Mengenang Pelari Indonesia Eduardus Nabunome: Terbaik Selama 40 Tahun
Mengenang Pelari Indonesia Eduardus Nabunome: yang Terbaik Selama 40 Tahun
Pada tahun 2018, Edu Nabunome pernah bercerita tentang rekornya tersebut. Ia menilai rekor itu seharusnya bisa dipecahkan oleh para pelari muda Indonesia.
Namun, rekor itu pada akhirnya sulit dipecahkan karena tidak banyak lomba lari dengan hadiah menarik yang berlangsung di Indonesia.
Menurut Edu Nabunome, penyelenggara lomba lari kebanyakan tidak mau repot dan takut memberi rangsangan hadiah untuk peserta lomba. "Sampai saat ini, jangankan melewati atau menyamai, mendekati catatan waktu saya itu saja tidak ada," kata Edu Nabunome dikutip dari Harian Kompas, 24 Maret 2018. "Kalau mau serius, PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) seharusnya bisa membantu," kata Edu.
"Kalau tidak, cobalah membuat lomba lari 10k dengan hadiah yang menarik misalnya, memperebutkan tiga mobil untuk yang berhasil memecahkan rekor. Itu pasti akan menarik," tambah Edu Nabunome.
Meski rekornya masih belum terpecahkan, Edu pada 2018 mengaku tetap bersyukur karena olahraga lari sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. "Paling tidak, sekarang sudah banyak orang menggemari olahraga lari. Semakin banyak, semakin bagus tentunya," ujarnya.
Dalam wawancara dengan Pos Kupang empat tahun silam, Sekretaris Pengprov PASI NTT, Eduard Setty mengungkap sedikit kilas balik lahirnya Edu Nabunome sebagai atlet legendaris.
Dikatakannya, saat Mell Yacob, S.H menjabat Ketua DPRD Kabupaten Kupang sekaligus Ketua Pengcab PASI Kabupaten Kupang, dia mencanangkan program Atletik Masuk Desa tahun 1980-1985.
Melalui program Atletik Masuk Desa inilah muncul atlet berbakat seperti Edu Nabunome, Welmintje Sonbay dan lain-lain. NTT pun menjadi gudang atlet atletik nasional. Kalau belakangan ini prestasi atlet atletik NTT meredup, pasti ada sesuatu yang keliru dan perlu dibenahi segera.
Saat Piet A Tallo memimpin Pengda PASI NTT, tokoh yang sempat menjabat Gubernur NTT ini menggelar rutin Sirkuit Atletik NTT antara tahun 1995-2009.
Banyak atlet lahir dari sana, di antaranya Oliva Sadi yang kini masih aktif berlari. Menurut Eduard Setty, Edu Nabunome terakhir membela NTT di PON 1996. Mulai PON 2000 di Surabaya, Edu Nabunome mewakili DKI Jakarta karena alasan KTP, domilisi dan bekerja di Jasamarga Jakarta.
Setelah pensiun dari atlet, Edu Nabunome masih aktif melatih dan membina pelari-pelari muda Indonesia. Dia antara lain mengasuh atlet muda lewat Eduard Atletik Club Jakarta yang mengabadikan namanya sendiri.
Senin malam 12 Oktober 2020 kabar duka datang dari Jakarta. Edu Nabunome meninggal dunia pada usia 52 tahun. Edu Nabunome didiagnosa terkena serangan jantung saat melatih anak asuhnya di kawasan Gelora Bung Karno, Sabtu 10 Oktober 2020 sehingga dilarikan ke rumah sakit.
Almarhum Edu Nabunome meninggalkan seorang istri, Marcelina Ina Piran dan enam orang anak.
Selamat jalan Sang Legenda. Terima kasih atas pemberian dirimu yang terbaik untuk bangsa dan tanah air tercinta. Sampai akhir hayatmu engkau tak pernah jauh dari atletik. Kami akan terus mengenangmu. Selamanya. Bung Edu telah berlari menembus kefanaan. Dia yang maharahim mendekapmu. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/eduardus-nabunome_001.jpg)