Kamis, 28 Mei 2026

Parodi Situasi

Parodi Situasi Minggu 04 Oktober 2020: Debat Calon

Bukan saja karena keempatnya berkawan, tetapi karena dua di antaranya ikut debat calon

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

POS-KUPANG.COM - Debat calon bupati dan wakil bupati menarik perhatian empat sekawan. Bukan saja karena keempatnya berkawan, tetapi karena dua di antaranya ikut debat calon.

"Jempol buat Benza," kata Rara sambil mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. "Siku untuk Jaki," sambung Rara lagi sambil menyapu jemari kiri ke siku kanannya.

"Tidak ada mutu sama sekali. Anehnya berani calonkan diri jadi calon. Gila!" Rara menepuk testa sambil mengeluh.

Nana Mirdad: Karma Itu Ada

"Tetapi mau pilih siapa lagi kalau bukan Jaki?" Rara menepuk testa lagi. "Duit alias duit sudah masuk kantong. Mau apa lagi? Selain Jaki dan tetap Jaki."
***
"Yang menang nanti justru manusia model Jaki itu. Isi kepala boleh kosong, debat juga seperti pepesan kosong, tapi menang tuh!" Nona Mia tertawa.

"Teman kita boleh pintar, cerdas dan berintegritas, layak jadi orang nomor satu dan dua di kita punya kampung, tetapi belum tentu menang!"
"Begitu kah?"

Bawaslu Sumba Timur Minta Paslon Taat Jadwal Kampanye

"Jangan pura-pura tanya," sambung Nona Mia. "Sudah jadi rahasia umum!"
"Oh, begitukah? Jadi kita mesti pilih siapa? Jaki bukan?"

"Pilih Benza, saya berani jamin masa depan cerah bagi kampung kita, pembangunan demi kesejahteraan sosial bagi segenap masyarakat kampung kita itu pasti!"
"Kalau Jaki menang?"

"Merayap di tempat."
"Kamu tahu darimana?"
"Cermati saja track record dia!"
"Apa itu?"

"Rekam jejak," jawab Nona Mia yang langsung disambung dengan tanggapan Rara.
"Ooooh rekam jejak? Saya bisa langsung sebut yang saya paling tahu!" kata Rara.

"Pernah jadi tukang palak! Kalau tidak salah jabatan tukang palaknya masih tetap dipegang sampai sekarang. Palak apa e?" Rara berpikir keras. "Itu rekam jejak Jaki yang paling utama dan diingat dengan jelas. Tetapi bukankah itu bagus juga?" kembali Rara berpikir keras. "Hebat!"
***
"Karena itulah pilih Benza," kata Nona Mia lagi. "Rekam jejaknya dapat dipercaya dan sangat meyakinkan. Panjang pengalamannya. Di bidang pendidikan mengupayakan jaringan orang tua asuh untuk bea siswa bagi anak-anak kurang mampu, membangun sekolah-sekolah ketrampilan bagi anak-anak putus sekolah, memfasilitasi kelompok-kelompok belajar seni dan kreatifitas, ikut membidani lahirnya kebijakan pendidikan wajib berbasis ekologi, ekonomi, dan budaya dan lain-lain.

Di bidang kesehatan Benza adalah satu-satunya tokoh yang sudah mengupayakan Kartu Kampung Sehat, bahkan jauh lebih dulu dari Kartu Indonesia Sehatnya Jokowi. Di bidang ekonomi, beberapa kali Benza menjadi tokoh yang memperjuangkan dan melaksanakan kerja padat karya.

Kemampuannya bersinergi dalam kerja sama dengan pihak lain, koordinasi lintas sektor sudah sangat teruji. Jadi Benza dan pasangannya memang pantas jadi orang nomor satu dan nomor dua di kampung kita."

"Hebat sekali!" Rara ternganga.
"Kamu baru tahu?" tanya Nona Mia.
"Tahu! Tetapi malas tahu!" jawab Rara sambil terkekeh.
"Pilih Benza!" kata Nona Mia.
"Sudah dapat duit!" jawab Rara sambil berpikir keras. "Sekali Jaki tetap Jaki!"
***
Maka, pergilah Rara bertanya ke KPU. Dia ingin kerahkan pendukung sebanyak mungkin demi memberi pengaruh ke masyarakat agar memilih Jaki. Di samping itu, meskipun Komisi Pemilihan Umum alias KPU sudah tegas melakukan pembatasan jumlah orang yang boleh menghadiri debat publik terbuka antar-pasangan calon, Rara tetap tidak peduli.

Pada hal Rara sudah tahu aturan tentang mereka yang boleh dan dapat hadir. Paslon, sekian orang dari anggota KPU, dua orang perwakilan Bawaslu sesuai dengan tingkatannya, dan empat orang anggota tim kampanye. Semuanya sudah sesuai aturan. Rara ngotot dia juga harus terlibat sebagai pendamping paslon.

"Pokoknya saya harus hadir dan tambah jumlah pendukung. Saya akan kerahkan massa." Benar-benar Rara tidak peduli. Pada hal KPU sudah mengatur tentang peserta yang hadir di lokasi acara debat publik, jumlah maksimalnya hanya lima puluh orang yang dibagi rata dengan semua paslon. Rara datangkan lebih dari itu.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved