristus Raja. ((Kompas.com))
Tindakan Soeharto itu disebut mendapat dukungan dari Amerika Serikat, terungkap melalui dokumen rahasia yang dirilis usai Timor Leste merdeka.

Kekhawatiran bahwa ideologi komunis dapat masuk ke Indonesia melalui Timor Leste setelah terjadi di Vietnam , dirasakan oleh AS maupun pemerintah Indonesia saat itu.

Mendapat dukungan tersebut, tanpa ragu lagi Soeharto melancarkan invasi Timor Leste pada 7 Desember 1975.

Kemudian awal tahun berikutnya, 1976, Timor Leste jatuh ke tangan Indonesia, menjadi provinsi termuda RI.

Timor Leste diinvasi Indonesia di era Soeharto dan menjadi wilayah Indonesia selama 24 tahun selanjutnya, ternyata rakyat Timor Leste tetap memandang Presiden ke-2 RI tersebut berjasa bagi Bumi Lorosae.

Melansir Kompas.com (28/1/2008), seluruh rakyat Timor Timur, yang kini dikenal Timor Leste, kapan saja dan dimana pun berada tidak akan pernah melupakan jasa besar mantan Presiden Soeharto dalam membangun rakyat dan tanah Timor Lorosae selama masa integrasi Timor Timur dengan Indonesia tahun 1976-1999.

Pengakuan itu disampaikan peraih Nobel Perdamaian 1996 dan mantan Administrator Apostolik Dioses Dili, Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo SDB di Mogofores , Portugal, Senin (28/1) kepada ANTARA melalui email. "Orang Timor Lorosae tidak akan pernah melupakan jasa besar Pak Harto dalam membangun Timtim di segala bidang kehidupan.

"Kita berharap, walaupun Pak Harto telah meninggal dunia namun para pemimpin bangsa Indonesia yang menggantikannya memiliki semangat membangun seperti Pak Harto dan terus menjalin kerja sama Indonesia dengan Timor Leste demi tercapai perdamaian dan kesejahteraan bersama," kata Belo.

Hal tersebut disampaikan Belo selepas meninggalnya Mantan Presiden Soeharto . Saat itu, Belo juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga Pak Harto dan Bangsa Indonesia atas wafatnya mantan Presiden Soeharto.

Uskup Belo mengatakan, ketika mendapat berita bahwa Pak Harto meninggal dunia pada Minggu (27/1) Pkl.13.10 WIB, dirinya seakan-akan pulang ke tanah Timor Lorosae memutar kembali film perjalanan Pak Harto di "bumi matahari terbit" itu antara tahun 1976 hingga 1999.

Presiden Soeharto (kompas.com)
"Kesan saya tentang pribadi Pak Harto, walupun banyak masalah di Timor Timur, tetapi Pak Harto memandang semua itu dengan penuh arif-bijaksana. Beliau adalah Bapa Pembangunan, dan itu benar adanya. Saya bertemu dengan beliau sebanyak tiga kali," kata Uskup Belo.

Saat itu, Uskup Belo juga mengenang pertemuan-pertemuannya dengan Presiden Soeharto.

Pertemuan pertama kali ketika Pak Harto bersama Ibu Tien Soeharto datang ke Dili untuk meresmikan Gereja Katedral Dili.

Pertemuan kedua, ketika Presiden Soeharto meresmikan Patung Kristus Raja di Fatucama, Dili Timur dan perjumpaan ketiga di kediaman Pak Harto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat.

"Saya sudah lupa tanggal dan hari pertemuan kami dengan Pak Harto itu tetapi seingat saya, ketika itu saya bersama Uskup Basilio do Nascimento datang ke Jakarta untuk silaturahmi dengannya. Kami bertemu pada malam hari, dari jam sembilan malam sampai dengan jam 10 malam waktu Jakarta," kata Uskup Belo.

Ia pun masih mengingat bagaimana Presiden Soeharto menerangkan ideologi Pancasila pada mereka.

"Ketika bertemu, beliau menerima kami dengan senyum seorang bapak yang arif-bijaksana. Ketika itulah Pak Harto secara panjang lebar menerangkan ideologi Pancasila kepada kami berdua selaku Uskup Gereja Katolik di Timor Timur," katanya.

Pak Harto sangat berharap agar dua Uskup dari Timtim ini dapat kembali ke tanah Timor Lorosae dan menjelaskan isi Pancasila itu kepada umat Katolik di sana.

"Sebagai manusia, Pak Harto adalah sosok yang simpatik. Sebagai negarawan, beliau telah memimpin Republik Indonesia secara disiplin," kata Uskup Belo.

Jadi Neraka Bagi Perempuan Dilecehkan Hingga Dibunuh

Harapan masyarakat Timor Leste mengakhiri masa kelam setelah lepas dari Indonesia tidak seperti yang diimpikan yaitu hidup bebas dan sejahtera

Aksi para pejuang yang bertahun-tahuin meninggalkan rumah saat kembali menjadikan neraka bagi para perempuan Timor Leste yang dengan setia menjadi benteng di rumah mereka

Kemerdekaan adalah sesuatu yang terdengar menyejukan bagi bangsa yang merasa telah berada di bawah penjajahan.

Sebagian rakyat Timor Leste mungkin merasakannya ketika referendum 1999 menunjukkan hasil bahwa mereka akan segera merdeka.

Tahun itu menjadi saat bagi Timor Leste lepas dari Indonesia setelah 24 tahun menjadi provinsi ke-27 RI.

Konflik, kelaparan, hingga penyakit disebut membuat mereka ingin berpisah dari Indonesia.

Dengan kemerdekaannya, Timor Leste memulai perjalanan sebagai negara yang berdiri sendiri.

Perjuangan para militan pro-kemerdekaan seolah terbayar dengan hasil yang demikian.

Namun, siapa sangka, itu justru awal bagi tragedi baru bagi para perempuan Timor Leste

Melansir theguardian.com (15/1/2001), Tragedi bagi perempuan Timor Timur adalah bahwa mereka yang tewas dalam serangan parang dibunuh oleh suami atau saudara mereka sendiri.

Setelah bertahun-tahun mengalami konflik yang kejam dan brutal, kekerasan yang dipelajari oleh kaum revolusioner saat itu berpindah menyerang wanita mereka.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga meningkat dalam tahun-tahun awal kemerdekaan Timor Leste, menurut Milena Pires (34), seorang pelobi politik Timor yang didanai oleh Institut Katolik untuk Hubungan Internasional.

Disebut bahwa tahun 2000, 169 kasus didokumentasikan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sekarang menjadi kejahatan umum di negara itu, yang merupakan 40% dari semua pelanggaran.

"Mungkin saja perempuan membicarakannya untuk pertama kali - tapi mungkin itu satu-satunya masalah terpenting yang dihadapi perempuan Timor saat ini," kata Pires.

Warga Dili mengantri untuk mendapat pelayanan kesehatan (tangkap layar youtube)
"Di musim panas kami mengadakan konferensi wanita pertama kami dan itu adalah hal yang muncul berulang kali," katanya.

Dikatakan bahwa masalahnya terletak pada ketegangan yang muncul setelah Timor Leste kembali ke negara merdeka.

Pada musim gugur 1999, kekerasan meletus di seluruh wilayah menyusul kemenangan gerakan kemerdekaan dalam referendum yang diselenggarakan PBB.

Pendukung rezim Indonesia mengamuk dan ratusan dibunuh atau dipaksa masuk ke kamp-kamp di seberang perbatasan di Timor barat.

Pada saat tentara Indonesia pergi, hampir semuanya telah hancur.

Namun, setelah kekerasan segera mereda, ketegangan yang lebih dalam, lebih langgeng terungkap ketika orang-orang dari tentara pemberontak Timor Timur , Falantil , kembali ke rumah yang tidak mereka lihat sejak 1975.

Ketika Indonesia menyerang, mereka meninggalkan keluarga mereka di kota-kota dan di pertanian, dan menuju pegunungan dan hutan.

Lima jam perjalanan dari ibu kota Dili, di lembah Ulimori, pertempuran untuk Timor Leste merdeka dilakukan oleh orang-orang yang bertahan hidup dengan makan rusa, kerbau, monyet, dan buah-buahan.

Kode perilaku sangat ketat, tidak ada seks untuk kaum revolusioner dan satu-satunya wanita yang hadir adalah juru masak.

Di antara laki-laki yang ikut berperang adalah Adtik Lintil, yang mengaku jarang bertemu istri dan anak-anaknya selama 17 tahun bersama Falantil.

"Saya tidak menyesal," katanya. "Kami harus berjuang untuk apa yang benar."

Setelah 24 tahun pendudukan Indonesia, orang-orang seperti Lintil kembali ke rumah, ke dunia yang telah berpindah.

Sementara itu, ketika para pria bersembunyi di pegunungan, para wanita Timor melanjutkan pendidikan mereka di pengasingan atau memegang benteng di rumah, seperti yang dilakukan wanita Inggris selama dua perang dunia.

"Wanita terlibat di setiap tingkatan," kata Pires, yang keluarganya sendiri mengasingkan diri ketika dia berusia sembilan tahun dan kemudian belajar sosiologi dan sastra Inggris di Australia.

"Mereka membantu menjalankan kamp, ​​mengirim perbekalan, menyelundupkan informasi. Dan sekarang, saat para lelaki keluar dari persembunyian, mereka tidak ingin kembali ke peran tradisional mereka."

Salah satu kasus yang menimpa wanita Timor Leste setelah negaranya merdeka, yaitu ketika lima wanita yang mengenakan kaos lengan pendek dilempari batu di pasar sentral Dili karena berpakaian tidak pantas dan berbicara di telepon seluler.

Sudah 20 Tahun Merdeka Timor Leste Tak Sanggung Obati Penyakit Warganya Sampai Minta Bantuan Indonesia (via sosok grid.internatinal.la-croix.com)
Lainnya yaitu kekerasan meletus di pantai keluarga ketika sekelompok pria muda menyerang dua wanita yang mengenakan atasan bikini dan sarung.

"Ini adalah masyarakat Katolik yang sangat tradisional yang telah dibekukan oleh tahun-tahun perang," kata Pires.

"Orang-orang itu mencoba menegaskan kembali otoritas mereka," katanya.

Tingginya tingkat pengangguran juga membuat situasi negara yang baru merdeka tersebut kacau.

Laki-laki dipermalukan karena tidak memiliki pekerjaan di negara di mana orang asing kulit putih tampaknya memiliki segalanya untuk mereka, dan kekecewaan mereka telah mengakibatkan meningkatnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

"Ada banyak kemarahan sekarang," kata Pires, "karena orang-orang melihat bahwa apa yang mereka perjuangkan tidak terjadi. Sekarang mereka hanya ingin PBB pergi," katanya saat itu.

Dikatakan, selama pendudukan Indonesia, perempuan dipisahkan dari suami dan anak laki-lakinya, dilecehkan dan sering dilecehkan.

Di kamp-kamp pengungsian, yang sebagian besar dihuni oleh wanita dan anak-anak, kondisi kehidupan sangat buruk, dengan kekurangan makanan, sanitasi yang buruk, dan penyakit yang merajalela.

(*)

Sebagian artikel ini sudah tayang di intisari.grid.id dengan juduL: Negaranya Merdeka Malah Terjerumus dalam 'Neraka', Inilah Kisah Para Perempuan Timor Leste yang Jadi Sasaran Amukan Suami atau Saudara Sendiri https://intisari.grid.id/read/032397039/negaranya-merdeka-malah-terjerumus-dalam-neraka-inilah-kisah-para-perempuan-timor-leste-yang-jadi-sasaran-amukan-suami-atau-saudara-sendiri?page=all

Sebagian artikel ini sudah tayang di intisari.grid.id dengan judul: Indonesia Menginvasi Timor Timur di Era Soeharto, Tapi Sosok Ini Pernah Katakan Jasa Presiden ke-2 RI Tidak akan Terlupakan oleh Rakyat Timor Leste https://intisari.grid.id/amp/032387473/indonesia-menginvasi-timor-timur-di-era-soeharto-tapi-sosok-ini-pernah-katakan-jasa-presiden-ke-2-ri-tidak-akan-terlupakan-oleh-rakyat-timor-leste?page=all

Artikel ini telah tayang di grid.id: https://intisari.grid.id/read/032399454/dulunya-sebut-indonesia-penjajah-kejam-dan-pembantai-begini-pernyataan-mantan-pemimpin-timor-leste-ketika-berbicara-di-hadapan-media-arab-puji-indonesia-setingg?page=all

Artikel ini telah tayang di intisari.grid.id: https://intisari.grid.id/read/032402713/demi-masuk-anggota-asean-timor-leste-malah-nekat-daftar-jadi-anggota-organisasi-yang-lebih-besar-padahal-di-asia-tenggara-saja-ditolak-mentah-mentah-karena-alas?page=all

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved