News

Hasilkan Hormon Endorfin, Anak yang Bahagia Kebal Covid-19, Ini 'Obat' Mujarab

"Anak yang bahagia akan memproduksi hormon endorfin yang secara langsung akan meningkatkan kekebalan tubuh."

Editor: Benny Dasman
dailymail
Para ilmuwan China dari laboratorium virologi di Wuhan dikabarkan membelot ke Amerika Serikat dan siap membongkar sumber Virus Corona sesungguhnya. Foto: ilmuwan China di laboratorium dan Steve Bannon, penasehat kampanye Presiden AS Donald Trump 

POS KUPANG, COM, JAKARTA - Kebahagiaan pada anak dapat mengurangi risiko penularan infeksi virus terutama Covid-19 pada anak.

Dokter spesialis anak, Andreas mengatakan selain memberikan asupan yang bernutrisi pada anak, menjaga anak agar tetap bahagia akan meningkatkan imunitas pada anak.

"Anak yang bahagia akan memproduksi hormon endorfin yang secara langsung akan meningkatkan kekebalan tubuh," ujarnya dalam talk show yang diselenggarakan BNPB di YouTube, Minggu (26/7).

Andreas menjelaskan kebutuhan vitamin untuk meningkatkan imunitas sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Cukup hanya dengan memastikan memberikan nutrisi yang baik, istirahat yang cukup dan memberikan waktu supaya anak bahagia, kekebalan tubuh akan meningkat dengan sendirinya.

"Kekebalan tubuh yang baik akan melawan infeksi virus tersebut," katanya.

Andreas menyarankan agar anak selama masa pendemi Covid-19 ini tetap berada di rumah.

"Yang jelas stay at home, jelas tidak diperkenankan keluar rumah ketika tidak diperlukan sama sekali," katanya.

Jika ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan berkegiatan diluar rumah hendaknya orang tua menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Kalau keluar rumah pun harus menerapkan protokol kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah. Pakai masker, untuk anak kita Diatas usia dua tahun," katanya.

"Masker plus face shield lebih melindungi lagi dan cakupannya lebih besar. Masker plus faceshield itu," katanya.

Andreas tidak menganjurkan penggunaan masker bagi anak usia dibawah 2 tahun, namun ia menyarankan untuk menggunakan penutup di kereta dorong saat harus keluar rumah.

"Atau pilihan kedua, tas anti Covid-19 dibawa yang isinya handsanitizer, dan untuk bersih- bersihnya," katanya.

Kasus anak yang tertular Covid-19 di Indonesia dikatakannya cukup tinggi, bahkan tertinggi di Asia. Maka ia berharap orang tua memperhatikan pelindungan kepada anaknya dari virus ini.

"Sekarang ini, mal dibuka anak dibawa ke mal, tapi tidak diperhatikan kalau anak juga harus dibawa imunisasi. Jadi protokol kesehatan anak sama dengan orang dewasa.

Namun, pilihannya untuk masker baru diberikan pada anak diatas 2 tahun," katanya.

Sementara itu, Psikolog anak dari TigaGenerasi, Saskhya Aulia Prima mengatakan, pentingnya perasaan bahagia bagi seorang anak.

Menurut Saskhya, selain menjaga fisik tetap bugar, perasaan bahagia juga dapat menunjang peningkatan sistem imun dan perkembangan otak anak.

"Situasi PSBB seperti sekarang, bahagia selain bisa meningkatkan imunitas, tapi juga perkembangan otak anak. Jadi anak bisa belajar, bisa bertumbuh, salah satu syaratnya, kalau anak usia dini dia harus bahagia," kata Saskhya.

Kemudian, kata dia, seorang anak juga mengalami perkembangan emosi dan sosial. Oleh karena itu, selama masa pandemi ini, orangtua memiliki tantangan untuk memastikan pertumbuhan anak tetap berjalan optimal. Sebab, anak yang sudah usia sekolah tetapi harus menjalaninya tugasnya dari rumah.

"Pada saat anak belajar di rumah, akhirnya orangtuanya punya tambahan peran baru, yang tadinya mungkin hanya sebagai orangtua, kemudian sebagai pekerja, tiba-tiba jadi guru," kata dia.

Oleh karena itu, anak merasakan situasi yang berbeda ketika diajarkan oleh orangtua.

Hal ini yang kemudian memerlukan perhatian khusus bagi orangtua dalam menjalankan peran baru tersebut. Sebab, interaksi anak dengan teman-temannya tidak dirasakan ketika belajar dari rumah.

"Kalau sekolah kan sudah punya rencana pembelajaran. Tapi interaksi yang kadang-kadang kurang, membuat bahagia atau membuat anak kurang termotivasi untuk belajar. Selain itu juga kalau di rumah motivasi anak belajar jadi beda," ucap Saskhya.

Ia menyarankan, bagi anak sebaiknya proses belajar lebih banyak dilakukan melalui aktivitas fisik secara langsung, daripada melalui virtual.

"Anak usia dini butuh gerak fisik aktif 3-4 jam. Tapi sekarang lebih banyak di layar, aktivitas fisik terbatas. Jadi pengaruh ke tumbuh kembang tentu ada," ujar Saskhya.

Dalam situasi ini, Saskhya mengingatkan orangtua harus lebih berusaha mencarikan kegiatan fisik untuk dilakukan bersama anak.

"Memang untuk sosialisasi sendiri ini lebih menyenangkan atau lebih bertumbuh kembang ketika dia (anak) ketemu teman-teman sebaya berinteraksi langsung," tutur Saskhya.

Selain itu, kata dia, dengan mengimbangi asupan nutrisi bergizi yang seimbang dan memastikan anak beristirahat cukup, pertumbuhan anak tidak akan terganggu.(tribun network)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved