News
Kunjungan Kerja ke Nubatukan-Lembata, Gubernur NTT Lontarkan Pujian Ini kepada Suster SSpS, Mengapa?
Gubernur NTT mengatakan itu saat memberikan sambutan di BLK Yayasan Gunthild Karitas Peduli Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, Rabu (29/7).
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Richo Wawo
POS KUPANG, COM, LEWOLEBA -Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), mengatakan, Balai Latihan Kerja (BLK) Susteran SSpS dengan Yayasan Gunthild Karitas Peduli Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata adalah pasukan kerja lapangan yang kontribusinya sangat nyata membangun segala potensi yang ada di NTT. Organisasi misi ini menjadi andalan pemerintah NTT saat sekarang.
Gubernur NTT mengatakan itu saat memberikan sambutan di BLK Yayasan Gunthild Karitas Peduli Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, Rabu (29/7).
"Para suster ini rekan pembangunannya Gubernur. Tadi Suster omong untuk mencari orang untuk menjadi instruktur itu susah, transfer mindset sehingga mereka bisa mengubah pola pikir itu sebuah pekerjaan susah, tetapi yang lebih susah lagi menemukan orang untuk mentrasfer mind set kepada orang lain itu dua pekerjaan susah," ungkap Laiskodat.
Menurut dia, tahap pertama, punya orang, punya sebuah lembaga yang mampu mentransfer; baik knowledge maupun skill kepada orang lain untuk mampu berdikari dalam hidup.
Gubernur Laiskodat juga memberikan apresiasi kepada para Suster di BLK Yayasan Gunthild Karitas Peduli.
Karena itu, kerjasama pemerintah dalam hal ini dengan lembaga-lembaga yang punya kepedulian dalam membangun sumber daya manusia.
"Tidak boleh pendekatannya semata-mata alasan politis. Jadi atau tidak jadi urusan. Kalau semangat ini tetap terjaga dan dikembangkan dengan baik, ke depan kita punya SDM yang bukan hanya kemampuan intelektual baik, tetapi mereka punya skill. Maka tidak ada pilihan lain oleh pemerintah. Kita harus bersama-sama bangun Balai Latihan Kerja ini," ujarnya.
Gubernur juga meminta supaya setelah adanya pelatihan di BLK harus di design agar adanya keberlanjutan dan perlu adanya pemberdayaan.
"Saya tertarik betul kepada lembaga-lembaga seperti ini. Saya meyakini kalau kita desain dengan sungguh-sungguh, SDM manusia NTT punya skill, baik penguasaan bahasa dan keterampilan lain yang bisa membuat mereka mampu hidup sendiri. Saya senang, SSpS, dedikasikan diri untuk pekerjaan ini," ujarnya.
Jadi ini sebenarnya pekerjaan Gubernur yang diambil SSPS.
"Saya ingin secara bertahap, di sini ada Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi NTT, untuk terus menerus mendampingi. Selesai dilatih di sini tidak boleh stop. Mereka harus dilanjutkan. Bupati Lembata tadi bisik saya, setelah ini dia masuk dengan pemberdayaan supaya bisa berkelanjutan. Jadi nanti ada dana Rp 100 juta dari bupati. Kalau ini disiapkan dengan baik kedepan mengajak orang datang berlatih dan dibiarkan mandiri tentu akan susah," ujarnya.
Kepala BLK Yayasan Gunthild Karitas Peduli Sr. Margaretha Ada, SSpS dalam sambutannya, mengatakan tujuan dari adanya pelatihan di BLK ini yakni para suster SSpS ingin bahu membahu, bersama pemerintah mensukseskan program pemerintah, yakni mengurangi pengangguran, menekan angka perantauan.
Menurut dia, BLK itu menjalankan tiga program dalam taraf sederhana, design mode atau tata busana, dengan 9 peserta dan 9 mesin jahit.
"Karena tempatnya tidak mencukupi kami batasi 9, ke depannya akan dikembangkan. Kedua, pelatihan pengolahan ikan segar dengan peserta ibu-ibu dan gadis-gadis di Desa Pada, keterampilan Bahasa Inggris untuk dewasa tetapi kami introduksinya anak-anak agar manarik orangtuanya, penampilan perdananya dipersembahkan untuk Gubernur tadi," terang Sr. Margareta, SspS.
"Kami orang Flores Timur dan Lembata suka merantau, kami bekali dengan keterampilan, kalaupun mereka pergi mereka sudah dibekali keterampilan, baik dari segi keterampilan rumah tangga dan keterampilan Bahasa. Saat ini kami sedang buka pendaftaran untuk Bahasa Inggris Dewasa dan Calon TKI," ujarnya. *