Renungan Harian Katolik
Pseudotisme - Melawan Kepalsuan
Mari kita merenungkan makna kata pseudotis dalam terang bacaan Injil hari ini yang bertepatan dengan pesta St. Bartholomeus Rasul.
Renungan Harian Katolik, Senin 24 Agustus 2020
Pseudotisme - Melawan Kepalsuan
Oleh: RD. Frid Tnopo
POS-KUPANG.COM - Dalam ilmu Kitab Suci, pseudotis - pseudopigrafa artinya semu, tiruan atau palsu. Namun saat ini kita tidak membicarakan konsep eksegetisnya, tetapi mari kita merenungkan makna kata pseudotis dalam terang bacaan Injil hari ini yang bertepatan dengan pesta St. Bartholomeus Rasul.
Ketika Filipus mengatakan kepada Natanael bahwa "Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para Nabi yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret", Nataneal tidak lekas mempercayai itu. Ia tenang, hening, reflektif dan kritis.
Ia mau bertemu dengan Yesus itu, tetapi penuh pertimbangan. Jangan-jangan yang dikatakan Filipus itu lebih dari sekedar anak Yusuf dari Nazaret, atau jangan sampai nabi palsu.
Karena itu ia memilih duduk dulu di bawah pohon ara. Duduk hening sesaat adalah langkah awal untuk menanggapi sesuatu yang datang dari luar.
Karena itu ketika bertemu dengan Natanael, Yesus mengatakan: Sungguh orang ini adalah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.
Natanael kaget dan mengatakan, bagaimana Engkau mengenal aku? Yesus menjawab: Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh. 1:48).
Natanael sendiri bukan orang imitasian, bukan tipe orang yang suka ikut arus, tidak gampang didikte, bukan manusia kaleng-kaleng. Ia berpribadi dan otonom. Ia kritis dan penuh pertimbangan.
Imannya kepada Yesus adalah sesuatu yang sungguh mempribadi. Dari keheningan dan sikap kritis itu, lahirlah pengakuan iman yang sangat dalam: “Rabi, Engkaulah Anak Allah, Engkau Raja orang Israel” (Yoh, 1:49).
Dunia sekarang penuh dengan pseudotisme. Ada barang-barang pseudo, ada pula manusia pseudo. Ada pemimpin pseudo, ada pula ideologi pseudo.
Indonesia sering dihebohkan dengan kemunculan banyak nabi-nabi dan pengkotbah-pengkotbah palsu. Ada fitur-fitur di smartphone yang gampang menyulap tampang-tampang manusia palsu. Tampak luarnya “seolah-olah” asli padahal isi dalamnya imitasi atau tiruan.
Karena itu, dunia sekarang sangat membutuhkan orang-orang meditatif yang melahirkan manusia kritis.
Manusia sering terkecoh karena lebih suka mempercayai mata dan telinga ketimbang hati dan budinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rd-frid-tnopo_05.jpg)