BNI Gelontorkan Klaster Kredit Usaha Rakyat Ternak di NTT
sejak penyebaran Covid-19 pada Maret 2020, Indonesia termasuk NTT menerapkan pembatasan sosial.
Penulis: Ryan Nong | Editor: Rosalina Woso
BNI Gelontorkan Klaster Kredit Usaha Rakyat Ternak di NTT
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Sebagai kota yang dijuluki “Kota Kasih”, Kupang memiliki sejarah panjang dengan peternakan. Peternakan sapi merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat.
Lukas Tefa, pria yang mengaku telah menjadi peternak selama 35 tahun menceritakan keluh kesahnya. Ia mengaku, sejak penyebaran Covid-19 pada Maret 2020, Indonesia termasuk NTT menerapkan pembatasan sosial. Hal ini berdampak pada lalu lintas perdagangan komoditas antar pulau, tak terkecuali sapi.
Dalam rilis yang diterima POS-KUPANG.COM dari BNI Cabang Kupang pada Minggu (19/7), Lukas yang penuh kebanggan dengan usaha yang digelutinya, namun, akhirnya merasakan kelesuan usaha dalam 4 bulan terakhir.
Hal itu membuat dirinya tak berpenghasilan dan tidak dapat menafkahi keluarga dari usaha peternakan yang biasa dijalankannya.
Lukas Tefa, peternak dari Desa Oinlasi dengan mata sayunya menceritakan bahwa “peternakan & penggemukan sapi merupakan mata pencaharian utama masyarakat di desa nya, termasuk di daerah lain di Kupang. Kami sangat bingung ternyata dampak Covid-19 ini sampai membuat pemberangkatan kapal dibatasi hingga ditutup. Otomatis ternak sapi kami tidak bisa dijual ke daerah tujuan”, keluhnya.
Keluhan yang sama juga dirasakan oleh ribuan peternak lainnya di Kupang dan daerah lain di NTT.
Jika daerah lain mendatangkan hingga mengimpor kebutuhan sapi, Kupang justru sebaliknya, mereka mengirim permintaan sapi ke berbagai daerah di Indonesia. Benar saja, kehidupan masyarakat NTT, khususnya Kupang sangat erat dengan peternakan sapi.
Hal ini bahkan sudah tercatat dalam sejarah bahwa sejak Tahun 1938 peternak dari NTT telah mengirim sapi ke Hong Kong sebanyak 3 ribu ekor.
Hal yang agaknya menjadi nilai historis dan istimewa bagi masyarakat dari kota tersebut sehingga memelihara dan beternak sapi memiliki keistimewaan tersendiri. Hal itu terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, hingga saat ini berfokus untuk memenuhi kebutuhan sapi dalam negeri.
DI Kupang dan daerah lain di NTT, peternakan sapi merupakan komoditas unggulan. Tercatat pada Tahun 2019 sebanyak 80.440 ekor sapi dikirim keluar daerah untuk memenuhi permintaan kebutuhan daging sapi nusantara dimana lebih dari separuhnya dipasok dari Kupang.
Untuk Tahun 2020 ini pemerintah telah melakukan evaluasi dengan target pengiriman sapi sebesar 54.000 ekor, hal ini disebabkan kondisi tol laut (pengiriman komoditas melalui jalur laut) yang belum sepenuhnya terbuka dan penuh dengan ketidakpastian sebagai upaya penekanan penyebaran wabah virus corona di tanah air.
Hal ini membuat peternak gusar akan nasib mereka, karena keluarga tetap membutuhkan nafkah dari hasil penjualan ternak.
Di tempat terpisah dengan jarak lebih dari 2 ribu kilometer jauhnya, melihat dunia peternakan sebagai hal yang menarik untuk ditekuni, Dr.Ir Sugeng Edy Waluyo,,MM.
Seorang akademisi dan Dosen mengangkat tema peternakan di Kupang sebagai Disertasi untuk memperoleh gelar pendidikan Doktor Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat UNS. Sebagai akademisi, kemudian beliau merangkap sebagai praktisi di dunia bisnis peternakan khususnya di NTT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bni-gelontorkan-klaster-kur-ternak-di-ntt.jpg)