Breaking News:

Para Sopir Angkutan Umum Kota Kupang Lampu 10 Ancam Lakukan Demo

Para sopir lampu 10 Angkutan Umum Kota Kupang ancam akan melakukan aksi demonstrasi

POS-KUPANG.COM/ONCY REBON
Rizam Jumadi, Sopir angkutan umum lampu 6 Kota Kupang, Senin, 31/08/2020 

POS-KUPANG.COM | KUPANG- Para sopir lampu 10 Angkutan Umum Kota Kupang ancam akan melakukan aksi demonstrasi. Pasalnya, dengan beroperasinya Bus Rapid Transit Kota yang dilengkapi full air conditioner dan serta fasilitas tempat duduk spon nan empuk tersebut akan mengurangi jumlah penumpang yang selama ini menggunakan jasa angkutan umum.

Ketika ditemui POS-KUPANG.COM, Senin, 31/08/2020, Ryan, salah satu sopir angkutan umum Kota Kupang Jalur 10 mengatakan, selama ini kapasitas muatan angkutan umum hanya menjangkau 12 hingga 14 penumpang. Jika BRT tersebut beroperasi dengan kapasitas muatan mencapai 40 penumpang, secara otomatis mengurangi jumlah penumpang yang selama ini menggunakan jasa angkutan umum.

Dansatgas Pamtas RI-RDTL Yonif RK 744 Resmikan Bedah Rumah Milik Janda di Perbatasan

"Kami penghasilan hanya sedikit saja. Kalo dia (BRT) muat tiga puluh sampai enam puluh penumpang. Itu katong (kita) bemo (angkutan umum) muat apa. Kalau tidak salah pasti katong demo," ucapnya dengan raut kecewa.

Ryan mengakui bahwa, penghasilan rata-rata para sopir angkot (angkutan kota) pasca pandemi Covid-19 merosot tajam.

Tujuh Karung Gula Pasir Tak Bertuan Diamankan Satgas Pamtas Yonif RK 744/SYB

"Sekarang seratus lima puluh ribu saja dapat susah. Belum minyak lagi, palingan kami stor hanya tujuh puluh ribu saja. Sebelum Covid kami bisa dapat pemasukan sampai lima ratus ribu," ujar Ryan.

Andre, sopir angkutan umum lainnya mengaku saat ini, pihaknya bertahan meski digaji 1 juta dalam 2 bulan.

Dengan kehadiran BRT, sambung Andre, para sopir pasti akan mengalami kekurangan pendapatan. "Sekarang dapat empat sampe lima penumpang saja susah mau mati," bebernya.

Menurutnya, banyak sopir jalur lampu 10, saat ini berhenti dari pekerjaannya karena sepi penumpang. Mereka kemudian memutuskan pulang ke kampung halaman karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup di Kota Kupang pasca pandemi Covid-19.

Selain tentang kehadiran BRT, Andre juga mengeluh terkait penarikan retribusi dinas perhubungan Kota Kupang di terminal sebanyak 10 Ribu. Menurutnya retribusi tersebut "mencekik leher" karena tidak mengenal waktu libur. Hal ini semakin mengurangi jumlah setoran mereka kepada pemilik angkot.

"Sekarang Sabtu dan Minggu juga mereka tagih, padahal hari libur. Itu nanti katong mau dapat apa. Mau beli makan minum di kos saja susah," tandas Andre. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oncy Rebon)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved