Minggu, 26 April 2026

Indonesia Siap Hadapi Ancaman China, Natuna Jadi Garis Terdepan di Laut China Selatan

Tensi tinggi Laut China Selatan atau LCS terus memanas seiring dengan terus adanya perkuatan militer China di LCS

Editor: Alfred Dama
KOMPAS.com/DOK TNI
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan | (Pangkogabwilhan I) Laksamana Madya (Laksdya) TNI Yudo Morgono menggelar apel pasukan intensitas operasi rutin TNI dalam pengamanan laut Natuna di pelabuhan Selat Lampa, Ranai Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pasukan yang terlibat yakni sekitar 600 personil dengan jumlah KRI yang ada sebanyak lima unit kapal. 

Indonesia Siap Hadapi Ancaman China, Natuna Jadi Garis Terdepan di Laut China Selatan

POS KUPANG.COM -- Tensi tinggi Laut China Selatan atau LCS terus memanas seiring dengan terus adanya perkuatan militer China di LCS

China mengklaim 80 persen wilayah LCS sehingga berkonflik dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia

Namun, Indonesia yang pernah diajak berdialog denan China dengan tegas menolak ajakan itu dengan alasan ZEE di Natula jelas milik Indonesia sehingga tidak perlu ada perundingan lagi

Sementara itu, Amerika juga menghadirkan armada kapal induk yang melakukan patroli yang memungkinkan kedua negara terlibat konflik milter yang serius

Negeri Tirai Bambu yang memilki armada militer besar ternyata tak ditakuti oleh Indonesia. 

 Indonesia dengan kekuaran dukungan seluruh rakyat Indonesia tak gentar dengan ancaman China bila menggunkan armada perang untuk memasuki wilayah Indonesia

Tak Lama Jadi Mantu Mantan Kapolri , Ayu Ting Ting Juga Sakit Hati Saat Enji Tak Akui Billqis

Sering Mengagungkan Arab Saudi, Ternyata WNI Diperlakukan Keji oleh Rakyat Raja Salman

 
Indonesia dan China kerap terlibat sengketa wilayah terkait Laut Natuna. Sejak 2016 hingga saat ini, persoalan tersebut muncul dan tenggelam silih berganti. 

Melansir The Sydney Morning Herald, Pulau Natuna menjadi garis depan dalam kontes untuk pengaruh dan kontrol jalur air strategis yang vital di Laut China Selatan.

Fiery Cross Reef
Fiery Cross Reef (PLA via Serambinews)

Indonesia, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Filipina semuanya memiliki hak atas laut ini di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

Taiwan juga mengklaim wilayah ini. Sementara China, berpegang di bawah kebijakan "sembilan garis putus-putus" (nine dash line), menganggap lebih dari 80% perairan ini adalah milik mereka.

Menurut prediksi yang dirilis 2015 lalu, wilayah ini menyumbang 12% dari tangkapan ikan global. Akan tetapi, masalahnya bukan hanya ikan saja.

Ini juga menyangkut soal tentang pulau-pulau kecil yang termiliterisasi dan kebebasan navigasi di perairan yang dilalui sepertiga pengiriman global setiap tahun.

Data yang dihimpun The Sydney Morning Herald menunjukkan, Departemen Luar Negeri AS memperkirakan pada 2019 terdapat cadangan minyak dan gas yang belum dimanfaatkan di Laut China Selatan senilai US$ 2,5 triliun.

Perkiraan lain dari Badan Informasi Energi AS, ada kemungkinan 11 miliar barel cadangan minyak dan 190 triliun kaki kubik gas alam.

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved