Rabu, 13 Mei 2026

Timor Leste Memang Telah Merdeka, Tapi Kemerdekaannya Masih 'Dijajah' Australia, Begini Ceritanya!

Setelah lebih dari 78% orang Timor memilih merdeka dalam referendum pada 30 Agustus 1999, milisi paramiliter pro-Indonesia yang marah.

Tayang:
Editor: Frans Krowin
Google
Patung Kristus Raja ikon Timor Leste yang merupakan peninggalan Indonesia 

Timor Leste Memang Telah Merdeka, Tapi Kemerdekaannya Masih 'Dijajah' Australia, Begini Ceritanya

POS-KUPANG.COM - Tak terasa, ternyata Timor Leste sudah lepas dari Indonesia dan menjadi negara sendiri sejak 20 tahun silam. 

Pelepasan Timor Leste yang dulunya disebut sebagai Timor Timur itu memang berdarah-darah. Pasalnya, banyak korban berjatuhan pasca jajak pendapat itu.

Untuk diketahui, Timor Leste resmi pisah dari Indonesia pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Namun demikian, Timor Leste sebenarnya belum seutuhnya merdeka. Hingga saat ini Timor Leste masih disebut-sebut sebagai negara 'jajahan' Australia
 

Begini ceritanya. pada 20 tahun silam, pasukan penjaga perdamaian internasional yang dipimpin Australia atau dikenal dengan INTERFET tiba di Timor-Leste.

Australia merupakan negara yang memimpin pasukan penjaga perdamaian yang berasal dari 22 negara tersebut.

Dilansir oleh Crikey.com.au, John Howard menyebut intervensi itu sebagai "kemenangan kebijakan luar negeri yang signifikan" dan mengatakan ia tidak akan mengubah apa pun tentang itu, dan tentara Indonesia menarik diri sepenuhnya pada akhir Oktober.

Karena intervensi tersebut bahkan personel pertahanan Australia mendapat pujian.

Boyamin Saiman Bongkar Borok Baru, Ada Tokoh Berpengaruh Di Balik Kasus Djoko Tjandra, Inisialnya TT

Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie Jadi Anggota PDIP, Diajak Ahok Direstui Hasto Kristiyanto

Wow, Jaksa Pinangki Sirna Malasari Lebih Kaya Dari Jenderal Prasetijo Utomo, Ini Daftar Kekayaannya

Meski demikian sebenarnya INTERFET hanyalah sebagian kecil dari kisah Australia dengan Timor-Leste.

Setelah lebih dari 78% orang Timor memilih merdeka dalam referendum pada 30 Agustus 1999, milisi paramiliter pro-Indonesia yang marah, menanggapinya dengan kekerasan.

Secara sistematis, mereka meruntuhkan kota, membakar bangunan, dan menyerang serta membunuh orang.

Sekitar 1500 warga Timor diperkirakan tewas dalam kekerasan itu, puluhan ribu meninggalkan rumah mereka ke gunung-gunung, dan pasukan Indonesia memaksa lebih dari 300.000 orang melewati perbatasan darat ke Timor Barat.

Kemarahan internasional tersebut akhirnya memaksa pendirian INTERFET.

Pemain kunci dalam keputusan untuk campur tangan - membalikkan satu dekade kebijakan luar negeri yang ambivalen yang lebih suka melupakan masalah Timor-Leste dan melangkah masuk.

Tidak ada pertanyaan bahwa INTERFET bekerja dengan baik.

Tetapi keputusan Australia untuk pergi ke Timor-Leste tidak hanya berprinsip ingin mengamankan kedaulatan negara tetangganya yang masih baru.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved