Breaking News:

Ada Konsekuensi Hukum Bagi Pendaki yang Cabut Tanaman di Gunung

Publik Lembata khususnya para pecinta alam kembali dikejutkan dengan perilaku kerusakan lingkungan yang tak pantas. Sebuah foto seorang pendaki yang

istimewa
Foto pendaki gunung yang menjinjing tas platik berisi tanaman ini menuai kecaman dari para pencinta alam di Lembata. Foto ini pertama kali diunggah oleh akun Policarpus Bala di Facebook, Selasa (14/7/2020). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA-Publik Lembata khususnya para pecinta alam kembali dikejutkan dengan perilaku kerusakan lingkungan yang tak pantas. Sebuah foto seorang pendaki yang menjinjing tas plastik berisi tanaman beredar di linimasa Facebook.

Di dalam foto yang pertama kali diunggah pemilik akun Policarpus Bala tersebut, tampak pemuda tersebut berbaju kaos hitam yang membelakangi kamera sedang berjalan dalam rombongan pendaki lainnya.

Sontak saja, unggahan foto tersebut dikecam warganet yang geram karena perilaku mencabut tanaman di kawasan gunung tidak sesuai dengan etika pelestarian lingkungan. Diduga jenis tanaman yang dicabut itu adalah cantigi yang memang banyak tumbuh di area pegunungan.

Ditemui Rabu (15/7/2020), Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Kabupaten Lembata Linus Lawe mengaku baru saja mendapat informasi yang viral itu Rabu pagi. Dia langsung menggelar rapat terbatas bersama stafnya untuk mencari tahu identitas pendaki dan langkah selanjutnya yang akan ditempuh.

Menurut Linus, ada konsekuensi hukum terhadap perilaku pendaki yang seenaknya mencabut tanaman saat berada di puncak gunung karena kawasan itu juga masuk dalam kawasan hutan lindung. Pihaknya juga akan langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Kupang perihal jenis tanaman yang dicabut tersebut. Dijelaskannya, tanaman cantigi merupakan jenis tanaman yang dilindungi dan pengawasannya ada di bawah wewenang BKSDA.

"Ada regulasi khusus yang bicara tanaman cantigi, yang pasti perilaku itu tidak bisa. Apalagi itu masuk dalam kawasan hutan. Kewenangan untuk tanaman seperti itu ada pada BKSDA. Saya akan informasikan supaya mereka bisa ikuti dan koordinasi dengan mereka," ungkap Linus.

Lebih jauh, dia menjelaskan perlindungan terhadap cantigi sebagai hasil hutan bukan kayu tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 35 Tahun 2007. Tanaman dengan nama Latin Gaulsharia Fragantisisima merupakan penghasil minyak gandapura.

Tanaman ini masuk dalam daftar komoditi hasil hutan bukan kayu yang menjadi urusan Departemen Kehutanan. Regulasi yang menjadi pedoman pengawasan dan perlindungan tanaman itu, lanjut Linus, juga tertuang di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

"Jadi tidak boleh cabut tanaman atau kasi rusak. Lokasi itu harus kita jaga. Kalau tanaman itu dilindungi dan ada pemanfaatan tanpa mekanisme pasti ada sanksi," tambah Linus.

Halaman
12
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved