Breaking News:

Salam Pos Kupang

Level Bahaya Covid-19 NTT

KEBANGGAAN masyarakat NTT di awal penyeberan virus Corona di Indonesia sepertinya sudah tidak lagi berarti

Level Bahaya Covid-19 NTT
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - KEBANGGAAN masyarakat NTT di awal penyeberan virus Corona di Indonesia sepertinya sudah tidak lagi berarti. Pada awal penyebaran virus yang dikenal juga dengan nama Covid-19 itu hingga Mei 2020 lalu, NTT masih nihil bersama Gorontalo.

Namun setelah salah satu warga NTT asal Alor, El Asamau diketahui positif terinfeksi virus Corona, maka catatan bersih NTT bebas Corona tercoreng.

Bahkan berselang beberapa saat, NTT mencatat transimisi lokal pertama yaitu FK yang kemudian menjadi orang NTT pertama yang meninggal karena virus Corona.

Ratusan Pengunjung Padati Kawasan Pantai Nangadhero di Nagekeo

Kini jumlah kasus virus Corona terus melonjak bahkan, pada Sabtu 12 September 2020, NTT mencatat rekor yang pertambahan kasus baru mencapai 20 kasus dalam sehari. Hal ini sudah membawa NTT ke level bahaya Covid-19

Dengan 20 kasus dalam sehari ini bukan perkara gampang. Sebab 20 orang tersebut berpotensi menularkan ke orang lain. Bila satu pasien saja menularkan ke 2 orang maka ada 40 orang dalam kasus baru dan kelipatan itu akan terus bertambah.

TRIBUN WIKI: Menikmati Pesona Indahnya Pantai Nangadhero di Nagekeo

Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel swab yang dilakukan di Laboratorium Biomolekul RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang pada Sabtu, terjadi penambahan 20 kasus dalam sehari.

Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Provinsi NTT, dr Mese Ataupah mengatakan kasus positif Covid-19 baru tersebut tersebar di tiga kabupaten. Di Kabupaten Ende terjadi penambahan 18 kasus, Kabupaten Malaka bertambah satu kasus dan Kabupaten Sumba Timur bertambah satu kasus.

Untuk kasus di Kabupaten Ende diaumbangkan oleh pasien klaster Denpasar, sementara untuk Kabupaten Malaka dari klaster Pelaku Perjalanan dan pasien kontak erat dengan pelaku perjalanan dari Denpasar untuk Kabupaten Sumba Timur.

Sebanyak 188 spesimen PCR dan satu specimen TCM diperiksa hari ini di Laboratorium biomolekul RSUD Prof Dr WZ Johannes. Spesimen PCR tersebut terdiri dari 33 orang dari Ende, 2 orang dari Kabupaten Malaka, 16 orang dari Kabupaten Manggarai barat, dua dari Kabupaten TTU dan 81 dari Kota Kupang. Sementara specimen TCM berasal dari satu pasien asal Kabupaten Sumba Timur.

Kita prihatin dengan jumlah kasus yang terus bertambah, bahkan mungkin diantara warga NTT sedang berpikir kemungkinan terburuk adalah menungguh saat terkena virus Corona. Kita berharap agar pemerintah punya strategi jitu untuk membendung laju pertambahan kasus baru.

Pemerintah sebenarnya punya kapasitas dan otoritas dalam penanganan masalah ini. Selain itu, kita sebagaiu masyarakat juga tetap mengikuti protokol kesehatan seperti tetap pakai masker di tempat umum, selalu cuci tangan dan tetap jaga jarak di tempat umum.

Pemerintah punya otoritas seperti membatasi aktivitas sosial dan ekonomi yang berpotensi menjadi klaster penyebaran virus Corona dan serta membatasi aktivitas bepergian dan mobilitas transportasi umum

Di awal penyebaran virus corona di NTT, pemerintah sempat melarang aktivitas pelayaran penumpang. Pemerintah bisa melakukannya lagi bila ingin virus corona tak menyebar luas. Selain itu aktivitas penerbangan juga harus diperketat sehingga mobilitas orang juga tidak seenaknya.

Bahkan, bila perlu pemerintah NTT mulai memikirkan PSBB dilokasi tertentu. Resiko ekonomi harus diambil demi menyelamatkan masyarakat dari ancaman Ccovid-19. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved