Warga Desa Belabaja Masih Susah Air Bersih
Warga Desa Belabaja Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata sedang mengalami kondisi darurat air bersih sejak pertengahan awal Agustus 2020
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA- Warga Desa Belabaja Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata sedang mengalami kondisi darurat air bersih sejak pertengahan awal Agustus 2020 menyusul kelangkaan pasokan air untuk kebutuhan harian warga.
Menurunnya debit air di dua sumber mata air yang memasok kebutuhan air desa tersebut menjadi alasan krisis air yang sudah berlangsung lebih dari satu minggu.
Akibatnya, warga terpaksa harus berjalan kaki untuk mengambil air dari desa terdekat yakni Desa Labalimut. Meski jaraknya tidak lebih dari satu kilometer, perjuangan warga terbilang melelahkan karena harus kembali ke rumahnya dengan memikul air dan melewati jalanan menanjak.
• Dua Komponen Penting Pembangunan dan Penataan Kota Kupang ala Firmanmu
Bagi sebagian warga yang memiliki sepeda motor aktivitas ini relatif lebih muda karena mengangkut air dengan sepeda motor.
Kepala Dusun B Desa Belabaja, Wilhelmus Kalawasa Wuwur menuturkan, akibat menurunnya debit air, layanan air dari Bak Penampung Sumber Mata Air Wairefak hanya bisa dilakukan satu kali dalam dua hari.
Itu pun dengan waktu yang relatif singkat bahkan tak lebih dari satu jam.
• Pemprov NTT Siapkan Rp 50 Miliar Untuk Pengembangan Ikan Kerapu Masyarakat di Rote Ndao
"Karena air yang masuk ke bak sangat sedikit, jadi dua hari sekali baru ada pelayanan. Itu pun tidak lama, Kadang-kadang hanya satu jam sudah kering. Tergantung banyaknya air yang masuk ke bak," ungkap WIlhelmus, kepada wartawan Minggu (16/8/2020).
Warga menyimpan sejumlah media penampug air seperti ember dan jeriken pada titik-titik kran yang tersebar di seputar wilayah dusun. Namun semuanya kosong dan tidak ada air yang keluar dari kran air.
Hermina Prada, salah satu warga menuturkan, dari beberapa jeriken yang disiapkan, keluarganya hanya mendapat satu jeriken air ukuran 5 liter.
"Kemarin, kami pergi sudah taroh jerigen tapi ternyata air keluar sedikit saja. Jadi hanya dapat 1 jerigen yang ukuran lima liter. Hampir semua keluarga dapat seperti itu, Terpaksa hanya bisa pake untuk masak dan minum. Untuk mandi terpaksa harus minta di Labalimut," ungkap Hermina.
Kisah krisis air juga dituturkan Maria Ose. Perempuan yang sudah berusia lebih dari 60 tahun ini mengeluhkan kesulitan mengambil air bagi mereka yang sudah masuk kategori lansia.
"Untung saja di rumah itu ada anak-anak yang masih muda. Kalau tidak kami ini setengah mati. Biasanya mau ambil air, kran ada di dekat rumah. Kalau keadaan begini, memang kami sangat susah," ungkapnya.
Desa Belabaja bukanlah desa yang terbiasa mengalami krisis air. Bahkan desa ini sesungguhnya masuk kategori desa yang sangat berlimpah air. Tiga dusun dalam desa tersebut masing-masingnya memiliki sumber mata air sendiri.
Dusun A memasok air dari Sumber Mata Air Waiwatan, Dusun B dari Mata Air Wairefak dan Dusun C dari Mata Air Waeskolo. Namun pada musim kemarau tahun 2020 ini, ketiga debit sumber mata air menipis.
Namun yang lebih parah adalah debit air dari Mata Air Waeskolo dan Wairefak.
Untuk warga Dusun A, pengambilan air diatur secara bergilir setiap hari. Sebagian wilayah mendapat jatah pagi hari sedangkan sisanya pada sore hari. Sedangkan untuk Dusun B, pasokan air dari mata Air Wairefak sudah pada kondisi kritis. Air harus ditampung di bak induk dan baru bisa disalurkan setiap dua hari sekali. Itu pun dengan waktu dan jumlah yang terbatas.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Belabaja Protus Pukan menjelaskan, pihaknya akan melakukan rapat dengan pemerintah desa untuk mencari jalan keluar terkait krisis air yang dialami warga.
Salah satu alternatif jalan keluar yang mungkin akan dilakukan adalah pengalihan dukungan anggaran desa untuk mengatasi kondisi darurat air yang dialami masyarakat.
"Kita akan komunikasi dengan pemerintah desa untuk cari jalan keluar. Dan mungkin kita akan minta untuk pengalihan beberapa kegiatan yang mungkin belum terlalu urgen untuk bantu soal air ini. Karena ini kebutuhan dasar. Kami juga sudah dapat pengaduan dari warga. Tadi sudah ada perwakilan warga yang datang mengadu. Dan kami BPD siap bantu diskusikan hal ini dengan pemerintah," ungkap Protus.
Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Belabaja Yosep Enga menjelaskan, pihaknya sudah mengetahui kondisi krisis air yang dialami masyarakat terutama masyarakat di dua dusun yang paling merasakan dampaknya.
Pihaknya akan berkomunikasi dengan BPD untuk merencanakan jalan keluar termasuk menggelar Musyarawah Desa Khusus (Musdeskus) untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Ketua BPD Belabaja, Protus Burin menambahkan, salah satu agenda diskusi dengan pemerintah desa adalah terkait pengalihan atau penundaan beberapa kegiatan fisik yang tidak terkait kebutuhan dasar agar bisa menanggapi kebutuhan air bagi masyarakat.
Salah satunya adalah terkait rencana pengadaan lampu jalan oleh pemerintah desa.
Untuk Dusun B saja, terdapat 217 jiwa yang ada dalam 59 kepala keluarga yang terdampak krisis air akibat kekeringan sumber mata air Wairefak. Kelompok ini sedang menanti hasil komunikasi BPD dan pemerintah desa Belabaja untuk mendapatkan jalan keluar bagi pemenuhan kebutuhan dasar mereka yakni air minum. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/warga-desa-belabaja-masih-susah-air-bersih.jpg)