Renungan Harian Katolik
Sukses Tidak Harus Kaya dan Nikmat Belum Tentu Bahagia
Orang-orang mendefinisikan kesuksesan dengan berkelimpahan harta benda. Berkelimpahan berarti sudah melampaui asas kebutuhan.
Renungan Harian Katolik, Senin 19 Oktober 2020
Sukses Tidak Harus Kaya dan Nikmat Belum Tentu Bahagia (Lukas: 12:13-21)
Oleh: RD. Frid Tnopo
POS-KUPANG.COM - Suatu ketika saya diundang makan malam oleh satu keluarga sederhana. Undangan itu datang 3 hari sebelum hari yang kami sepakati yakni Jumat malam.
Menjelang Jumat malam saya diingatkan lewat pesan WhatsApp dari seorang anak dari keluarga itu, katanya, "Bapak Romo, mama bilang harus datang, mama sudah potong ayam."
Setelah membaca WA tersebut saya merasa agak lucu, lalu sambil tersenyum saya membalas WA tersebut. "Bilang ke mm, Bpk. Rm batal datang malam ini......hahaha".
Saya merasa kurang enak karena beberapa kali ke rumah keluarga ini, selalu mendapat perlakuan yang agak khusus. Pasti ada daging ayam. Bukan ayam yang dibeli di pasar, tetapi ayam dari piaraan sendiri.
Lalu ada lagi balasan WA yang tegas mengatakan, "Mama bilang, pokoknya Bapak Romo harus datang!!"
Saya pun akhirnya pergi dengan perasaan agak canggung.
Saat hendak makan bersama, saya bilang ke Mama itu, "Kalau setiap kali saya datang harus bunuh ayam nanti saya tidak datang lagi."
Tetapi mama menjawab dengan bahasa Indonesia yang kental logat bunaq-nya (bahasa daerah), katanya, "Kalau ada kita makan e, kalau tidak ada ya, mau bagaimana. Hidup makan memang, mati tidak bawa."
Setelah mama berkata begitu, seorang cucu, namanya Melan (SMP kelas 2) langsung melancarkan jurus protes kepada Omanya seraya melapor kepada saya, katanya, "Oma begitu Om Romo, kalau kita sendiri tidak bunuh ayam, tetapi kalau ada tamu kita bunuh ayam terus. Melan maunya ada tamu terus. .....hahahaha." Akhirnya kami sambung tertawa ramai-ramai.
Ada dua pesan dari kisah di atas yang sekiranya baik untuk kita refleksikan:
1. Hidup makan memang, mati tidak bawa
Ada satu ungkapan bijak orang Belu yang berbunyi, "ha kedan, mate la hodi" (makan memang, mati tidak bawa).
Di balik ungkapan ini, ada kesadaran yang mendalam akan segala harta benda yang kita miliki di dunia ini bersifat fana dan sama sekali tidak berarti untuk dunia akhirat. Segala kekayaan, pangkat dan kehormatan akan berakhir di dunia dan tidak akan dibawa ke dunia akhirat. Kelak jika kita kembali ke Rumah Bapak, segala yang kita punyai di dunia ini akan tinggal, dan yang kita bawa hanyalah catatan kebaikan yang diusung oleh jiwa kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rd-frid-tnopo_02.jpg)