Ety Selan Mengaku Ketakutan Brimob Tembakan Gas Air Mata di Besipae
Ety Selan, warga Besipae mengatakan, aksi penembakan peluru gas yang dilakukan Brimob telah membuat mereka ketakutkan
POS-KUPANG.COM | SOE- Ety Selan, warga Besipae mengatakan, aksi penembakan peluru gas yang dilakukan Brimob telah membuat mereka ketakutkan. Namun hal tersebut tidak akan membuat mereka keluar dari Besipae. Pasalnya, keinginan mereka agar sertifikat hak pakai milik Pemprov NTT diluruskan.
"Kami tidak akan keluar dari Besipae. Kami tetap bertahan di Besipae," sebut Ety saat dihubungi Pos Kupang, Selasa (18/8) melalui sambungan telepon.
Ketika ditanyakan alasan kenapa tidak mau menempati rumah yang dibangun Pemprov NTT di tempat relokasi, Ety mengatakan, rumah tersebut dibangun di blukat milik orang lain. Selain itu, ukuran rumah yang dibangun Pemprov tidak sesuai dengan ukuran rumah mereka sebelumnya.
• Inche Sayuna: Gunakan Pendekatan Represif Membuat Masalah Besipae Makin Rumit
"Kami tidak mau tempati rumah yang dibangun Pemprov karena dibangun di atas tanah blukat milik orang. Lagian rumah yang mereka bangun juga sangat kecil, tidak sesuai rumah awal kami," bebernya.
Kapolres TTS, AKBP Ariasandy, SIK menegaskan, penembakan peluru gas ke tanah oleh anggota Brimob yang membantu proses pengamanan di Besipae merupakan tindakan shock therapy. Pasalnya, usaha membujuk warga Besipae untuk direlokasi ke rumah yang disiapkan Pemprov NTT melalui pendekatan persuasif mendapat penolakan.
• Refafi Gah Optimis Paket AG-AG Menang Pilkada Mabar
"Ternyata setelah ada tembakan ke tanah warga mau bergerak dan menempati rumah yang disiapkan Pemprov NTT," ungkap Ariasandy semalam.
Warga yang menolak di relokasi kata Ariasandy, merupakan warga pendatang bukan warga asli Besipae. Warga asli Besipae, termasuk para usif, sudah menyatakan kesediaannya agar program Pemprov NTT masuk ke Besipae.
Terkait masalah lahan, dirinya sudah berulang kali mengusulkan kepada warga Besipae agar masalah tersebut dibawa ke ranah hukum guna dilakukan pembuktian tetapi hingga hari ini warga Besipae tidak melakukan gugatan secara hukum.
"Warga yang menolak ini warga pendatang, kalau warga asli mendukung. Lihat saja, warga dari empat desa yang ada di kawasan Besipae justru ikut membantu program Pemprov melakukan pembersihan lahan dan penanaman anakan kelor dan lamtoro teramba," terangnya.
Terkait situasi di Besipae, Kapolres Ariasandy mengaku, hingga saat ini masih kondusif. Pihaknya terus melakukan pengamanan di lapangan guna memastikan tidak ada tindakan yang melanggar hukum.
Camat Amanuban Selatan, Jhon Asbanu yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, sejauh ini kondisi di Besipae terpantau aman. Besok (hari ini, red) Forkopimcam akan turun pantau kondisi di lapangan lagi.
Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah Properti NTT, Sony Libing
yang dikonfirmasi terkait aksi penembakan peluru gas oleh anggota Brimob dalam upaya relokasi warga Besipae tak menampik hal tersebut.
Ia menjelaskan, upaya tersebut dilakukan usai upaya pendekatan humanis dengan mengajak enam kepala keluarga yang rumahnya ditertibkan karena dibangun menghalangi kantor pemerintah di Besipae gagal.
Pemprov NTT sendiri sudah membangun enam unit rumah untuk ke enam KK tersebut sejak pekan lalu namun urung ditempati. Ke enam KK tersebut memilih untuk bertahan dengan tinggal di pinggir jalan.
"Kita sudah bujuk secara baik-baik, mari mama, tempati rumah baru yang sudah pemerintah bangun tapi tidak mau. Jadi Brimob menggunakan strategi dengan menembakan peluru gas ke tanah. Hal tersebut berhasil membuat keenam KK tersebut bangun dan menempati rumah yang telah dibangun pemerintah," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/penembakan-peluru-gas-di-besipae-ini-penjelasan-sony-libing.jpg)