Renungan Harian Katolik

Spiritualitas Anak Bungsu

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
Fr. Giovanni A. L Arum 

Renungan Harian Katolik, Minggu 27 September 2020

Spiritualitas Anak Bungsu (Renungan Atas Perikop Injil Matius 21: 28-32)

Oleh: Fr. Giovanni A. L Arum

Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang

POS-KUPANG.COM - “Quis ex duobus fecit voluntatem patris? Dicunt ei: Secundus. Dicit illis Iesus: Amen dico vobis, quia publican, et meretrices praecedent vos in regnum Dei; Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya? Jawab mereka: “Yang terkahir.”

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat. 21: 31)

Perikop Injil hari ini mengangkat perumpamaan tentang dua orang anak yang diminta oleh ayah mereka untuk bekerja di kebun anggurnya. Sebagai sebuah perumpamaan, tentu kita perlu menyelami makna dan pesan di balik perumpamaan itu. Penyelaman makna dan pesan dari Sabda Allah sebenarnya menjadi proses untuk mematangkan iman kita.

Perumpamaan Yesus ini sebenarnya merupakan sebuah kritik tajam kepada para imam dan ahli Taurat yang terjebak dalam sikap “pseudo-religius”; cara beragama yang palsu.

Mereka mengklaim diri sebagai pribadi yang sangat religius, menguasai dengan baik hukum Taurat, dan menjalankan semua ritus keagamaan Yahudi tanpa cacat.

Namun, hati mereka penuh kemunafikan, seperti kuburan yang dilabur putih bagian luarnya, tetapi penuh tulang-belulang di dalamnya.

Keangkuhan religius telah menyesatkan hati mereka, sehingga mereka menganggap diri sebagai orang-orang suci yang dengan mudahnya menghakimi orang lain sebagai orang yang berdosa.

Dengan cara inilah, mereka justru menjauhkan Kerajaan Allah dari orang-orang terluka dan distigma sebagai orang kafir dan berdosa. Mereka memposisikan diri sebagai hakim yang mudah mempersalahkan. Inilah bentuk “pemberhalaan diri”.

Perumpamaan Yesus memuat tiga tokoh kunci, yakni: 1) Sang ayah yang memiliki dua orang anak. Ia mengajak masing-masing anaknya untuk pergi dan bekerja pada kebun anggurnya.

2) Si Sulung. Ia yang diajak pertama kali oleh ayahnya. Dengan cepat ia menjawab “ya” kepada ayahnya, tapi ia sendiri tidak pergi ke kebun anggur itu.

3) Si Bungsu. Pada awalnya, ia menolak ajakan Sang Ayah. Tapi, akhirnya ia menyesal dan pergi ke kebun anggur itu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved