Renungan Harian Katolik
Universalitas
Yesus selalu menggunakan perumpamaan untuk Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya. Salah satunya dengan biji sesawi.
Renungan Harian Katolik, Selasa 27 Oktober 2020
Universalitas (Lukas 13:18-21)
Oleh: Pastor Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Yesus selalu menggunakan perumpamaan untuk Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya. Salah satunya dengan biji sesawi. Ilustrasi ini Ia gunakan lebih dari sekali dengan maksud yang berbeda-beda.
Dalam Matius 13:31-32, Ia mengibaratkan Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari segala sayuran lain; bahkan menjadi pohon. Pokok yang ditekankan adalah hal-hal yang paling besar dapat mulai dari yang paling kecil. Begitu pulalah Kerajaan Allah.
Versi Lukas yang menjadi bahan permenungan hari ini, membawa kita kepada biji sesawi di mana biji itu tumbuh dan menjadi pohon. Namun penekanan pada burung-burung di udara bersarang pada cabang dan rantingnya.
"Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya" (Luk 13:19).
Di Timur Tengah, pohon besar biasanya digunakan sebagai simbol dari kerajaan besar. Bangsa-bangsa yang takluk dan kerajaan-kerajaan kecil, yang ditipekan sebagai burung-burung, bertengger, berteduh dan menemukan perlindungan di dalam kerajaan besar itu (bdk. Yeh 31:6; Dan 4:10-12).
Pesan pokoknya adalah Kerajaan Allah akan tumbuh dan berkembang sebagai sebuah kerajaan raya di mana segala orang dan bangsa akan datang bersama dan akan menemukan tempat perteduhan dan perlindungan Allah.
Ada banyak hal yang bisa dipetik dari ilustrasi yang digunakan Yesus hari ini. Pesan yang menonjol, Kerajaan Allah itu adalah keinginan dan rencana Allah. Allah menyediakan tempat agar semua orang bisa mendapatkan tempat berteduh dalam keabadian bersama Dia.
Allah juga sudah mulai merealisasikan Kerajaan-Nya. Ia mengutus Yesus, Putera-Nya. Dalam hidup dan karya-Nya, Yesus berulang kali, lewat berbagai cara menyampaikan keinginan Allah itu dan memperlihatkan usaha Allah dalam membangun Kerajaan-Nya.
Kerajaan Allah itu bersifat universal. Terbuka bagi semua orang. Ia menjadi tempat bersarang, tempat perteduhan bagi segenap orang. Semua orang dari mana pun, akan datang dan bernaung di dalamnya.
Kalau begitu, orang harus mulai membiasakan diri untuk merasa at home, nyaman hidup dalam kebersamaan. Orang mesti terbuka untuk menerima orang lain, dengan siapa saja, tanpa sekat-sekat, label-label, barier-barier apa pun.
KITA?
Berpegang pada ilustrasi Yesus, kita boleh selalu ingat, "Biji sesawi Kerajaan-Nya sudah mulai Allah tabur di dunia ini. Ia mengajak semua untuk hidup dalam kebersamaan yang penuh kasih. Ia merangkul semua dengan kasih-Nya yang tanpa batas. Ia beri pertumbuhan untuk kebersamaan itu dan menjadi besar, sehingga semua orang yang ditipekan dengan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya".
Kita inilah burung-burung itu. Saya, engkau, dia, mereka. Kita semua bersarang di cabang-cabangnya, tanpa merasa terganggu dan mengganggu yang lain. Kita semua sama menikmati keteduhan dan kedamaian.
Gereja, paroki, stasi, lingkungan, kring, RT, keluarga, asrama, kantor, pabrik, perkumpulan, bahkan negara adalah bentuk-bentuk konkret kehidupan bersama yang merepresentasikan Kerajaan Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)