Breaking News:

Opini Pos Kupang

Anonymity Jelang Pilkada

Ruang publik kita hari ini tidak hanya direpotkan dengan masalah Covid-19, terutama berkaitan dengan persiapan pesta demokrasi

Anonymity Jelang Pilkada
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Epin Solanta, Alumni Sosiologi Universitas Atma Jaya Yoyakarta

POS-KUPANG.COM - Ruang publik kita hari ini tidak hanya direpotkan dengan masalah Covid-19, melainkan juga pada beberapa isu lain terutama berkaitan dengan persiapan pesta demokrasi bertajuk Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada 9 Desember mendatang.

Pilkada kali ini akan digelar di 270 wilayah meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Seperti biasa, Pilkada yang syarat dengan tujuan memperoleh kekuasaan pasti akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan.

Mulai dari proses transaksi politik yang melibatkan partai politik dan para pengusaha, perang opini khususnya di media sosial yang berimplikasi pada membanjirnya berita bohong (hoax) hingga pada kondisi disintegrasi yang terjadi pada masyarakat akar rumput. Analisa tentang persoalan baik menjelang Pilkada maupun sesudahnya telah banyak dibuat baik oleh pengamat maupun para pakar.

Selamatkan Barang Pusaka

Tulisan ini berusaha untuk melihat salah satu dari sekian banyak fenomena menjelang Pilkada yaitu membanjirnya akun palsu atau dalam bahasanya George Simmel sebagai anonimity dalam media sosial.

Anonymitydan Kebebasan Berekspresi

Realitas bermedia kita hari ini sudah disesaki dengan berbagai macam jenis pemberitaan hoax. Kategori pelakunya pun bervariasi, mulai dari kelas menengah ke bawah hingga kelas menengah ke atas, dilakukan oleh kaum terdidik hingga tidak terdidik sekalipun. Indonesia darurat hoax mungkin ini ungkapan yang tepat untuk menggambarkan realitas kehidupan kita dalam bermedia saat ini.

Laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan bahwa selama masa pandemi covid-19 ini, ditemukan 1.125 sebaran hoax yang dilakukan melalaui Facebook 785, Instagram 10, Twitter 324 dan YouTube 6 (Detiknews.com).

Kapolda NTT Irjen Hamidin Resmikan Lima Objek Bangunan Hibah Pemprov NTT

Hal yang lebih memprihatinkan lagi, hampir seluruh berita hoax ini menggunakan akun palsu. Kondisi inilah yang oleh George Simmel sebagai momentum atau kesempatan untuk menyembunyikan identitas diri (anonymity), dan di sana kita akan temukan perilaku tidak bertanggung jawab (dalam Sudibyo, 2019: 371).

Dalam terang demokrasi, orang mulai menabiskan dirinya sebagai pribadi yang bebas, termasuk didalamnya adalah kebebasan untuk berekspresi (menyampaikan pendapat). Kebebasan dalam terang demokrasi tentu saja tidak bisa diterjemahkan sesuka hati.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved